Virus Corona di Riau

Kasus Positif Covid-19 Awalnya Riwayat Perjalanan Pasien, Warga Riau Diingatkan Tak Ke Luar Daerah

Berakhirnya penerapan PSBB di Riau terjadi peningkatan pengurusan Surat Keterangan Kesehatan untuk ke luar daerah. Hal ini perlu diwaspadai warga Riau

Tangkapan layar Youtube Dikominfotik Riau
Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Riau, dr Indra Yopi 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Riau mengalami peningkatan pergerakan masyarakat yang keluar dari provinsi menuju ke daerah lain. Angka ini cukup jauh dibandingkan jumlah masyarakat yang masuk ke Riau, yang relatif stabil jumlahnya.

Juru Bicara (Jubir) Gugus Tugas Covid-19 Provinsi Riau, dr Indra Yovi mengatakan, hal tersebut dibuktikan dengan meningkatnya permintaan surat keterangan bepergian ataupun permintaan rapid test dan permintaan Polymerase chain Reaction (PCR) swab sebagai syarat bepergian.

"Ada peningkatan masyarakat Riau keluar daerah beberapa waktu belakangan. Hal ini ditandai dengan banyaknya permintaan surat keterangan bepergian atau rapid test di rumah sakit," kata Indra Yovie dalam keterangan persnya, Sabtu (30/5/2020).

Yovie menegaskan, sebaiknya masyarakat tetap bertahan untuk tidak keluar daerah, mengingat penularan yang paling tinggi terjadi setelah pasien melakukan perjalanan ke luar daerah dan terjangkit di daerah tersebut.

Gugus Tugas Ungkap 102 Daerah Bebas Covid-19 hingga 30 Mei, di Riau Ada 2 Kabupaten

Gadis 13 Tahun Positif Covid-19 di Riau, Tertular dari Wanita 45 Tahun, Bertambah 6 Total 117 Kasus

Duh, Bayi 9 Bulan Positif Covid-19, Diduga Tertular Ayah yang Baru Datang dari Kepulauan Riau

Masih Khawatir, Orangtua di Pekanbaru Riau Belum Rela Anaknya Bersekolah di Tengah Wabah Covid-19

"Kita harapkan masyarakat sebaiknya tetap bertahan untuk tidak berpergian. Kalau tidak terpaksa tidak usah bepergian, apalagi kalau sekedar ingin jalan-jalan lalu melakukan swab, itu sama sekali tidak boleh," ujarnya.

Sementara itu, jumlah kasus per 30 Mei 2020 tersebut adalah 0 atau nihil kasus tanpa ada penambahan. Sehingga jumlahnya tetap menjadi 117 orang, dengan rincian 26 dirawat, 85 sehat dan 6 orang meninggal.

Ia menambahkan, adanya kesalahpahaman yang terjadi di daerah kabupaten kota dalam mendefinisikan new normal, dimana sebagian daerah menganggap new normal adalah kembali seperti sebelum Covid-19.

"Ada sebagian daerah yang menganggap bahwa kalau new normal itu berarti kembali seperti sebelum Covid-19, itu merupakan suatu hal yang keliru. Padahal new normal merupakan upaya yang harus lebih meningkatkan kewaspadaan, kedisiplinan dan tanggung jawab kita akan protokol kesehatan, dan lebih dari sebelumnya," paparnya.

Padahal dikatakan Yovie, penerapan protokol kesehatan bukanlah sesuatu yang sulit dilakukan karena masyarakat cukup membiasakan diri untuk menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak atau social distance dan menjauhi kerumunan. (Tribunpekanbaru.com/Alexander)

Penulis: Alex
Editor: CandraDani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved