Breaking News:

Alhamdulillah, Pengadilan Austria Batalkan Larangan Memakai Hijab di Sekolah Dasar

Komunitas Agama Islam Austria, yang mewakili Muslim di negara itu dan mengajukan gugatan hukum, menyambut baik keputusan itu.

Editor: CandraDani
dream.co.id
Seorang mahasiswi di Virginia, AS tengah mencoba Hijab yang diperkenalkan Mahasiswi Muslim 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Pengadilan konstitusional Austria membatalkan undang-undang yang melarang anak-anak sekolah dasar mengenakan penutup kepala agama tertentu.

Melansir BBC pada Sabtu (12/12/2020), undang-undang itu dinilai hanya menyasar hijab Islam dan melanggar hak kebebasan beragama.

Undang-undang tersebut disahkan pada pemerintahan koalisi sebelumnya saat Partai Rakyat konservatif bersekutu dengan Partai Kebebasan sayap kanan.

Pengadilan mengatakan undang-undang tersebut dapat memarjinalkan gadis Muslim.

Pengadilan menolak argumen pemerintah, larangan tersebut dapat melindungi anak perempuan dari tekanan sosial dari teman sekelas.

Baca juga: Sosok Jumiati TKI di Uni Emirat Arab yang Ternyata Buronan Kasus Korupsi, Ditangkap setelah 3 Tahun

Baca juga: Akui Pakai Uang Pribadi Rp 20 M Saat Mencalon & Kalah Versi QC, Cabup: Kami Punya Perusahaan Tambang

Alasan pemerintah dinilai dapat menghukum orang yang salah.

Dikatakan, jika perlu, negara perlu menyusun undang-undang untuk mencegah intimidasi dengan lebih baik atas dasar gender atau agama.

Undang-undang, yang mulai berlaku tahun lalu, melarang pemakaian pakaian keagamaan dengan penutup kepala untuk anak-anak hingga usia 10 tahun.

Meski tidak menyebutkan bahwa jilbab dilarang, tetapi pemerintah sendiri mengatakan bahwa penutup kepala yang dikenakan oleh anak laki-laki Sikh atau kopiah Yahudi tidak akan terpengaruh.

Pengadilan memutuskan bahwa larangan tersebut sebenarnya ditujukan untuk jilbab Muslim.

Baca juga: Arti As Samii dalam Asmaul Husna, Simak Arti dan Penjelasan 99 Nama-nama Allah

Baca juga: Vaksinasi Covid-19 dari Vaksin Sinovac Uji Klinik di Bandung Belum Bisa Dilakukan Awal 2021

"Larangan selektif, berlaku secara eksklusif untuk siswi Muslim dan dengan demikian memisahkan mereka secara diskriminatif dari siswa lain," kata pemimpin pengadilan Christoph Grabenwarter.

Menteri Pendidikan Heinz Fassman mengatakan dia memerhatikan putusan tersebut tetapi menambahkan:

"Saya menyesal bahwa anak perempuan tidak akan memiliki kesempatan untuk menjalani sistem pendidikan tanpa paksaan."

Komunitas Agama Islam Austria, yang mewakili Muslim di negara itu dan mengajukan gugatan hukum, menyambut baik keputusan itu.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved