Breaking News:

Siak

Kasus Cerai Gugat Lebih Banyak di PA Siak, Penyebabnya Akun Media Sosial, Waspada Wahai Suami Istri

Data Pengadilan Agama Siak Sri Indrapura menjelaskan pada 2020 sedikitnya tercatat 538 perkara perceraian.Dimana 379 perkara adalah cerai gugat.

Penulis: Mayonal Putra | Editor: CandraDani
KOMPAS.com
media sosial twitter, facebook, path, instagram, blog 

TRIBUNPEKANBARU.COM, SIAK - Kasus cerai gugat di Kabupaten Siak lebih dominan dibanding cerai talak.

Faktor penyebabnya cukup beragam namun di antaranya ada karena penggunaan media sosial.

Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama (PA) Siak Sri Indrapura, Sudarmono, SHi, MH mengungkapkan pada 2020 sedikitnya tercatat 538 perkara perceraian.

Sebanyak 379 perkara di antaranya adalah perkara cerai gugat, sementara 159 perkara adalah cerai talak .

“Cerai gugat itu adalah pihak istri yang mengajukan gugatan cerai ke pengadilan sedangkan cerai talak pihak suami yang mengajukan perceraian ke pengadilan,” kata Sudarmono, Kamis (1/4/2021).

Baca juga: Suami Hilang Hampir 2 Pekan Istri Lapor Polisi, Ternyata Dianya Asyik-asyik Sama Cewek Selingkuhan

Baca juga: Karma Istri Pejabat Selingkuh, Pria Idaman Lain Meninggal, Status ASN-nya Juga Dapat Sanksi

Setiap bulan ada perkara perceraian masuk ke PA Siak, sebab 80 persen perkara yang ditangani di PA Siak adalah perkara perceraian.

Angka perceraian di Kabupaten Siak ini, kata Sudarmono jauh lebih tinggi dibanding di kabupaten Bengkalis.

Ilustrasi Perceraian
Ilustrasi Perceraian (antara)

Pada Januari 2021 terdapat perkara cerai talak 19 perkara dan cerai gugat 40 perkara.

Sedangkan Februari cerai talak sebanyak 19 perkara dan cerai gugat 40 perkara, Maret terdapat cerai talak 22 perkara dan cerai gugat 46 perkara.

“Penyebab perceraian secara umum karena perselisihan dan pertengkaran yang terjadi terus menerus, sehingga setahun atau dua tahun perselisihan maka diajukan cerai gugat oleh pihak perempuan,” kata dia.

Perselisihan dan pertengkaran terus-menerus itu terjadi karena masalah ekonomi dan pudarnya kepercayaan salah satu pihak.

Faktor ekonomi banyak terjadi terhadap penggugat dan tergugat yang berbasis di pedesaan sedangkan pudarnya kepercayaan salah satu pihak banyak terjadi di daerah perkotaan.

“Faktor pudarnya kepercayaan itu dipicu oleh banyak hal, termasuk masalah penggunaan ponsel cerdas yang tertutup dari salah satu pihak. Ada gara-gara whatsapp, mesenger dan media sosial lainnya membuat salah satu cemburu sehingga terjadi perkelahian yang berujung perceraian,” kata dia.

Perkara dengan faktor-faktor media sosial itu banyak terjadi di daerah perkotaan seperti di kecamatan Tualang. Faktor perselingkuhan juga salah satu yang memicu kasus perceraian di Kabupaten Siak. Hal
itu pun terjadi pada masyarakat yang berbasis di perkotaan atau kawasan padat penduduk.

“Kasus peceraian itu melingkupi banyak orang, dari beragam status sosial, tidak sedikit pula yang dari kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN), serta orang yang mempunyai pendidikan tinggi,” kata dia. (tribunpekanbaru.com/mayonal putra)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved