Breaking News:

STORY

Kisah Sekolah Marjinal Dusun Datai, Perjuangan Agar Anak-anak Pedalaman TNBT Raih Pendidikan(Part I)

Dulu tidak ada penduduk di dusun tersebut yang mampu membaca dan hanya satu orang yang mampu menulis, itupun hanya menulis namanya saja.

Penulis: Bynton Simanungkalit | Editor: Ariestia
Istimewa
Anak-anak Talang Mamak di pedalaman TNBT belajar di Sangar Belajar Sadan yang didirikan oleh PKHS bersama dengan masyarakat. 

TRIBUNPEKANBARU.COM, RENGAT - Masih jelas membekas dalam ingatan Muhammad Yunus, koordinator Pusat Konservasi Harimau Sumatera (PKHS) ketika pertama kali ia menginjakan kaki di Dusun Datai, Desa Rantau Langsat, Kecamatan Batang Gansal, Inhu pada tahun 1999 lalu.

Satu hal yang diingatnya bahwa tidak ada penduduk di dusun tersebut yang mampu membaca dan hanya satu orang yang mampu menulis, itupun hanya menulis namanya saja.

Ketika itu waga Dusun Datai hanya mengenal tiga mata uang, yakni uang kertas seratus Rupiah berwarna merah, uang kertas lima ratus Rupiah bergambar orangutan, dan uang kertas lima ribu Rupiah.

Tingkat pendidikan masyarakat di dusun tersebut hingga awal tahun 2000an masih sangat rendah.

Prihatin akan kondisi mereka, Muhammad Yunus dan rekan-rekannya di PKHS bekerjasama membangun sanggar belajar di Datai pada tahun 2004 yang akhirnya menjadi pemantik pelita pendidikan bagi mereka, suku pedalaman.

Setelah 16 tahun merintis pendidikan di pedalaman Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT), PKHS kembali menginisiasi pembentukan Yayasan Pelita Talang Mamak untuk melanjutkan estafet perjuangan pendidikan anak-anak di pedalaman TNBT.

Petugas PKHS mengilir (pulang) dari Dusun Datai dengan menggunakan rakit ke pusat Desa Rantau Langsat selama dua hari satu malam menyusuri Sungai Gansal.
Petugas PKHS mengilir (pulang) dari Dusun Datai dengan menggunakan rakit ke pusat Desa Rantau Langsat selama dua hari satu malam menyusuri Sungai Gansal. (Istimewa)

Kembali ke tahun 1999, relawan PKHS tiba di Dusun Datai setelah menyusuri Sungai Batang Gansal selama dua hari satu malam dengan menggunakan perahu.

Dusun Datai merupakan dusun yang paling terpencil di TNBT karena letaknya yang sangat jauh dari pusat desa serta akses menuju dusun tersebut juga sangat sulit.

Ketika itu hanya ada dua alternatif cara untuk bisa sampai ke Dusun Datai, yakni berjalan kaki di kedalaman hutan yang butuh waktu berhari-hari, atau menyusuri sungai dengan sampan.

Namun kini, untuk masuk ke dusun tersebut bisa menggunakan kendaraan bermotor melewati jalan darat dari perbatasan Keritang, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil).

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved