Breaking News:

Jangan Biarkan Kami Pakai Tenaga Diesel Itu Lagi

PLTS yang sudah tersebar di setiap Kabupaten dan Kota se Riau, baik bantuan Kementerian ESDM maupun dari APBD Provinsi.

Tribun Pekanbaru/Firmauli Sihaloho
Sejak 2015, Desa Muara Bio di Kampar sudah menggunakan PLTS sebagai sumber listrik berkat bantuan Kementerian ESDM. 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Permasalahan sumber daya energi listrik masih menghantui warga di Desa Muara Bio, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Keadaan alam desa yang berbukit dengan pepohonan menjulang tinggi serta berada di pinggiran Sungai Subayang, menjadi kendala utama sulitnya pembangunan infrastruktur kelistrikan.

Sebagai gantinya, Desa Muara Bio menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dengan iuran setiap bulannya sebesar Rp 70-150 ribu tergantung jenis peralatan listrik yang terpasang di rumah.

“Saya masih ingat itu bang, kalau pakai genset, cahaya lampu di rumah ini berkedip-kedip. Juga kalau kita menonton televisi, gambarnya itu tiba-tiba bisa meredup lalu terang lagi. Sepertinya aliran listriknya tidak stabil,” kata seorang warga, Pondri.

Atas kondisi itu, lanjutnya, banyak peralatan elektronik warga yang cepat rusak.

Tetapi, keluhan itu tidak dirasakan lagi oleh masyarakat sejak Desember 2015 lalu. Pasalnya, Desa Muara Bio mendapat bantuan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terpusat dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Dengan PLTS Terpusat 20 KWp ini, lebih dari 50 unit rumah sudah menikmati energi listrik yang stabil, ramah lingkungan dan terjangkau. Dengan batas pemakaian sebesar 500 Wh untuk setiap rumah setiap harinya, warga cukup membayar iuran sebesar Rp 40 ribu per bulannya untuk biaya operasional dan perawatan PLTS.

“Lalu pada tahun itu, saya ditunjuk desa sebagai operator PLTS dan dilatih oleh perwakilan Kementerian ESDM selama enam bulan di sini. Banyak hal dan pelajaran juga yang saya dapatkan”, kata Pondri kepada Tribunpekanbaru.com, Jumat (14/8/2020).

Namun, pada 28 April lalu, PLTS Muara Bio ini disambar petir hingga menyebabkan kerusakan. Akibatnya, listrik di desa itu padam selama 2 minggu.

Tidak tahu hendak mengadu kemana dengan kondisi jaringan telekomunikasi yang belum ada, suasana di desa itu gelap gulita di malam hari.

Selang beberapa minggu, Pondri dan warga mendapat bantuan dari seorang teknisi yang juga kerap mengunjungi desa di sepanjang Sungai Subayang, Harisman.

Halaman
123
Penulis: Firmauli Sihaloho
Editor: Firmauli Sihaloho
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved