Breaking News:

Catatan Muhammad Herwan

Balada Jelata Dihantam Corona, Jatuh dan Tertimpa Tangga

Virus Corona membuat rakyat kecil terjepit. Kondisi makin parah ketika penguasa dan negara memberlakukan aturan yang berdampak sanksi bagi mereka

Penulis: aries
Editor: rinalsagita
Tribunpekanbaru.com
Ilustrasi Virus Corona 

Apabila terjadi wabah penyakit, ditemukan 5 (lima) orang dan lebih dinyatakan positif menderita DBD atau Malaria misalnya,

Maka suatu daerah kabupaten/kota sudah bisa menetapkan status (siaga, darurat atau luar biasa, dan status lainnya, yang kami orang awam tak tahu persis istilah-istilahnya) sesuai dengan tingkat penyebaran dan jumlah korban.

Demikian juga untuk level provinsi jika terdapat 2 (dua) atau 3 (tiga) Kabupaten/Kota sudah menetapkan status daerah terhadap kejadian wabah ini, dapat menetapkan tingkatan status kejadian tersebut.

Begitu juga ketika terjadi bencana alam (banjir, tanah longsor, gunung meletus, gempa bumi atau asap dari kebakaran lahan dan hutan seperti yang terjadi di Riau).

Karenanya, adalah menjadi aneh dan patut dipertanyakan atau bahkan di gugat (class action) atas ketidak-jelasan kebijakan dan tindakan yang dilakukan oleh penguasa negara dan negeri ini terhadap penanganan pandemi Covid -19.

Penetapan PSBB (lock down) dilakukan setengah hati dan tidak diiringi dengan berbagai konsekwensi yang menjadi tanggungjawab pemerintah sebagaimana amanat Peraturan Perundang-undangan.

Celakanya, PSBB dilakukan dengan kacamata kuda. Grasa grusu, tanpa persiapan yang komprehensif, yang kembali berujung dengan penderitaan rakyat.

Sejatinya PSBB merupakan langkah tindakan pencegahan yang terbukti efektif, jika dilakukan dengan sungguh-sungguh dan pemerintah hadir untuk memberikan pengayoman dan pelayanan kepada rakyat sebagaimana amanah dan tanggungjawab yang diberikan konstitusi.

Namun pada kenyataannya, tindakan ini menjadi gagal tersebab pemerintah tidak siap dan tidak memperhitungkan fakta bahwa banyak rakyat miskin dan berpenghasilan rendah yang tidak bisa mengisolasi diri.

Rakyat yang bekerja di sektor informal dan tidak memiliki pekerjaan tetap, karena pekerjaan mereka tidak dapat dilakukan dari jarak jauh, mau tidak mau harus tetap keluar rumah untuk menafkahi dan memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangga.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved