Breaking News:

FEATURE

KISAH dari Riau Perairan, Internet Sulit, Orangtua Tidak Punya Perangkat, Guru Datangi Rumah Siswa

"Karena keluarga murid kita tidak punya perangkat, murid jadinya kesulitan untuk belajar karena tidak ada medianya," ujar Syafrizal kepada tribun

Penulis: Teddy Tarigan | Editor: Nolpitos Hendri
Tribun Pekanbaru/Teddy Tarigan
KISAH dari Riau Perairan, Internet Sulit, Orangtua Tidak Punya Perangkat, Guru Datangi Rumah Siswa 

TRIBUNPEKANBARU.COM, MERANTI - Kegiatan belajar SD dan SMP sudah dimulai sejak 13 Juli 2020 yang lalu, sejumlah pertimbangan Pemkab Kepulauan Meranti telah menetapkan bahwa proses belajar dan mengajar tetap akan dilakukan dari rumah dengan sistem daring maupun luring.

Walaupun demikian regulasi tersebut ternyata mempengaruhi sebagian besar pelaksanaan proses belajar di daerah termuda di Riau tersebut.

Pasalnya masih banyak warga yang kesulitan untuk mendapat jaringan internet maupun warga yang tidak memiliki fasilitas pendukung untuk belajar dari rumah.

Seperti yang disampaikan Kepala Sekolah Luar Biasa (SLB) Sekar Meranti, Kecamatan Rangsang Barat, Syafrizal.

Dirinya mengaku bahwa selain sulitnya jaringan internet, keluarga murid-murid didiknya juga kesulitan karena tidak memiliki perangkat untuk belajar secara daring.

"Karena keluarga murid kita tidak punya perangkat, murid jadinya kesulitan untuk belajar karena tidak ada medianya," ujar Syafrizal kepada tribun Senin (20/7/2020).

Karena hal tersebut Syafrizal mengambil kebijakan bersama guru untuk langsung mendatangi rumah-rumah muridnya untuk mengajar langsung di rumah murid mereka.

"Jadi selam dua minggu ini kami sudah buat kebijakan bahwa selama aturan belajar dari rumah kami guru-guru yang akan mendatangi setiap rumah murid," ujar Syafrizal.

Syafrizal mengakui bahwa dengan metode seperti ini semakin menambah beban pekerjaan mereka para pendidik, mengingat mereka harus membagi setiap guru dan mendatangi setiap murid yang ada.

Selain menambah pekerjaan guru melakukan kunjungan, hal tersebut juga diakui Syafrizal membuat para guru harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk ongkos perjalanannya.

"Memang terbilang berat, tapi kita tidak persoalkan yang terpenting ini semua demi anak-anak bisa mendapat pelajaran secara efektif," tutur Syafrizal.

Dikatakan Syafrizal saat ini ada 9 guru yang mengajar di sekolah yang dipimpinnya, dimana 4 diantaranya berstatus sebagai tenaga honor yang sedang magang.

Sementara itu jumlah murid mereka ada 45 orang.

"Jadi kalau kita bagi ada 1 guru yang mendatangi 5 rumah murid setiap harinya. Setiap 1 murid yang diajar berkisar 45 menit. Sehingga kalau dimulai sejak pagi, saat siang para guru telah menyelesaikan pekerjaanya," ungkap Syafrizal.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved