Kamis, 23 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Wow!, Universitas Andalas Jadi Perguruan Tinggi Terbaik di Sumatera, Berikut Sejarahnya

Universitas Andalas menjadi perguruan tinggi terbaik di Sumatera pada tahun 2020 berdasarkan rilis dari Kemendikbud

Penulis: Guruh Budi Wibowo | Editor: Rinal Maradjo
tribunnews.com
Kampus Universitas Andalas di Limau Manis 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Indonesia memiliki banyak perguruan tinggi terbaik dan biasanya menjadi kampus yang paling diincar.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud) merilis daftar perguruan tinggi terbaik 2020.

Tahun ini, perguruan tinggi terbaik bukan ITB atau pun Unpad.

IPB ( Institut Pertanian Bogor) kali ini berada di urutan pertama.

tribunnews
KAMPUS IPB (WEB)

 

Selain itu, untuk di Pulau Sumatera, perguruan terbaik adalah Universitas Andalas, Padang.

Sedangkan unutk Sulawesi dan Indonesia Timur, Universitas Hasanuddin Sulawesi Selatan berada di peringkat pertama.

Lantas perguruan tinggi terbaik mana saja selain IPB?

Berikut ini daftar 15 perguruan tinggi terbaik versi Kemendikbud 2002.

1. Institut Pertanian Bogor ( IPB)

2. Universitas Indonesia

3. Universitas Gadjah Mada

4. Universitas Airlangga

5. Institut Teknologi Bandung ( ITB)

6. Institut Teknologi Sepuluh November

7. Universitas Hasanudin

8. Universitas Brawijaya

9. Universitas Diponegoro

10. Universitas Padjadjaran ( Unpad)

11. Universitas Sebelas Maret

12. Universitas Negeri Yogyakarta

13. Universitas Andalas

14. Universitas Sumatera Utara

15. Universitas Negeri Malang

Sejarah Universitas Andalas

Dilansir dari laman Unand.ac.id , Universitas Andalas adalah perguruan tinggi kebanggaan masyarakat Sumatera Barat.

Pendirian Universitas Andalas bukanlah datang secara tiba-tiba.

Hasrat masyarakat Sumatera Barat untuk mendirikan sebuah perguruan tinggi sudah tumbuh semenjak memasuki abad ke-20.

Hal itu dapat dipahami karena pada masa itu sudah muncul golongan intelektual dan cendekiawan yang peduli dengan pendidikan anak bangsa.

Namun, pemerintahan kolonial Belanda tidak memberi kesempatan sedikitpun untuk mewujudkannya.

Gagasan mendirikan perguruan tinggi di Sumatera Barat kembali mengemuka seiring dengan diproklamirkannya Kemerdekaan Indonesia oleh Ir.Soekarno dan Drs.Mohammad Hatta.

Para pemuka masyarakat Sumatera Barat merasakan bahwa kebutuhan generasi muda yang terdidik, sangat mendesak.

Merekalah yang diharapkan dapat mengisi kemerdekaan dan membawa kemajuan dan kejayaan bangsa di masa datang.

Akan tetapi, berhubung pada waktu itu dalam suasana Perang Kemerdekaan, menentang kedatangan bangsa Belanda yang hendak menjajah Indonesia kembali, maka hasrat itu terpendam lagi.

Keinginan itu akhirnya dapat diwujudkan pada tahun 1948 dengan mendirikan 6 (enam) akademi yang terdiri dari Akademi Pamong Praja, Akademi Pendidikan Jasmani, dan Akte A Bahasa Inggris, Akademi Kadet, dan Sekolah Inspektur Polisi.

Keenam akademi tersebut berada di Bukittinggi. Keberhasilan mendirikan enam akademi ini semakin memacu para pemuka masyarakat Sumatera Barat untuk mendirikan sebuah universitas.

Pada tahun 1949 pemerintah Indonesia merencanakan untuk mendirikan Fakultas Hukum di Padang, Fakultas Kedokteran di Medan dan Fakultas Ekonomi di Palembang.

Namun, karena berbagai keterbatasan yang dihadapi pada waktu itu, pemerintah Indonesia menunda untuk menyetujuinya.

Akibat penundaan ini, “Yayasan Sriwijaya” berinisiatif untuk mendirikan Balai Perguruan Tinggi Hukum Pancasila (BPTHP) di Padang pada tanggal 17 Agustus 1951.

Mengikuti langkah Yayasan Sriwijaya itu, kemudian pemerintah mendirikan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) di Batu Sangkar pada tanggal 23 Oktober 1954, Perguruan Tinggi Negeri Pertanian di Payakumbuh pada tanggal 30 November 1954,

Dan Fakultas Kedokteran serta Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Pengetahuan Alam di Bukittinggi pada tanggal 7 September 1955.

Keempat perguruan tinggi itu diresmikan oleh Wakil Presiden Drs. Mohammad Hatta.

Seiring dengan itu, Yayasan Sriwijaya juga menyerahkan BPTHP kepada Pemerintah Propinsi Sumatra Tengah.

Semenjak itu BPTHP berganti nama dengan Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat.

Kelima fakultas itu menjadi cikal bakal dalam mendirikan Universitas Andalas.

Oleh karena merupakan universitas yang pertama didirikan di Pulau Sumatera, maka Bung Hatta mengusulkan nama Universitas Andalas dengan merujuk kepada nama Pulau Sumatera yang waktu itu juga terkenal dengan Pulau Andalas.

Sungguhpun nama itu terkesan regional, namun keberadaannya itu tetap dalam kerangka Kebangsaaan Indonesia.

Hal itu jelas terbaca dalam piagam pendiriannya: “…guna mempertinggi ketjerdasan Bangsa Indonesia dalam arti jang seluas-luasnja dalam berbagai-bagai Ilmu Pengetahuan”.

Di samping itu, dalam lambangnya tertera pula kata: “Universitas Andalas Untuk Kedjayaan Bangsa”.

Pada tanggal 13 September 1956 Wakil Presiden Drs. Mohammad Hatta meresmikan pembukaan Universitas Andalas di Bukittinggi.

Pada tahun 1958, untuk pertama kalinya Unand mulai memetik hasil dengan lulusnya Mr. Rudito Rachmad sebagai Sarjana Hukum pertama.

Satu tahun berikutnya Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat mewisuda pula empat mahasiswanya, yaitu Mr. Herman Sihombing, Mr. Zawier Zienser, Mr. Eddy Ang Ze Siang, dan Mr. Djalaluddin Ilyas. ( Tribunpekanbaru.com )

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved