Breaking News:

Berita Riau

Semai 8 Ton Garam,Teknologi Modifikasi Cuaca Hujan Buatan Tahap II untuk Penanganan Karhutla di Riau

Skema Teknologi Modifikasi Cuaca yang sudah memasuki tahap II ini, tetap dilakukan petugas di lapangan, meski dalam suasana Hari Raya Idul Fitri

Penulis: Rizky Armanda | Editor: Nurul Qomariah
Tribun Pekanbaru/Doddy Vladimir
Petugas memasukkan garam ke dalam pesawat Casa 212 sebelum pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk hujan buatan beberapa waktu lalu. (Tribun Pekanbaru/Doddy Vladimir) 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Rekayasa hujan melalui Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di wilayah Provinsi Riau masih dilakukan.

Tim berasal dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), TNI AU, dan mitra kerja lainnya.

Skema TMC yang sudah memasuki tahap II ini, tetap dilakukan petugas di lapangan, meski dalam suasana Hari Raya Idul Fitri.

Sejak dimulainya operasi TMC pada 13 Mei lalu, hingga tanggal 24 Mei, telah dilakukan 10 sorti penerbangan dengan total bahan semai NaCl 8 ton atau 8.000 Kilogram di langit Bumi Lancang Kuning.

Artis India Kareena Kapoor Ikut Rayakan Idul Fitri, Sajikan Masakan Istimewa Buatan Suami, Apa Itu?

Ada Riwayat Asma dan Pakai Narkoba, Wanita Asal Kuansing Riau Jadi PDP Covid-19

Blak-blakan Menlu China Sebut Corona Bikin Hubungan dengan Amerika Ada di Fase Perang Dingin Baru

TMC berhasil menghasilkan hujan di wilayah Kota Pekanbaru, Siak, Kuala Kampar, Sei Pakning, Kandis dan Sedinginan.

"Sejak dimulainya operasi rekayasa hujan melalui TMC tanggal 14 Mei, hingga tanggal 24 Mei tercatat total volume air hujan secara kumulatif diperkirakan mencapai 33,1 juta m3," kata Direktur pengendalian Karhutla KLHK, Basar Manullang, dalam keterangan tertulisnya pada media, Senin (25/5/2020).

"Tim tetap bekerja di hari raya dengan melakukan satu sorti penerbangan. Adapun target penyemaian di Kabupaten Bengkalis, Siak dan Kepulauan Meranti, menghabiskan 800 kg garam NaCl," sebutnya lagi.

Dia memaparkan, rekayasa hujan buatan tetap dilakukan, karena dari rekomendasi BMKG dan BPPT, masih terdapat potensi awan hujan di atas wilayah langit Riau.

Jika pelaksanaan rekayasa hujan ditunda, maka jadwal pelaksanaan yang hanya 15 hari kerja, bisa bergeser lebih lama.

Sementara untuk wilayah kerja lainnya sudah menunggu, yakni di Provinsi Sumatera Selatan.

"Tim tetap bekerja demi merah putih. Sebagaimana arahan Ibu Menteri pada kami, rekayasa hujan ini sangat penting artinya guna membasahi gambut, mengisi kanal dan embung, karena sebentar lagi kita akan memasuki musim kering.”

“ Mudah-mudahan dengan upaya ini kita bisa mencegah kebakaran hutan dan lahan berskala besar" tuturnya.

Berdasarkan prediksi BMKG, musim panas diprediksi mencapai puncaknya pada periode Juni hingga Agustus 2020 ini.

Rekayasa hujan melalui TMC dilakukan KLHK karena melihat mayoritas Titik Pemantauan Tinggi Muka Air Tanah (TP-TMAT) lahan gambut di Provinsi Riau, telah menunjukkan pada level waspada.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved