Tolak Sekolah Buka Saat New Normal & Ingatkan Herd Immunity, IDAI: 1 Juta Anak Bisa Meninggal

Ketua Umum IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), dokter Aman B Pulungan tidak setuju dengan penerapan New Normal di sekolah.

TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
ILUSTRASI aturan baru di sekolah, di tengah wabah virus corona ---- Siswa sekolah dasar negeri 002 Ranai melakukan aktivitas belajar menggunakan masker di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, Indonesia, Selasa (4/2/2020). Proses belajar mengajar kembali berlangsung setelah sebelumnya sempat akan diliburkan selama 14 hari terkait lokasi observasi WNI dari Wuhan, China yang berada di Natuna. 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Indonesia telah memasuki era New Normal.

Akitivitas warga kembali berjalan dengan tetap menjalankan protokol Pandemi Covid-19.

Namun yang menjadi perbincangan ialah pembukaan sekolah pada masa New Normal ini.

Ketua Umum IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), dokter Aman B Pulungan tidak setuju dengan penerapan New Normal di sekolah.

Hal itu diketahui melalui channel YouTube tvOneNews pada Selasa (2/6/2020), dokter Aman B Pulungan meminta agar semua pihak bersabar.

Sekolah bisa dibuka jika kurva penyebaran Virus Corona sudah menurun.

Siswa belajar dari rumah didampingi orangtua, Selasa (31/3/2020).
Siswa belajar dari rumah didampingi orangtua, Selasa (31/3/2020). (TRIBUNNEWS/HERUDIN)

Isteri George Floyd Menangis & Pegang Erat Tangan Putri Semata Wayangnya: Saya Ingin Keadilan

Inilah Foto Tanpa Busana Jennifer Aniston yang Dilelang Bantu Penanganan Covid-19, Ada 25 Foto Lain

Al Malik, Al Qudus, Ar Rahman, Ar Rahim Asmaul Husna dan Keutamaan Membacanya

//

"Kita didiklah anak kita di rumah dulu, kita tunggu sampai 2020 bersabarlah kita dulu."

"Sampai nanti pemeriksaannya cukup dan kami lihat kurva anak yang meninggal juga menurun," jelas dokter Aman.

Pasalnya, kurva pertambahan Virus Corona di Indonesia masih meningkat.

"Tiap minggu masih naik kurva anak yang meninggal tiap minggu masih naik kurva anak yang positif."

"PDP juga masih naik sekarang ya kan. Kami di hilir, kami yang merawat kami tahu jadinya," ujarnya keras.

//
// <\/scr"+"ipt>"); // ]]>

Lalu, ia menyinggung soal herd immunity.

Menurut dia, dari 60 juta anak setengahnya bisa terancam terkena Virus Corona.

Ashanty Marah, Niatnya Jual Rumah Rp30 Miliar Jadi Bahan Candaan Raffi Ahmad dan Atta Halilintar

Cek Ramalan Zodiak Besok Kamis 4 Juni 2020, Pisces Tentukan Prioritas, Scorpio Berambisi

Juragan Kulit Ditemukan Tewas di Gudang, Sejak Usahanya Ambruk Tak Pernah Pulang ke Rumah   

"Saya melihat kalau 60 juta anak ini masuk sekolah pada saat ini, kalau katanya lah belakangan ini trend teori herd immunity."

"Kalau 60 juta ini anak akan sekolah kalau kita mau mengambil ini herd immunity dibutuhkan 50 persen anak yang sakit," katanya.

Jika 30 anak sakit dan tingkat kematian Virus Corona di Indonesia rata-rata tiga hingga empat persen, maka ia memprediksi satu juta anak bisa meninggal karena Virus Corona.

"Jadi berarti 30 juta anak akan sakit, pertanyaan saya, anak siapa yang akan sakit 30 juta ini."

"Nah setelah dari 30 juta yang sakit kita ambil mortalitasnya angka kematian sekarang kita di Indonesia antara dua sampai lima persen, kita ambil angka 3 atau empat persen jadi akan ada satu juta yang meninggal," jelasnya.

Padahal, bagi dokter anak satu nyawapun sangat berharga.

"Saya tidak setuju, anak siapa yang akan meninggal, bagi kami dokter anak Indonesia, satu anak meninggalpun tidak boleh," ungkapnya.

Polres Pelalawan Riau Ringkus Bandar Sabu dan Dua Kaki Tangannya, Ini Barang Bukti yang Disita

Disebut Tak Berkoordinasi dengan Anies Soal Pandemi Covid-19, Luhut Binsar Angkat Bicara

Respon Tak Terduga Kaesang Pangarep Saat Wajahnya Disebut Tak Mirip Jokowi, Dibilang Mirip Sosok Ini

Lihat videonya berikut:

Muhadjir Effendy Peringatkan Jokowi soal New Normal di Sekolah

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy memberikan tanggapan terkait rencana penerapan New Normal, khususnya di sektor pendidikan.

Dilansir TribunWow.com, Muhadjir Effendy menyampaikan saran dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk benar-benar menggodok secara matang untuk penerapan New Normal di lingkup sekolah.

Hal ini disampaikan Muhadjir Effendy dalam tayangan Youtube KompasTV, Jumat (29/5/2020).

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti pelajaran di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Sunter Agung 09, Jakarta Utara, Rabu (4/3/2020). Seluruh siswa SDN Sunter Agung 09 dihimbau mengenakan masker oleh pihak kepala sekolah karena penyebaran virus corona sekaligus mengurangi resiko tertular. Tribunnews/Jeprima
Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti pelajaran di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Sunter Agung 09, Jakarta Utara, Rabu (4/3/2020). Seluruh siswa SDN Sunter Agung 09 dihimbau mengenakan masker oleh pihak kepala sekolah karena penyebaran virus corona sekaligus mengurangi resiko tertular. Tribunnews/Jeprima (Tribunnews/JEPRIMA)

Dirinya mengatakan Presiden Jokowi tidak ingin penerapan New Normal di sekolah diterapkan secara grusa-grusu.

"Untuk pengurangan pembatasan di sektor pendidikan akan kita godok dulu semateng mungkin," ujar Muhadjir Effendy.

"Jadi Pak Presiden wanti-wanti untuk tidak grusa-grusu," imbuhnya.

Sependapat dengan saran presiden, Muhadjir Effendy menilai untuk sektor pendidikan memang harus mendapatkan perhatian khusus.

Ia menilai untuk penerapan New Normal di sekolah masih sangat berisiko jika dilakukan dalam waktu dekat.

Menurutnya, protokol keselamatan di sekolah berbeda kondisinya dengan sektor umum lainnya.

Terlebih yang dihadapi adalah anak-anak.

"Risikonya terlalu besar untuk sektor pendidikan," jelasnya.

Maka dari itu untuk mengantisipasi terjadinya risiko tersebut, pemerintah bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan masih terus mengkaji kemungkinan tersebut.

Karena seperti yang diketahui jika mengacu pada kalender pendidikan Indonesia, sekolah akan memasuki ajaran baru pada 13 Juli 2020.

Dirinya tidak ingin, sekolah justru menjadi klaster baru penyebaran Virus Corona.

Selain berdampak buruk pada siswa, pemerintah juga akan mendapatkan sorotan buruk.

"Dan kalau nanti salah kelola itu bisa menjadi klaster baru dan kalau menjadi klaster baru nanti citranya nanti kurang bagus atau bahkan membahayakan karena ini menyangkut anak-anak," pungkasnya.

Simak videonya:

(TribunWow.com/Mariah Gipty/Elfan Fajar)

Editor: Firmauli Sihaloho
Sumber: TribunWow.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved