Breaking News:

Sudah Seharusnya Limbah Buah Nanas Dikembangkan Secara Serius

Selain itu, buah nanas dari Bumi Lancang Kuning juga sudah masuk ke pasar ekspor. Seperti dikirim ke Malaysia, Singapura dan negara lainnya.

Tribun Pekanbaru/Firmauli Sihaloho
Pedagang buah nanas di sepanjang Jalan Lintas Pekanbaru - Bangkinang, Jumat (7/8/2020). 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Di Riau, terdapat 5 daerah yang memproduksi buah nanas dari perkebunan warga. Mulai dari Kampar, Rohil, Siak, Inhu hingga Dumai.

Berdasarkan catatan Dinas Perindustrian Provinsi Riau, ada lima jenis produk turunan dari perkebunan itu. Seperti keripik, selai, sirup, dodol dan minuman kaleng.

Selain itu, buah nanas dari Bumi Lancang Kuning juga sudah masuk ke pasar ekspor. Seperti dikirim ke Malaysia, Singapura dan negara lainnya.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor buah nanas tergolong menjanjikan. Terhitung mulai tahun 2013 hingga 2018 ekspor nanas terus mengalami kenaikan. Ekspor nanas pada 2013 tercatat 174 ribu ton. Sementara pada 2018 terjadi kenaikan signifikan menjadi 229 ribu ton.

Meski begitu, ada satu bagian dari buah nanas yang luput dari perhatian. Ialah serat daun nanas yang bisa diolah menjadi kain berkualitas tinggi.

Innovasi itu dikembangkan secara serius di negeri eropa yang bisa dikatakan tidak memiliki perkebunan buah nanas yang luas. Sebab, tanaman ini rata-rata tumbuh baik di daerah tropis.

Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa, FAO menyebut Portugal merupakan negara satu-satunya di Eropa yang memproduksi buah nanas. Namun, volume produksi negara ini hanya berkisar ribuan ton saja.

Pinatex adalah salah satu contoh brand terkemuka yang fokus pada pengembangan serat daun nanas. Didirikan oleh disainer berkebangsaan Spanyol Carmen Hijosa, Pinatex sudah mengolah jutaan daun nanas dari perkebunan warga di Filipina.

“Pinatex adalah tekstil alami dan berkelanjutan yang terbuat dari daun nanas. Produksi Pinatex tidak hanya menawarkan alternatif terhadap penggunaan kulit, tetapi juga menciptakan peluang baru bagi negara-negara penghasil nanas. Tidak ada lahan tambahan, air, pupuk atau pestisida untuk memanennya. Daunnya diambil dari perkebunan setelah nanas dipanen, kemudian diproses secara mekanis sehingga menghasilkan kain yang tahan lama,” kata Carmen melansir vegworldmag.com.

Sementara untuk produk Pinatex, sudah lebih dari 1000 perusahaan mode di seluruh dunia menggunakan Pinatex. Seperti Hugo Boss, H&M, Hilton Hotel Bankside dan lainnya.

Halaman
1234
Penulis: Firmauli Sihaloho
Editor: Firmauli Sihaloho
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved