Breaking News:

Dilema New Normal di Riau

BREAKING NEWS: Perantau Masih Urung Kembali ke Pekanbaru Saat New Normal, Swab Test Jadi Kendala

"Pihak kampus sudah panggil untuk masuk lagi bekerja, cuma belum berangkat karena banyak pertimbangan termasuk harus uji swab," ujar Ilka Sawidri.

Penulis: Nasuha Nasution | Editor: Nolpitos Hendri
Tribun Pekanbaru/Ilustrasi/Nolpitos Hendri
BREAKING NEWS: Perantau Masih Urung Kembali ke Pekanbaru Saat New Normal, Swab Test Jadi Kendala 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Pemerintah Provinsi Riau memperketat akses keluar masuk warga Riau dengan memberlakukan harus mengantongi Surat Izin Keluar Masuk (SIKM) yang diantaranya harus bebas covid-19.

Ini dibuktikan dengan hasil uji swab di Rumah Sakit Umum Daerah Arifin Achmad (RSUD-AA).

Kebijakan ini dilakukan sebagai upaya untuk membatasi akses keluar masuk masyarakat selama masa penerapan new normal ini, sehingga tidak banyak warga yang datang maupun pergi dari Riau.

Hanya saja, seiring dengan diberlakukannya penerapan new normal, aktivitas sejumlah masyarakat mulai kembali seperti semula, termasuk perkantoran dan bisnis hingga perguruan tinggi.

Ilka Sawidri misalnya warga Rokan Hulu ini sudah dipanggil tempatnya bekerja di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta agar kembali bekerja, hanya saja ia masih khawatir untuk bepergian dan masih menunggu kondisi lebih normal lagi.

Alasan lain yang mengurungkan niat Illa untuk berangkat, adanya kewajiban menjalani uji swab, tentunya selain mengeluarkan biaya harus meluangkan waktu juga dalam pengurusan.

"Pihak kampus sudah panggil untuk masuk lagi bekerja, cuma belum berangkat karena banyak pertimbangan termasuk harus uji swab," ujar Ilka Sawidri.

BREAKING NEWS: Perantau Masih Urung Kembali ke Pekanbaru Saat New Normal, Swab Test Jadi Kendala
BREAKING NEWS: Perantau Masih Urung Kembali ke Pekanbaru Saat New Normal, Swab Test Jadi Kendala (Tribun Pekanbaru/Ilustrasi/Nolpitos Hendri)

Ilka sendiri mengaku masih khawatir, meskipun kondisinya sudah mulai normal di Jakarta, hal ini disebabkan karena virus yang mematikan itu tidak bisa dilihat langsung secara kasat mata.

"Kita tidak tahu nanti yang duduk di samping kita di pesawat ternyata orang yang tanpa gejala, dan di bandara juga,"ujarnya.

Ditambah lagi untuk biaya uji swab itu sendiri mereka harus bayar secara mandiri, perusahaan atau lembaga tempat mereka bekerja tidak membayarkan.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved