Breaking News:

Artikel

Saatnya Perkuat Literasi Keuangan Keluarga

Pandemi Covid-19 juga menghantam kehidupan ekonomi. saatnya kita memperkuat literasi keuangan keluarga

pixabay.com
Saatnya mengatur literasi keuangan di masa pandemi Covid-19 

Saatnya Perkuat Literasi Keuangan Keluarga

Setahun belakangan, kita dihantui oleh pandemi Covid-19. Tak hanya khawatir akan terpapar virus mematikan itu. Namun, wabah ini juga memorakporandakan kehidupan ekonomi kita.  Oleh karena itu, saatnya kita memperkuat literasi keuangan keluarga

Oleh: Desmin Sembiring

Desmin Sembiring
Desmin Sembiring (istimewa)

PANDEMI COVID-19 belum berakhir sampai sekarang.

Tahun 2020 telah kita lewati dengan dinamika ekonomi yang berfluktuasi.

Ada beberapa keluarga yang bisa bertahan dengan keuangan yang ada.

Ada pula keluarga yang harus mencari berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan hariannya.

Untuk keluarga yang sudah terpapar dengan literasi keuangan, tahun 2021 akan menjadi tantangan ekonomi yang baru.

Mencari peluang ekonomi yang mungkin ada dan tindakan apa yang akan diambil untuk mengantisipasi gejolak ekonomi.

Menurut surat edaran Otoritas Jasa Keuangan (OJK), literasi keuangan adalah pengetahuan, keterampilan dan keyakinan yang mempengaruhi sikap dan perilaku untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan pengelolaan keuangan dalam mencapai
kesejahteraan.

Dalam survei OJK, indeks literasi keuangan Indonesia pada tahun 2019 mencapai 38.03%.

Hal ini menunjukkan dari 100 warga Indonesia baru 38 orang yang sudah mengerti mengelola keuangannya dengan baik.

Angka ini mengalami peningkatan dari survei yang dilakukan pada tahun 2013 dengan nilai 21,84%.

literasi keuangan keluarga menjadi suatu hal yang penting karena ini berkaitan dengan bagian terkecil suatu negara.

Jika banyak keluarga tidak mempunyai pengetahuan yang baik dalam mengelola keuangannya, maka secara agregat itu akan berpengaruh kepada negara.

Sebuah keluarga yang sudah terpapar dengan literasi keuangan tidak ubahnya seperti sebuah perusahaan kecil.

Dalam keadaan normal sebuah keluarga mempunyai pendapatan dari ayah atau ibu yang bekerja.

Pendapatan tersebut dianggarkan dalam pos-pos pengeluaran yang bersifat fixed cost dan variable cost.

Fixed cost dalam keluarga dapat berupa sewa rumah, cicilan hutang, uang sekolah anak, biaya belanja dapur selama sebulan dan sebagainya.

Hal tersebut merupakan kebutuhan keluarga. Variable cost dalam keluarga bisa berupa biaya jalan-jalan setiap minggu, biaya listrik, pemakaian pulsa gawai dan lain-lain.

Seperti namanya, variable cost akan sangat bergantung kepada tingkat keinginan dalam sebuah keluarga.

Sekarang kita berandai-andai bahwa pada masa pandemi selama tahun 2020 yang lalu sebuah keluarga terkena dampak.

Ayah mendapatkan pemotongan gaji karena penerimaan perusahaan lagi seret.

Ibu yang bekerja paruh waktu di sebuah pusat pendidikan bahasa akhirnya dirumahkan.

Fixed cost bertambah karena harus membeli gawai tambahan dua anak yang bersekolah dari rumah.

Variable cost seperti listrik dan paket data juga mengalami kenaikan.

Sementara sewa rumah masih harus dibayar tepat waktu, cicilan hutang, uang sekolah anak, apalagi. Bagaimana sikap keluarga ini dalam menghadapi keadaan keuangan seperti ini?

Jika saja keluarga tersebut sudah terpapar literasi keuangan maka ada beberapa hal praktis yang dapat dilakukan untuk mengakali pengeluaran.

Variable cost untuk pembelian paket data dan listrik membengkak dapat diakali dengan beberapa cara.

Untuk paket data dapat dialihkan menjadi Fixed Cost dengan berlangganan jaringan internet Wi-Fi.

Selain lebih murah jaringan Wi-Fi dapat digunakan lebih dari lima gawai secara bersamaan dengan kecepatan jelajah yang lebih stabil daripada memakai jaringan seluler.

Listrik untuk menanak nasi hanya digunakan sampai nasi masak, setelah itu listrik dicabut.

Pendingin udara diatur dengan timer selama tiga jam pada malam hari untuk tidur.

Ayah yang selama ini makan siang di kantin kantor, mulai membawa bekal setiap hari.

Keluarga yang biasanya jalan-jalan ke pusat perbelanjaan setiap minggu, mulai melakukan aktivitas menyenangkan lainnya di rumah saja.

Selain itu dalam hal pemasukan ada beberapa hal yang bisa dilakukan.

Ibu yang punya kemampuan Bahasa membuka kursus menggunakan layanan online meeting Zoom yang gratis selama 40 menit.

Ayah yang seorang akuntan dapat menerima jasa menyusun laporan keuangan di luar jam kerja.

Anak-anak diberi kewajiban untuk memelihara beberapa ekor ayam.

Telurnya dapat dimakan oleh anggota keluarga atau dijual ke tetangga.

Budidaya bunga hias juga menjadi pilihan dan dapat dipelajari caranya.

Jika ada pakaian bekas yang masih bagus dapat dijual di media online dengan kategori preloved.

Hal-hal di atas merupakan beberapa contoh kecil bagaimana sebuah keluarga dapat menggunakan kemampuan literasi keuangan.

Banyak lagi contoh yang ada di luar sana dan dapat dipraktikkan menyesuaikan dengan keluarga masing-masing.

Tahun 2021 baru berjalan dua bulan. Namun pandemi Covid-19 belum dapat diprediksi kapan akan berhenti.

Sebelum virus ini dapat dikendalikan dan ekonomi berangsur pulih maka yang dapat dilakukan oleh sebuah keluarga adalah meningkatkan kemampuannya dalam mengelola keuangan dengan baik.

Tahun 2021 adalah kesempatan setiap keluarga Indonesia tetap aware terhadap keadaan ekonomi dan mulai meningkatkan literasi keuangannya.

Pada akhirnya tidak hanya keluarga yang terhindar dari pandemi namun juga keuangan keluarga juga dalam keadaan baik.

Keuangan Negara dalam kondisi yang tidak baik saat sekarang ini, mari kita membantunya dengan meningkatkan kemampuan mengelola keuangan sehingga dapat mengurangi beban yang ditanggung oleh Negara. (*)

* Penulis adalah Pelaksana Seksi Evaluasi dan Informasi di Balai Diklat Keuangan Pekanbaru

Editor: rinalsagita
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved