Breaking News:

Kuansing

Periode Juni dan Juli, Harga Karet di Kuansing Riau Catatkan Kenaikan

Pada lelang Minggu malam (26/7/2020), harga karet dibandrol Rp 7.600 per kilogram. Harga ini naik Rp 145 per kilogram dibanding pekan lalu.

net
Ilustrasi 

TRIBUNPEKANBARU.COM, TELUK KUANTAN - Lelang karet di Kuansing pada Minggu malam (26/7/2020) menjadi penutup untuk periode Juli. Dengan hasil lelang saat itu, menegaskan harga karet di periode Juli ini terus mengalami kenaikan.

Pada lelang Minggu malam (26/7/2020), harga karet dibandrol Rp 7.600 per kilogram. Harga ini naik Rp 145 per kilogram dibanding pekan lalu.

"Alhamdulillah naik terus," kata ketua Asosiasi Petani Karet Kuantan Singingi (Apkarkusi) Sepriadi, Selasa (28/7/2020).

Sepanjang Juni dan Juli, harga penjualan karet dalam lelang terus mengalami kenaikan, walau bertahap. Harga saat ini memang belum bisa menyamai harga karet pada Maret lalu dimana saat itu Rp 9.000 - an per kilogram.

Kenaikan TBS Sawit Riau Pekan Ini Merupakan Persentase Tertinggi

Pada lelang Minggu (26/7/2020) tersebut, pemenang lelang dari perusahaan asal Sumbar. Ada sebanyak 46 ton karet yang terjual.

Sayang, harga Rp 7.600 per kilogram ini hanya saat lelang yang digelar sekali setiap pekan saja. Harga di toke-toke lokal, pastinya akan jauh dibawah harga lelang.

Sistem pelelangan ini sendiri dimulai sejak Juli tahun lalu. Seluruh pengurus kelompok tani/Unit Pengolahan dan Pemasaran BOKAR (UPPB)/gabungan kelompok tani (Gapoktan) yang melaksanakan pemasaran karet secara bersama bersama.

Melaksanakan pemasaran Bokar dengan sistem lelang secara bersama dan serentak dengan menetapkan satu pemenang lelang dan satu harga pada satu waktu dan satu tempat yang bersamaan. Penetapan harga bersama dengan perwakilan perusahaan.

Harga Emas Hari Ini Selasa 28 Juni 2020: Harga Emas Antam Melonjak Tajam, Tembus Angka Rp 1 Jutaan

Harga hasil penjualan dengan sistem lelang ini lebih tinggi dari harga dari toke-toke karet lokal di Kuansing. Walau demikian, 99 persen petani karet di Kuansing tidak mau bergabung dengan asosiasi dan mengikuti penjualan karet dengan sistem lelang.

Sejauh ini, 99 persen petani karet di Kuansing lebih memilih menjual ke toke-toke lokal hasil panen kebun karet. Sisanya, 1 persen, ikut sistem lelang yang diinisiasi Pemkab Kuansing.

Keengganan 99 persen petani karet tergabung dalam asosiasi dan mengikuti lelang, dikarenakan proses penjualan harus menunggu, yakni setiap akhir pekan. Di satu sisi, para petani karet butuh uang secepatnya. (Tribunpekanbaru.com / Palti Siahaan)

Penulis: Dian Maja Palti Siahaan
Editor: CandraDani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved