Breaking News:

Usai Warganya Dibantai, Myanmar Dilaporkan Hapus Desa Rohingya dari Peta Negara

Unit tersebut membuat peta untuk penggunaan badan-badan PBB, seperti badan pengungsi UNHCR, dan kelompok kemanusiaan yang bekerja sama dengan PBB

Gemunu Amarasinghe / AP Photo
Tentara Myanmar di Kamp pengungsi Rohingya 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Kebiadaban Myanmar terhadap warga Rohingya saat ini menjadi sorotan PBB.

Setelah membantai warga Rohingya, PBB melaporkan Myanmar sudah menghapus Rohingya dari peta negara. 

Penghapusan peta tersebut terjadi usai Militer membakar desa Rohingya hingga rata dengan tanah dan membuldoser sisa-sisanya tiga tahun lalu setelah kampanye brutal melawan minoritas Muslim.

Dilansir dari Aljazeera, sekitar tiga mil (lima km) dari Sungai Naf yang menandai perbatasan antara negara bagian Rakhine Myanmar dan Bangladesh, Kan Kya adalah rumah bagi ratusan orang sebelum tentara mengusir ratusan ribu Rohingya keluar dari negara itu dalam apa yang digambarkan PBB sebagai "contoh buku teks pembersihan etnis".

Tempat Kan Kya pernah berdiri, sekarang ada lusinan gedung pemerintah dan militer termasuk pangkalan polisi yang luas dan berpagar.

Desa, di daerah terpencil di barat laut negara yang tertutup bagi orang asing, terlalu kecil untuk dinamai di Google Maps.

Pada peta yang diproduksi pada tahun 2020 oleh unit pemetaan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Myanmar, yang dikatakan didasarkan pada peta pemerintah Myanmar, situs desa yang hancur sekarang tidak bernama dan diklasifikasikan kembali sebagai bagian dari kota terdekat Maungdaw. 

Unit tersebut membuat peta untuk penggunaan badan-badan PBB, seperti badan pengungsi UNHCR, dan kelompok kemanusiaan yang bekerja sama dengan PBB di lapangan.

Kan Kya adalah satu dari hampir 400 desa yang dihancurkan oleh militer Myanmar pada 2017, menurut gambar satelit yang dianalisis oleh Human Rights Watch yang berbasis di New York. 

Dan itu adalah salah satu dari setidaknya selusin desa yang namanya telah dihapus.

"Tujuan mereka adalah agar kami tidak kembali," kata pemimpin agama Mohammed Rofiq, mantan ketua desa dekat Kan Kya yang sekarang tinggal di kamp pengungsi di Bangladesh, merujuk pada pemerintah Myanmar.
Halaman
12
Editor: Guruh Budi Wibowo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved