Breaking News:

Latah Istilah di Masa Bencana

PANDEMI corona virus disease 2019 atau yang dikenal juga dengan Covid-19 memang bencana besar bagi kehidupan manusia di era modern ini.

Penulis: Hendra Efivanias | Editor: M Iqbal
Freepik
ILUSTRASI Virus Corona 

PANDEMI corona virus disease 2019 atau yang dikenal juga dengan Covid-19 memang bencana besar bagi kehidupan manusia di era modern ini. Hingga kini, ratusan ribu nyawa meninggal dunia. Hampir tak ada negara yang bebas dari virus yang muasalnya dari Kota Wuhan, Tiongkok.

Berbagai istilah yang diucapkan dengan bahasa asing pun bermunculan. Di awal pandemi mulai merebak di Indonesia, publik mulai diakrabkan dengan social distancing yang kemudian diperjelas  lewat kalimat physical distancing. Para pejabat negara memakai istilah ini dalam berbagai perkataannya berkenaan Covid-19.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Virus Corona, Achmad Yurianto hampir dalam setiap pernyataan persnya tak lupa menyebatkan imbauan pada masyarakat agar menerapkan physical distancing. Istilah ini semakin akrab di telinga. Apalagi para wartawan mengutip istilah itu dan media massa memuatnya.

Setelah ratusan korban Covid-19 berjatuhan di tanah air, orang-orang, mulai dari awam hingga pesohor mulai mengusulkan pada pemerintah untuk menerapkan lockdown. Istilah asing lagi yang ditenarkan untuk menegaskan upaya pencegahan penyebaran virus.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) tak ketinggalan. Usai meninjau pembangunan rumah sakit darurat Covid-19 di Pulau Galang, Batam, Kepulauan Riau, Rabu (1/4) lalu, Jokowi menyebut lockdown tak menjadi pilihan karena akan mengganggu perekonomian (Kompas.com 2 April 2020).

Pemerintah lebih memilih menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Terlepas dari berhasil atau tidaknya penerapan PSBB, pemerintah patut diapresiasi karena menggunakan istilah  berbahasa Indonesia.

Kini, setelah sejumlah daerah menerapkan PSBB, pemerintah kembali menggaungkan istilah asing lain terkait Covid-19. Istilah itu yang kita tahu sebagai new normal. Seperti dikutip dari pemberitaan Kompas.com, Rabu (20/5/2020), Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmita mengatakan, new normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal. Namun, perubahan ini ditambah dengan menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19.

Presiden juga berkali-kali menyebut istilah ini dan melakukan aktivitas persiapan penerapan new normal. Di antaranya meninjau kesiapan Stasiun Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta hingga mengunjungi mal Summarecon Bekasi, Selasa (26/5).

Di rentang masa bencana Covid-19, masyarakat Indonesia juga diperhadapkan dengan “bencana”  penyerta, yaitu latah melafalkan istilah asing. Istilah yang tertulis di atas hanya sebagian di antaranya. Selain itu, kita juga diperdengarkan dengan istilah hand sanitizer, herd immunity hingga flattening the curve.

Di koran, media dalam jaringan (Daring), radio dan televisi, para wartawan kerap mengutip istilah asing itu. Para pesohor di media sosial juga latah memakainya. Akhirnya, istilah asing terkait Covid-19 sudah sangat akrab di telinga kita. Seakan-akan menjadi kewajaran baru di tengah bombardir bahasa Inggris dalam dunia tutur kita.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved