Breaking News:

Wacana Pajak Nol Persen untuk Mobil Baru Ditolak, Pedagang Mobil Bekas Bersyukur

bila kabar tersebut menjadi kepastian karena banyaknya konsumen yang melakukan penundaan pembelian sejak akhir bulan lalu.

Penulis: | Editor: Firmauli Sihaloho
kompas.com
Layanan jual-beli Suzuki Auto Value di Tangerang. (Stanly/KompasOtomotif) 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Kabar relaksasi pajak nol persen mobil baru.

Sebelumnya, isu soal penghapusan pajak ini menjadi perbincangan di kalangan pecinta otomotif.

Namun, setelah lama dinanti, akhirnya keputusan soal relaksasi pajak nol persen bagi mobil baru resmi ditetapkan. Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan menolak wacana pemberian stimulus tersebut.

"Kami tidak mempertimbangkan saat ini untuk memberikan pajak mobil baru nol persen seperti yang disampaikan industri maupun Kementerian Perindustrian," ucap Sri Mulyani dalam konferensi pers online APBN KiTA, Senin (19/10/2020).

Penolakan relaksasi pajak tersebut mendapat ragam sambutan dari industri otomotif, termasuk dari kalangan pebisnis mobil bekas yang sudah ketar-ketir sejak munculnya isu tersebut.

Herjanto Kosasih, Senior Manager Bursa Mobil Bekas WTC Mangga Dua, mengatakan, bila kabar tersebut menjadi kepastian karena banyaknya konsumen yang melakukan penundaan pembelian sejak akhir bulan lalu.

"Kondisinya kemarin itu sama dengan mobil baru, banyak pelanggan yang nahan beli mobil bekas nunggu pajak nol persen, karena mereka berharap kalau sampai jadi, ya mereka beli mobil baru dengan harga murah kan," ujar Herjanto kepada Kompas.com, Senin (19/101/2002).

Baca juga: Langsung Tancap Gas, Luhut Goda Investor Jerman ke Indonesia dengan UU Cipta Kerja

Baca juga: Pertama Kali Berkunjung Sejak Dicekal, Apa Hasil Menhan Prabowo ke Amerika Serikat?

Baca juga: Detik-detik Kronologi Oknum ASN Hamili Bocah 13 Tahun, Aksi Bejat di Rumah Sendiri

Suzuki Auto Value merupakan layanan mobil bekas bergaransiGridOto.com Suzuki Auto Value merupakan layanan mobil bekas bergaransi

"Dengan info ini, jadi ada kepastian terutama buat pedagang di sini (WTC) yang memang sudah khawatir, buat pelanggan juga dampaknya sama, mereka tak lagi berharap kan," kata dia.

Herjanto mengatakan, walau bisnis mobil bekas sempat mengalami perlambatan akibat isu stimulus pajak mobil baru, tapi adanya kepastian tersebut bisa memberikan titik terang lagi.

Baca juga: HARI INI Mahasiswa & Buruh Bersiap Kepung Istana: Dijaga 6 Ribu Petugas hingga Himbauan Mahfud MD

Baca juga: CEK Zodiak Hari Ini Selasa (20/10/2020): Libra Jangan Menyerah, Pisces Jangan Tergoda

Baca juga: Padahal Tak Ada Pria, Kok Bisa Para Tahanan Wanita Mendadak Hamil? Terkuak Lewat Hasil Tes DNA

Setidaknya jelang sore hari sejak kabar penolakan tersebut beredar, menurut Herjanto banyak konsumen yang datang dan menghubungi pedagang mobil seken di WTC. Hal tersebut bisa menjadi indikator bila kondisi akan kembali normal.

"Kebanyakan konsumen yang sebelumnya nahan, mulai kontak lagi nanya unit, walau belum banyak karena hari pertama itu bisa jadi patokan nantinya akan kembali normal meski memang secara kondisi ekonomi kan juga belum terlalu pulih," kata Herjanto.

Tak hanya Herjanto, Ridwan pemilik diler mobil bekas di kawasan Klender, Jakarta Timur, juga mengucapkan hal yang sama mengenai penolakan relaksasi pajak nol persen tersebut.

Menurut Ridwan, meski tak serta merta bisa mendorong penjualan mobil bekas lagi, tapi keputusan tersebut seperti "pecah telur" karena memberikan kepastian bagi banyak orang yang sebelumnya sudah menantikan

Baca juga: Gadis Kembar Trena-Treni Ternyata Sengaja Dipisah Ortunya, Disebabkan ada Mitos Mengerikan Ini

Baca juga: PERINGATAN Mengerikan Ilmuwan Dunia, Bakal Ada Mega Tsunami yang Terjadi Karena Faktor Ini

Baca juga: Kelakuakn Buruk Rn Kambuh jika Istrinya sudah Tertidur Pulas, Nyelinap ke Kamar Anak Gadisnya

Toyota Camry Hybrid di pasar mobil bekasOLX Toyota Camry Hybrid di pasar mobil bekas

"Jadi jelas, kemarin kan tidak pasti. Kalau dari konsumen memang ada sebagaian yang nunggu dan akhirnya menahan, berharap bisa beli mobil baru, tapi memang jumlahnya mungkin tidak banyak karena dalam kondisi seperti ini, mungkin orang juga menahan belanja barang kan," ucap Ridwan.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved