Cegah Penularan Covid-19, Kafe di Korea Selatan Ini Lakukan Innovasi: Hadirkan Robot Barista

Tak hanya mengantar pesanan, robot itu juga turut memberikan pesan untuk pelanggan.

Capture Youtube
Ilustrasi robot. 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Pandemi Covid-19, membuat perekonomian mengalami kemerosotan.

Perekonomian mulai dipulihkan kembali dalam fase new normal.

//

Sejumlah pengusaha melakukan berbagai macam inovasi untuk untuk menghadapi new normal.

Inovasi yang dilakukan sekaligus guna mencegah penyebaran virus corona.

Seperti yang dilakukan pemilik kafe di Daejeon, Korea Selatan.

Robot Barista
Robot Barista (REUTERS/Kim Hong-Ji)

Perseteruan Dengan AS Sedang Panas-panasnya, China Malah Nyari Masalah Dengan India

Gara-gara Google Maps Pria Ini Mengaku Pernikahannya Hancur, Ia Lapor Polisi dengan Tuduhan Ini

Pengemis Pura-pura Tak Bisa Jalan, Saat Beraksi di Tengah Jalan Raya Lari Ketakutan Lihat TNI Lewat

Ia memanfaatkan robot sebagai pengganti barista untuk melayani para pelanggan.

Robot itu bisa melayani pelanggan dengan sopan dan cepat.

//
// <\/scr"+"ipt>"); // ]]>

Robot barista itu nampak begitu lancar dalam menjalankan tugasnya.

Tak hanya mengantar pesanan, robot itu juga turut memberikan pesan untuk pelanggan.

"Ini teh latte almond Rooibos Anda, silakan menikmati.

Ini akan terasa jauh lebih nikmat jika Anda mengaduknya," kata robot barista, seperti yang dikutip dari Reuters, Selasa (26/5/2020).

Pelanggan pun dapat mengambil minumannya dari atas nampan yang diletakkan di dalam perangkat komputer besar berbentuk kapsul putih berkilau.

Saat ini warga Korea Selatan tengah menjalani aturan baru menjaga jarak dalam kehidupan sehari-hari.

Warga Pelalawan yang Mudik Pakai Surat Keterangan dari Diskes, Siap-siap Dikarantina 14 Hari di GOR

Menkes Keluarkan Panduan New Normal, Mahfud: Besok New Normal Live dengan Cara Itu

Lihat Sosok Aneh Sedang Menyeberang, Kapolsek Banting Setir Hingga Tewaskan Balita dan Neneknya

Penggunaan robot sebagai pangganti barista ini merupakan ide yang menarik selama penerapan aturan baru tersebut.

Robot itu bahkan dapat membantu orang menerapkan jarak sosial di tempat umum.

Ia mampu memantau setiap pelanggan apakah sudah menerapkan jarak sosial dan fisik ketika berada di dalam kafe.

Robot Barista
Robot Barista (REUTERS/Kim Hong-Ji)

Kemampuan robot tersebut diungkapkan oleh Director of Research Vision Semicon sekaligus pengembang robot tersebut, Lee Dong-bae.

"Sistem kami tidak memerlukan interaksi dengan pelanggan mulai dari pemesanan hingga pengiriman,

Meja-meja disusun dengan jarak yang jarang untuk melancarkan pergerakan robot," ujarnya.

Diungkapkan oleh Lee Dong-bae, pemberian jarak tersebut tentunya juga sesuai dengan kampanye jarak sosial dan menjaga jarak fisik saat ini.

Robot barista itu dapat menyajikan 60 jenis kopi yang berbeda dan secara otomatis mengantarkannya ke pelanggan setelah selesai dibuat.

Robot itu bahkan dapat berkomunikasi dan mengirimkan data ke perangkat lain dan dibekali dengan teknologi navigasi otomatis untuk menghitung rute terbaik dalam mengantar kopi ke pelanggan.

Palanggan kafe tersebut juga mendukung penggunaan robot sebagai barista.

Ia menilai robot itu menyenangkan dan memudahkan pesanan.

"Robot itu menyenangkan dan mudah karena Anda tidak harus mengambil pesanan Anda," kata seorang pelanggan, Lee Chae-mi (23).

Kendati demikian, ia memiliki kekhawatiran tentang pasar kerja.

Banyak dari temannya yang melakukan kerja paruh waktu di kafe, dengan adanya robot ini mungkin akan menggantikan tugas manusia dalam bekerja.

Hal itu kemungkinan akan membuat teman-temannya menganggur.

Rencananya, Vision Semicon akan memasok robot barista di wilayah tersebut sekitar 30 kafe pada tahun ini.

Gencarnya rapid test di Korea Selatan sukses cegah lonjakan kasus baru positif corona
Gencarnya rapid test di Korea Selatan sukses cegah lonjakan kasus baru positif corona (AFP)

Strategi Korea Selatan Atasi Corona

Duta Besar Korea untuk Indonesia, Kim Chang-Beom, memaparkan rahasia Korea Selatan dalam menangani wabah virus corona tanpa melakukan lockdown maupun pembatasan transportasi, bahkan di kota Daegu sekalipun.

1. Pengetesan yang agresif

"Inilah inti dari pertarungan kami. Kami (Korea Selatan) bisa mengetes hingga 20.000 kasus per hari. Pada akhir Maret, kami telah melakukan 466.000 tes," ujarnya.

Luar biasanya, Korea Selatan hanya menggunakan PCR dengan sampel yang diambil secara swab, bukan rapid test seperti di Indonesia, karena PCR dinilai jauh lebih akurat dalam mengidentifikasikan infeksi.

Untuk meningkatkan kecepatan dan kenyamanan tes PCR, Korea Selatan mengadakan pengetesan drive through di mana seseorang diambil sampelnya dalam keadaan masih di dalam mobil.

Seluruh proses pengambilan sampel secara drive through hanya butuh waktu kurang dari 10 menit.

Keunggulan lainnya dari tes drive through adalah lokasinya tidak perlu didisinfeksi setiap saat.

2. Pelacakan yang menyeluruh dan sigap

Dalam melakukan pelacakan kontak, Korea Selatan mengandalkan teknologi, seperti sejarah transaksi kartu kredit, rekaman CCTV, aplikasi dan GPS.

Informasi yang relevan, seperti riwayat perjalanan orang yang terinfeksi, kemudian dibuka ke publik lewat pengumuman via pesan singkat, aplikasi dan secara online agar orang yang berkontak bisa menjalani pengetesan.

3. Perawatan pasien

Kim berkata bahwa pemerintah Korea Selatan menyadari bahwa pasien Covid-19 bisa tidak bergejala (asimptomatik).

Oleh sebab itu, deteksi dini dan perawatan intensive seawal mungkin menjadi kunci penting dalam upaya penanganan wabah.

Setelah terdeteksi, pasien dibagi menjadi empat tergantung gejalanya: ringan, menengah dan sangat parah.

Pasien dengan gejala ringan diakomodasi di 139 pusat perawatan yang mirip asrama, sementara pasien bergejala menengah ke atas dirawat di 69 rumah sakit khusus Covid-19.

4. Melibatkan publik secara aktif

Kim berkata bahwa transparansi pemerintah dan kepercayaan publik yang tinggi sangat menentukan keberhasilan upaya pencegahan, seperti social distancing.

Jika masyarakat memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap pemerintah, maka mereka akan mau bersikap bertanggung jawab dan rasional untuk kebaikan bersama.

Intinya, kata Kim, semakin transparan pemerintah, semakin tinggi kepercayaan publik.

"Sejak hari pertama, masyarakat Korea Selatan telah menunjukkan tanggung jawab sipil yang luar biasa.

Mungkin ini karena keterbukaan, transparansi informasi dan kecepatan perilisan data oleh pemerintah. Hal-hal ini membangun kepercayaan publik," ujarnya. (Tribunnewsmaker.com/ Listusista)

Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Tanpa Lockdown, Apa Rahasia Korea Selatan Sukses Tangani Corona?"

Editor: Firmauli Sihaloho
Sumber: TribunNewsmaker
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved