Breaking News:

Karhutla di Riau

Segini Tersangka yang Diamankan Polda, Kasus Karhutla di Riau yang Ditangani Tersebar di Daerah Ini

Segini jumlah tersangka yang diamankan Polda Riau. Kasus Karhutla di Riau yang ditangani tersebar di daerah ini. Daerah mana saja?

Penulis: Rizky Armanda | Editor: Nurul Qomariah
TribunPekanbaru/RizkyArmanda
Segini Tersangka yang Diamankan Polda, Kasus Karhutla di Riau yang Ditangani Tersebar di Daerah Ini. Foto: Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Sunarto. 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Segini jumlah tersangka yang diamankan Polda Riau. Kasus Karhutla di Riau yang ditangani tersebar di daerah ini. Daerah mana saja?

Hingga saat ini, jajaran Kepolisian Daerah (Polda) Riau sudah menangani 10 kasus kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla di Riau.

Dari 10 kasus tersebut, polisi menangkap 10 tersangka. Semuanya tersangka perorangan.

"Ada 10 kasus 10 tersangka," kata Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Sunarto, Senin (22/3/2021).

Ia merincikan, 2 kasus ditangani di Inhil, 1 kasus di Pelalawan, 3 kasus di Bengkalis, 2 kasus di Dumai, masing-masing 1 kasus di Meranti dan Kampar.

"Saat ini proses penyidikan semua," terangnya.

Lanjut dia, total lahan yang terbakar luasnya mencapai 35,75 hektare.

"Yang paling luas kebakaran lahan ada di di Dumai sekitar 10 hektare lebih," ucapnya.

Seperti diketahui, Kebakaran Hutan dan Lahan atau Karhutla di Riau semakin meluas.

Sejak awal Januari 2021 hingga saat ini total luas lahan yang terbakar di Riau mencapai 811,16 hektare.

Kebakaran lahan di Riau paling luas terjadi di Kabupaten Bengkalis yang mencapai 293,86 hektare.

Disusul Indragiri Hilir 129 hektare, kemudian Dumai 111,1 hektare, Siak 78,9 hektare, Pelalawan 52 hektare, Meranti 45,5 hektare.

Kabupaten Kampar 34,55 hektare, Rokan Hilir 31 hektare, Indragiri Hulu 29,25 dan Pekanbaru 4 hektare.

Paling Banyak di Bengkalis

Sebelumnya, Polda Riau merilis telah mengambil langkah penegakan hukum terkait kasus Karhutla, terhitung sejak awal Januari 2021 lalu.

Pada Selasa 16 Maret 2021, Kapolda Riau, Irjen Agung Setya Imam Effendi menjelaskan, jajarannya sudah mengungkap sebanyak 9 kasus, dengan 9 tersangka perorangan.

Adapun luas lahan yang dibakar para pelaku, sekitar 25,75 hektare.

Adapun rinciannya, 1 kasus di Kabupaten Meranti, dengan 1 orang tersangka berinisial ZUL.

Lalu 3 kasus di Kabupaten Bengkalis, dengan 3 orang tersangka, masing-masing berinisial MIS, SAN, dan YUN.

Kemudian, 2 kasus di Kota Dumai, dengan 2 orang tersangka. Mereka adalah PET dan FIK.

"Ada juga 1 kasus di Kabupaten Kampar, dengan tersangka EDO, 1 kasus di Kabupaten Inhil dengan tersangka MAS, dan 1 kasus di Kabupaten Pelalawan, dengan tersangka SUR," ungkap Irjen Agung, Selasa (16/3/2021).

Lanjut Kapolda Riau, para tersangka membakar lahan, terlebih dahulu melakukan pembersihan dengan cara menebas semak belukar.

"Setelah ditebas kemudian dibiarkan hingga kering hingga selanjutnya dilakukan pembakaran. Pembakaran dilakukan agar mempercepat proses pembersihan lahan milik para tersangka," ucapnya.

Kapolda menegaskan, para tersangka dijerat Pasal 108 Jo Pasal 69 Ayat (1) huruf h UU RI Nomor 32 Tahun 2009, tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Ancamannya, pidana penjara paling singkat 3 tahun dan paling lama 10 tahun dan denda paling sedikit Rp3 miliar dan paling banyak Rp10 miliar.

Berikutnya pasal 108 Jo Pasal 56 Ayat (1) UU RI Nomor 39 Tahun 2014, tentang Perkebunan dengan pidana penjara lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp10 miliar.

Dan pasal 78 Ayat (3) Jo Pasal 50 Ayat (3) huruf d UU Nomor 41 Tahun 1999, tentang Kehutanan dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp5 miliar.

Sementara itu, penyidik juga telah melakukan pemeriksaan terhadap 14 orang saksi, termasuk 7 orang saksi ahli.

Di antaranya Prof. Ir. Bambang Hero Saharjo, M.Agr, ahli dibidang Kebakaran hutan dan lahan dari Fakultas Kehutanan IPB, Ir. Amrizal, ahli perkebunan dari Dinas Perkebunan Provinsi Riau.

Selanjutnya Dr. Basuki Wasis, ahli kerusakan lingkungan IPB, Yahya T Sebastian, S.Hut, ahli Planologi Kehutanan dari UPT KPH Bagan Siapiapi, Helvi S.Hut, ahli Planologi Kehutanan dari UPT KPH Bagan Siapiapi.

Albano Amral, ahli Planologi Kehutanan dari UPT KPH Bagan Siapiapi, dan terakhir Adam Sopyan, S.Hut, ahli Planologi Kehutanan dari UPT KPH Bagan Siapiapi.

"Sementara yang masih tahap penyelidikan yakni Karhutla yang terjadi di Kelurahan Lubuk Gaung, Kecamatan Sungai Sembilan, Kota Dumai.

"Saat ini dalam proses pemenuhan alat bukti untuk ditingkatkan ketahap penyidikan," beber Agung.

( Tribunpekanbaru.com / Rizky Armanda )

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved