Terima Rusus Nelayan, Hasandri Kini Bisa Istirahat Lebih Tenang
Hasandri sangat bersyukur bisa tinggal di rumah tersebut. Apalagi, rumah itu dianggapnya jauh lebih layak dibanding tempat tinggalnya yang lama.
Penulis: Hendra Efivanias | Editor: M Iqbal
TRIBUNPEKANBARU.COM, SUNGAI APIT - Hasandri berbaring santai di ruang tamu rumahnya yang ada di komplek Rumah Khusus atau Rusus Nelayan Desa Teluk Batil Kecamatan Sungai Apit Kabupaten Siak, Riau, Jumat (7/8/2020). Kepalanya ditumpu bantal sementara badannya rebah di atas lantai berkeramik putih. Cuaca terik siang itu, ditambah bayu yang berhembus lembut dari arah laut memang mengundang kantuk.
Melihat kami menghampiri rumahnya, pria 60 tahun itu mengangkat tubuh lalu duduk bersandar pada dinding berlapis cat warna putih. Kami yang rikuh dipersilakannya duduk. Ramah sekali. Padahal itu pertamakalinya Hasandri bertemu dengan kami.
Di dalam rumah bertipe kopel itu, ada juga istri, anak, menantu, dan cucu perempuannya yang baru berusia dua bulan. Suasana terkesan ramai. Maklum, ruang tamu di rumah dengan luas lantai minimal 36 m2 itu menjadi sentral dari banyak aktivitas penghuninya. Agar lebih lega, kami memilih duduk di teras.
"Beginilah kondisinya. Memang rumah ini ada dua kamar, tapi rasanya tak cocok untuk keluarga besar," ujar Hasandri menanggapi pertanyaan kami. Menurutnya, rumah itu hanya ia huni bersama sang istri. Sementara anak, menantu dan cucunya tinggal di rumah lain yang tak jauh dari situ. Hari itu, kebetulan mereka sedang berkunjung.
Meski terlihat sempit, Hasandri sangat bersyukur bisa tinggal di rumah tersebut. Apalagi, rumah itu dianggapnya jauh lebih layak dibanding tempat tinggalnya yang lama. "Dulu, kami tinggal di rumah kayu yang sudah tak layak huni. Berdiri di atas lahan mertua saya," katanya.
Sehari-hari, Hasandri bekerja sebagai nelayan tradisional. Bermodal perahu kecil dan jaring, mereka mengadu keberuntungan di tengah lautan. Wilayah jelajah mereka terbatas karena kondisi perahu yang kurang memadai. Selain di perairan Sungai Apit, sesekali Hasandri mengarahkan perahunya ke perairan Pulau Padang, Kabupaten Kepulauan Meranti.
Sebagai nelayan kecil yang terbatas alat, hasil tangkapan Hasandri pun tak terlalu banyak. Biasanya ia menangkap ikan biang atau ikan lomek. Jika beruntung, sesekali jaringnya menangkap udang yang harga di pasaran cukup mahal. Tapi lebih sering penghasilan Hasandri hanya berkisar Rp300 ribu.
Sekali turun ke laut, setidaknya ia menghabiskan waktu dua hari satu malam. Sementara, kalau kondisi air laut sedang pasang seperti saat kami temui kemarin, ia memilih tak mencari ikan dan beristirahat di rumah.
Uang hasil penjualan ikan biasanya habis untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Karenanya, meski sudah puluhan tahun jadi nelayan, mustahil bagi Hasandri punya uang yang cukup untuk membangun rumah pribadi yang lebih layak huni.
Sebab itulah, saat rencana program Rusus Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Republik Indonesia hadir di desanya, Hasandri sangat senang. Terlebih saat Kepala Desa Teluk Batil, Asnor memasukkan namanya sebagai calon penerima Rusus.
Mimpinya punya rumah pribadi yang layak huni akhirnya terwujud. Sekitar Mei 2019, ia resmi menjadi penghuni Rusus Nelayan itu. "Program Rusus ini sangat membantu sekali. Apalagi kita tak mampu membuat rumah yang layak jika mengharap hasil melaut,” tuturnya sumringah.
Sepelemparan batu dari rumah Hasandri, tinggal pula Yudin bersama istri dan seorang anaknya. Dia juga bagian dari 25 kepala keluarga yang beruntung menerima Rusus Nelayan itu. Yudin menempati rumah berjenis kopel. Namun, ia sudah menambahkan bangunan non permanen yang dipakai menjadi dapur. Sehingga rumahnya terlihat lebih luas dibanding yang ditempati Hasandri.
Sebelum tinggal di sana, Yudin belum punya rumah sendiri. Ia dan keluarga tinggal di sebuah rumah dinas guru yang kebetulan tak ditempati. Penghasilan yang terbatas dari profesi nelayan membuat Yudin sulit mewujudkan mimpi memiliki rumah pribadi. Hasil melaut yang jumlahnya kurang lebih Rp300 ribu diutamakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
"Kalau tidak ada program ini, mungkin entah kapan kami bisa punya rumah sendiri. Makanya bersyukur sekali ada program Rusus. Nelayan seperti saya sangat terbantu," ujar Yudin.
Satu hal lagi yang membuatnya senang adalah proses pemilihan calon penerima yang tak sulit. Yudin mengaku tidak mendaftarkan diri jadi calon penerima. Tapi kepala desa langsung yang mendaftarkannya. Sampai penyerahan kunci rumah, segala urusan diatur oleh pemerintah desa.
Sementara itu, Kepala Desa Teluk Batil, Asnor pun senang desanya menjadi sasaran program pembangunan Rusus Kementerian PUPR melalaui Direktorat Jenderal Perumahan. Diakuinya, bantuan ini mengabulkan mimpi para nelayan kecil mendiami rumah pribadi dan nyaman.
"Kalau dilihat kondisinya, memang nelayan di sini sangat terbantu dengan adanya program Rusus. Setelah punya rumah pribadi yang kondisinya sangat layak, setidaknya mereka bisa istirahat lebih tenang sepulang melaut," kata Kepala Desa Teluk Batil Asnor, Selasa (11/8/2020).
Kebutuhan dasar
Sebanyak 25 unit Rusus Nelayan di Teluk Batil itu merupakan bagian dari 50.000 unit yang ditargetkan terbangun oleh Direktorat Jenderal Penyediaan Perumahan di rentang tahun 2015-2019. Dilansir dari situs perumahan.pu.go.id, rumah Yudin dan Hasandri masuk dalam 15.000 unit rumah yang ditargetkan terbangun di tahun 2019.
Dihitung mundur, tahun 2018, ditargetkan terbangun 12.680 unit. Lalu, 2017 targetnya 10.000 unit, dan 5.000 unit (2016), serta 7.320 unit (2015). Sehingga total target dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) mencapai 50.000 unit dengan dana yang dibutuhkan sebesar Rp12.4451.961.000.000.
Dilansir dari situs www.pu.go.id Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan bahwa Rusus adalah program Kementerian PUPR yang dibangun untu memenuhi kebutuhan khusus. Seperti nelayan, pemukiman kembali korban bencana/pengungsi, guru, tenaga medis, TNI/Polri dan petugas di daerah perbatasan dan pulau terpencil
Dimana, arah kebijakannya lebih pada memperluas akses terhadap tempat tinggal yang layak huni bagi kelompok masyarakat di kawasan yang dimaksud di atas. Termasuk 25 nelayan penerima Rusus di Desa Teluk Batil, nelayan Desa Laimeo di Sulawesi Tenggara, ASN Polri di Kabupaten Limapuluh Kota Sumatera Barat hingga masyarakat berpenghasilan rendah di Papua Barat.
Situs perumahan.pu.go.id juga memberi informasi bahwa rumah yang dibangun dilengkapi dengan Prasarana Sarana Utilitas (PSU) pendukung. Itulah sebabnya, penghuni Rusus Nelayan Desa Teluk Batil tak sekadar menerima rumah yang terbilang nyaman. Komplek itu juga dilengkapi dengan fasilitas drainase, jalan lingkungan, sambungan listrik, dan jaringan air bersih. Semuanya dibangun dengan bahan-bahan lokal.
Semua fasilitas itu jadi prioritas pembangunan Rusus. Dengan tujuan, program ini turut menciptakan kawasan perumahan permukiman yang lebih manusiawi dan memenuhi unsur/persyaratan kesehatan, efisiensi dan produktif.
Tiga masalah
Hanya saja, penyelenggara pembangunan perlu memperhatikan kondisi lingkungan lahan yang akan dibangun perumahan. Seperti Rusus Nelayan Teluk Batil, di hari-hari tertentu, air pasang menggenang hingga ke pekarangan rumah. Baik Yudin maupun Hasandri memaklumi kondisi alam ini. Namun, dampak genangan pada daya tahan bangunan juga perlu diperhitungkan.
Hal lain yang perlu dibenahi yaitu fasilitas air bersih yang belum maksimal. Warga Rusus saat ini bergantung pada sumur air tanah yang disedot mesin pompa. Karena dana yang terbatas, beberapa rumah tangga harus berkongsi untuk membeli pompa. Daya listrik yang mencapai 1.300 VA juga dianggap berlebihan dan membutuhkan biaya cukup besar.
Terlepas dari tiga masalah itu, baik Hasandri maupun Yudin bersepaham bahwa program Rusus sangat besar manfaatnya bagi mereka. Bagi orang Melayu, rumah bukan sekadar tempat bernaung. Budayawan cum akademisi Universitas Riau, Yusmar Yusuf dalam bukunya; Riau Sekuak Rentak (2000) bahkan menyebut rumah sebagai pusat dunia.
Tempat berdiam memiliki dimensi kebetahan. Feel at home istilah asingnya. Itulah "milik" yang mengimbau orang untuk melakukan gerakan pulang. Itulah pusat dunia manusia secara pribadi. Alhasil, setiap saat manusia merindukan pulang dalam sangkar alaminya bernama rumah dan Kementerian PUPR turut membantu mewujudkan rindu itu. (Tribunpekanbaru.com /Hendra Efivanias)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/rusus-nelayan-1.jpg)