Breaking News:

Dilema New Normal di Riau

Aliansi Mahasiswa Kesehatan Riau Ingatkan Masyarakat Selalu Hidup Bersih Saat New Normal

Sandika juga mengajak kepada seluruh masyarakat di provinsi Riau untuk tetap tenang dan waspada serta lakukan Social Distancing maupun Physical Distan

Tribun Pekanbaru/Istimewa
Aliansi Mahasiswa Kesehatan Riau Ingatkan Masyarakat Selalu Hidup Bersih Saat New Normal. Foto: Sandika Syaputra. 

"Teman saya ada yang uji swab, ambil cairan di tenggorokan, dia sempat demam seminggu, apa karena takut dan sakit,"ujar Iskandar Husein.

Sehingga Iskandar Husein mengurungkan niatnya untuk berangkat ke Jakarta, padahal menurutnya urusannya ke Jakarta juga penting.

Sebagaimana diketahui, Pemerintah Provinsi Riau menjadi daerah yang menunjukkan trend positif dalam upaya penanggulangan covid-19, karena sudah tidak ada temuan kasus batu dan pasien yang positif juga sudah banyak yang sembuh dan pulang ke rumah.

Maka untuk mempertahankan ini, dua Minggu kedepan harus ada pembatasan orang untuk masuk dan keluar dari Riau, sehingga tidak ada lagi penularan baru kasus positif, terutama dari daerah yang menjadi episentrum covid-19 seperti Jakarta dan kota lainnya di Pulau Jawa.

"Dua Minggu ini menjadi titik kritis, kita ingin pertahankan itu, agar jangan sampai banyak keluar masuk dulu orang dari Riau," ujar Dirut Rumah Sakit Umum Daerah Arifin Achmad (RSUD-AA) Nuzelly Husnedi kepada tribunpekanbaru.com.

Makanya sebagai upaya untuk membatasi keluar masuk masyarakat ke Riau tersebut, Pemerintah mempersulit untuk pembuatan surat keterangan yang salahsatunya harus memiliki hasil swab negatif.

Dimana pemerintah melalui RSUD - AA menerapkan tarif hingga Rp1,7 juta sekali uji swab yang tujuannya agar masyarakat tidak mudah mendapatkan surat izin untuk bisa bepergian tersebut.

"Kita mempersulit agar tidak terjadi keluar masuk orang di Riau selama masa kritis ini, intinya sangat terpaksa baru berangkat ke Jakarta, karena di sana daerah episentrum," ujarnya.

Nuzelly menambahkan, tujuannya memberlakukan tarif Rp1,7 juta itu bukan bertujuan untuk komersialisasi karena mengharapkan untuk keuangan Rumah Sakit, melainkan hanya semata-mata mempersulit.

"Malah kita berharap jangan ada. Biar tidak ada transmisi lagi di lokal, karena kan sampai saat ini cuma dua penularan dari Magetan dan Sukabumi transmisi dari luar yang sebelumnya," ujar Nuzelly.

Dilema New Normal di Riau - Tribunpekanbaru.com / Nasuha Nasution.

Penulis: Nasuha Nasution
Editor: Nolpitos Hendri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved