Breaking News:

Menengok Budi Daya Ikan Patin yang Terintegrasi di Desa Koto Masjid Kampar

Untuk semakin memantapkan Desa Koto Masjid sebagai sentra ikan patin, masyarakat di sini memiliki slogan, Tiada Rumah Tanpa Kolam Ikan.

Tribun Pekanbaru/Firmauli Sihaloho
Pekerja di salah satu sentra pengolahan Ikan Patin Asap di Desa Koto Masjid, Kampar. 

“Alhamdulillah, kini tidak ada lagi pengangguran di sini, berkat budidaya Ikan Patin yang sudah terintegrasi,” tegas Pengagas Kolam Ikan Patin di Desa Koto Masjid, Kecamatan XIII Koto Kampar, Riau, Suhaimi.

Opini tersebut sepertinya tidak mengada dan tidak berlebihan. Malahan, merupakan suatu fakta yang tak terbantahkan jika berkunjung ke daerah ini.

Sebab, sejauh mata memandang, lanskap ratusan kolam ikan patin terlihat jelas di desa yang berjarak sekitar 29 kilometer dari Kota Bangkinang itu. Yang belakangan diketahui, terdapat 150 hektare lebih kolam ikan patin di sini.

Kemudian, beberapa bangunan berdinding kayu berdiri kokoh di desa yang masih asri ini. Bangunan itu merupakan pabrik pengolahan pakan ikan. Dari tempat ini, puluhan ton pakan ikan diolah setiap harinya sebelum didistribusikan kepada petani.

Juga, dijumpai belasan bangunan pusat pengolahan ikan salai yang asapnya mengebul setiap hari.

Dari kondisi tersebut, tentu tak sulit membayangkan bagaimana penyerapan tenaga kerja dan menggeliatnya perekonomian di desa itu.

Dijumpai tribunpekanbaru.com, Jumat (21/8/2020), Suhaimi menceritakan awal mula budidaya Ikan Patin di Desa Koto Masjid.

“Awalnya, saya mencari solusi atas persoalan eknomi di desa ini yang sebelumnya berprofesi sebagai petani dan penyadap kebun karet. Lalu, kami melihat sektor perikanan dan setelah dianalisis, cocoknya ikan patin. Awal-awal persoalannya yakni benih ikan patin. Diputuskan lah pada tahun 2002 untuk memulai pembenihan dan ternyata berhasil. Sehingga, kami tidak lagi mendatangkan benih dari Pulau Jawa yang harganya ketika itu cukup tinggi, dari Rp 250 per ekor, menjadi Rp 150 per ekornya. Sehingga biaya awal bisa ditekan. Dan kualitasnya baik sesuai dengan harapan.  Bahkan, kita juga sudah memiliki benih ikan patin yang tersertifikasi,” jelas Dia.

PDI Perjuangan Dan PKB Deklarasi Dukungan Pasangan Calon Bupati Bengkalis Kade - Iyeth Bustami

VIDEO: Viral, Antrean Panjang Proses Perceraian di Bandung, Bisa Sampai 500 Pelaporan Sehari

Beranjak dari pembenihan, Suhaimi kembali dihadapkan pada persoalan selanjutnya, yakni ketersediaan modal awal.

Dia lantas mencari berbagai informasi hingga mendapat bantuan dari salah satu perusahaan pelat merah melalui penyaluran CSR.

“Dengan bantuan ini, masyarakat mendapat kucuran dana segar untuk memulai usahanya. Apalagi prosesnya mudah dan administrasinya pun terjangkau. Sehingga total sudah ada 218 kali penyaluran dengan nilai mencapai Rp 15 Milliar,” paparnya.

Seiring berjalannya waktu, budidaya ikan patin berkembang pesat di desa ini. Tercatat, panen ikan patin di sini sudah mencapai angka 15 ton setiap harinya.

Untuk semakin memantapkan Desa Koto Masjid sebagai sentra ikan patin, masyarakat di sini memiliki slogan, Tiada Rumah Tanpa Kolam Ikan.

Dugaan Pemerasan oleh Oknum Jaksa Kejari Inhu, Nilai Uang Ditaksir Rp1,4 M, Dua Kepsek SMP Diperiksa

Presiden Jokowi Dijadwalkan akan Resmikan Tol Pekanbaru - Dumai Pekan Ini

Salah satu sentra pengolahan pakan ikan di Desa Koto Masjid, Kampar.
Salah satu sentra pengolahan pakan ikan di Desa Koto Masjid, Kampar. (Tribun Pekanbaru/Firmauli Sihaloho)

Tidak hanya itu, guna menjangkau pasar yang lebih luas, Suhaimi melalui Graha Pratama Fish mengembangkan produksi ikan patin dari hulu ke hilir.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved