Breaking News:

Siak

Ketua DPRD Siak Kecewa Atap Kantornya Bocor, Padahal Baru Direhab dengan Dana Rp 5,8 Miliar

Kondisi ini membuat Ketua DPRD Siak H Azmi SE geleng-geleng kepala.ebocoran terlihat saat musim hujan air merembes ke plafon dan bercucuran ke lantai.

TribunPekanbaru/MayonalPutra
ILUSTRASI - Salah satu ruangan di kantor DPRD Siak 

TRIBUNPEKANBARU.COM, SIAK - Gedung DPRD Siak mulai mengalami kebocoran. Padahal, gedung itu belum setahun usai direnovasi dengan anggaran Rp 5,8 miliar.

Kebocoran terlihat saat musim hujan air merembes ke plafon dan bercucuran ke lantai.

Kondisi ini membuat Ketua DPRD Siak H Azmi SE geleng-geleng kepala.

"Ya kita sudah tahu itu, bahwa ada atap yang bocor hingga merembet ke plafon dan lantai. Sebenarnya ini tidak wajar sebab belum lama usai direnovasi," kata Azmi kepada Tribunpekanbaru.com, Jumat (17/7/2020).

Ia juga mengatakan kekecewaannya atas kejadian itu.

Sebab, anggaran daerah habis Rp 5,8 miliar tetapi hasilnya memprihatinkan. Ia menduga pengerjaan renovasi gedung Panglima Ghimbam itu tidak profesional.

Hendak Diantar ke Pekanbaru, 3 Truk yang Angkut Ribuan Karung Bawang Ilegal Diamankan Polres Siak

Door to Door Kunjungi Konstituen, Ketua DPRD Siak Tetap Reses di Tengah Pandemi Covid-19

Galang Dana Pemkab dan DPRD Siak, Bupati Alfedri Salurkan 1.400 Paket Sembako untuk ODP Covid-19

"Kalau kejadiannya seperti saat ini tentu wajar kita sebut pengerjaannya tidak profesional dan kualitasnya rendahan," kata Azmi.

Azmi meminta agar Pemkab Siak mempertimbangkan perusahaan pemenang tender untuk proyek lain di Siak ini ke depan.

Karena hasil kerja perusahaan itu bukan sekadar tidak memuaskan namun mengecewakan.

"Ya kita kecewa berat melihat kondisi saat ini. ULP Siak harus evaluasi itu perusahaan pemenang tendernya," kata Azmi lagi.

Awalnya renovasi gedung DPRD Siak dengan nilai Rp 5,8 miliar itu mendapat sorotan publik.

Pagu anggaran Rp6,1 miliar dan pemenangnya kontraktor yang menawarkan Rp5,8 miliar. Sedangkan penawaran yang terendah dari kontraktor lainnya Rp4,9 miliar.

Sedikitnya, margin Rp900 juta antara penawaran terendah dengan pemenang proyek. Margin tersebut sekitar 10-15 persen antara pemenang dan penawaran terendah.

"Kita tidak bisa membiarkan saja kondisi ini. Kita sendiri juga akan membahas ini dengan Sekwan," kata dia.

( Tribunpekanbaru.com/mayonal putra)

Penulis: Mayonal Putra
Editor: Sesri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved