Restrukturisasi Kredit di Riau Capai Rp 9,31 Triliun

hingga 8 Juni 2020, angka restrukturisasi kredit perbankan yang mencapai Rp9,31 triliun tersebut berasal dari 92.319 debitur di Riau

KONTAN
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU -- Restrukturisasi kredit dan pembiayaan perbankan serta perusahaan pembiayaan di Provinsi Riau terus meningkat.

Berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Riau, jumlahnya kini mencapai Rp9,31 triliun.

Kepala OJK Provinsi Riau, Yusri mengatakan, hingga 8 Juni 2020, angka restrukturisasi kredit perbankan yang mencapai Rp9,31 triliun tersebut berasal dari 92.319 debitur di Riau, yang tersebar di masing-masing daerah.

Diakui Yusri, berdasarkan monitoring data mingguan, pertumbuhan nilai dan jumlah debitur cenderung melambat.

Namun pihaknya terus mendorong mulai bergeraknya kembali sektor riil dalam era adaptasi kebiasaan baru atau new normal menuju masyarakat produktif dan aman dari Covid-19.

"Proses ini ditunjang stabilitas sektor jasa keuangan yang terjaga, dengan kinerja intermediasi yang positif dan profil risiko tetap terkendali. Kami mendukung langkah pemerintah yang menempatkan uang negara kepada bank umum dalam rangka percepatan pemulihan ekonomi nasional," kata Yusri, Sabtu (27/6/2020).

Hingga 19 Juni 2020, dikatakan Yusri pihaknya mencatat sebanyak 72 perusahaan pembiayaan sudah menjalankan restrukturisasi pinjaman.

Realisasinya, dari 104.060 jumlah kontrak permohonan restrukturisasi yang diterima perusahaan pembiayaan, sudah ada 90.312 yang disetujui, dengan total nilainya mencapai Rp3,18 triliun.

"Sedangkan pada April 2020 pertumbuhan kredit perbankan di Provinsi Riau adalah sebesar 4,36 persen year on year (yoy). Untuk piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan tumbuh sebesar 34,79 persen year to date (ytd). Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tumbuh sebesar 7,70 persen yoy," jelasnya.

Sementara itu, untuk profil risiko lembaga jasa keuangan April 2020 dikatakannya masih terjaga pada level yang terkendali, dengan rasio NPL gross perbankan tercatat sebesar 3,15 persen. Sedangkan rasio NPF Perusahaan Pembiayaan sebesar 4,06 persen.

"Kami juga akan menyiapkan protokol adaptasi kebiasaan baru yang akan berlaku bagi seluruh Industri Jasa Keuangan. Sehingga diharapkan layanan terhadap masyarakat dapat dilakukan dengan tetap meminimalkan potensi penyebaran Covid-19," tuturnya.

(Tribunpekanbaru.com/Alexander)

Penulis: Alex
Editor: Sesri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved