Keluarga Tak Menyangka Praka Dedi Pergi Begitu Cepat, Abang: Pagi Video Call, Maghrib Sudah Tak Ada
Heru, abang Praka Dedi Irawan menyebutkan, keluarga begitu tidak menyangka adiknya pergi secepat ini.
Penulis: Rizky Armanda | Editor: Ariestia
TRIBUNPEKANBARU.COM - Praka Dedi Irawan, anggota TNI gugur dalam baku tembak dengan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT), Senin (1/3/2021) kemarin.
Peristiwa tersebut terjadi di wilayah Pegunungan Andole, Desa Tambarana, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.
Heru, kakak laki-laki Praka Dedi Irawan menyebutkan, keluarga begitu tidak menyangka adiknya pergi secepat ini.
Padahal pagi hari sebelum dikabarkan gugur, almarhum masih sempat berkomunikasi lewat video call dan mengabarkan tentang kondisi dirinya di Poso.
"Kami kaget, soalnya pagi kita masih video call, habis Magrib kita dapat kabar duka bahwa adik kita sudah tidak ada," katanya.
• Jenazah Kopda Anumerta Dedi Irawan Dimakamkan Secara Militer di Taman Makam Bahagia Pekanbaru
• Anggota TNI Gugur Saat Kontak Senjata di Poso Dimakamkan di Pekanbaru, Danrem Sampaikan Duka Cita
• Baku Tembak dengan Teroris MIT, Anggota TNI Asal Riau Gugur, akan Dimakamkan di Taman Makam Pahlawan
Sang abang menyebutkan, Praka Dedi Irawan sudah berada di Poso selama tiga bulan.
Ia menjalankan tugas negara dan tergabung dalam Satgas Operasi Madago Raya.
Sebelum berangkat ke Poso, Praka Dedi Irawan sempat pulang ke Pekanbaru, selama 10 hari.
"Sebelum berangkat ke Poso dia ke sini. Dia ambil cuti kurang lebih 10 hari. Setelah itu dia berangkat ke Poso," ungkap Heru.
Ternyata, firasat kepergian Praka Dedi Irawan sudah dirasakan orangtua.
.
"Kalau saya tidak ada firasat, cuma dari orang tua gigi patah," tutur Heru lagi.
Disebutkan Heru, Praka Dedi Irawan merupakan anak keempat dari lima bersaudara.
Ia lahir pada 19 Agustus 1991.
Praka Dedi Irawan meninggalkan seorang istri yang berada di Solo.
Ia juga meninggalkan anak yang masih berusia 2 tahun 2 bulan.
Sehari-hari, Praka Dedi dikenal sebagai sosok yang baik dan tidak pernah membuat orang tuanya bersedih.
"Dialah anak yang tidak pernah membuat air mata orang tua jatuh. Ya, yang namanya umur kita tidak tahu. Sosok yang baik adalah dia," ucap Heru.
Jenazah almarhum Praka Dedi Irawan diterbangkan dari Sulawesi Tengah ke Jakarta.
Selanjutnya, jenazah diterbangkan dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta menuju Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru, untuk dibawa ke rumah duka.
Jenazah Praka Dedi Irawan mendarat di Lanud Roesmin Nurjadin.
Setelah itu, jenazah dibawa ke rumah duka dan tiba sekitar pukul 17.00 WIB.
Istri Praka Dedi dan putrinya yang masih berusia 2 tahun terlihat ikut dalam mobil yang membawa jenazah.
Tangis pecah ketika putri Praka Dedi menjerit disambut keluarga di rumah duka.
Setelah disemayamkan sebentar di rumah duka, jenazah Praka Dedi Irawan dibawa ke Masjid Abu Bakar untuk disalatkan.
Setelah itu, jenazah diserahkan kepada TNI untuk selanjutnya dimakamkan di komplek Taman Bahagia Pekanbaru.
Peti jenazah almarhum yang berbalut bendera merah putih itu diangkat 6 orang personel TNI. Iring-iringan jenazah tiba di dekat lobang makam.
Tembakan salvo meletus beberapa kali, mengiringi proses pemakaman Praka Dedi Irawan secara militer ini.
Keluarga pun ikut mengiringi.
Ibunda Praka Dedi yang mengenakan mukenah warna putih, terlihat memeluk erat foto almarhum semasa hidup.
Ia didampingi anggota keluar yang lain.
Karena gugur dalam melaksanakan tugas negara, Praka Dedi Irawan naik pangkat menjadi Kopda (Anumerta). (Tribunpekanbaru.com/Rizky Armanda)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/pemakaman_kopda_anumerta_dedi_irawan_di_taman_makam_bahagia_pekanbaru_dihadiri_keluarga.jpg)