Breaking News:

Diabetes Jadi Komorbid yang Berbahaya bagi Pasien Positif Covid-19, Ini sebabnya

Covid-19 semakin berbahaya jika ada penyakit penyerta oleh paseian yang positif.

CHRISTOF STACHE / AFP
Ilustrasi masker bekas pakai 

Hal itu diungkapkan oleh Prof Dr dr Ketut Suastika, SpPd-KEMD selaku Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI).

“Diabetes adalah salah satu penyakit penyerta yang paling banyak ditemukan pada pasien Covid-19, selain juga hipertensi dan penyakit kardiovaskular,” tuturnya dalam konferensi pers virtual “Inovasi dan Transformasi Penanganan Diabetes Secara Individual Selama Pandemi Covid-19” oleh Sanofi Indonesia, Jumat (7/8/2020).

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) 1 Mei 2020, dari 800 kasus kematian akibat Covid-19, ditemukan sebanyak 83 kasus diabetes.

“Berdasarkan data, pasien diabetes dengan Covid-19 cenderung lebih berat dan lebih banyak meninggal jika sudah masuk rumah sakit,” tambah Suastika.

Jika diabetes bisa dicegah, lanjut ia, maka angka kematian akibat Covid-19 bisa jadi jauh lebih rendah.

Pencegahan umum dan pencegahan khusus

Suastika menjelaskan bahwa banyak masyarakat yang tidak memahami penyakit diabetes. “Riset Dasar Kesehatan tahun 2018, sebanyak dua pertiga dari penduduk Indonesia tidak mengetahui bahwa diri mereka diabetes.

Ini sangat menjadi ancaman, karena bisa jadi langsung komplikasi,” tuturnya.

Itulah pentingnya mengecek kadar gula darah secara rutin, dan melakukan pengobatan dari hulu atau pencegahan.

“Gejala klasik dibetes adalah banyak minum, banyak kencing, juga berat badan yang turun drastis. Sisanya adalah gejala komplikasi seperti kesemutan, luka tidak sembuh-sembuh, infeksi pada kemaluan,” papar Suastika.

Covid-19 menjadi tantangan untuk para penderita diabetes berobat ke rumah sakit. Kepatuhan berobat terhambat oleh lockdown, isolasi, karantina, dan akses pelayanan.

Oleh karena itu, Suastika menjelaskan ada dua jenis pencegahan yang bisa dilakukan oleh penderita diabetes.

“Pertama adalah pencegahan umum. Ini seperti pencegahan biasa, dengan mencuci tangan yang benar, menjaga jarak, menghindari bepergian. Tujuannya untuk memutus mata rantai penularan Covid-19,” papar ia.

Pencegan kedua bersifat khusus.

Bagi para pasien diabetes, setidaknya ada enam hal yang bisa dilakukan secara mandiri di rumah:

1. Mengendalikan kadar glikemik

2. Lebih sering memantau gula darah

3. Menstabilkan keadaan jantung dan ginjal

4. Menjaga asupan makanan

5. Latihan fisik

6. Kreatif di tengah karantina.

Pengelolaan diabetes dengan Covid-19

Suastika menjelaskan para penderita diabetes yang terinfeksi Covid-19 bisa melakukan beberapa hal:

1. Covid-19 ringan: obat yang digunakan diteruskan, baik obat oral maupun suntikan

2. Covid-19 sedang: pertahankan obat yang sudah digunakan. Jika ada gangguan makan dan gejala bertambah berat, pengobatan bisa diganti dengan insulin

3. Covid-19 berat dan kritis: wajib masuk RS dengan obat insulin.

Suastika mengatakan bahwa telemedicine atau penyediaan obat yang lebih panjang dapat mengurangi putusnya pengobatan bagi pasien diabetes.

Head of Medical Department Sanofi Indonesia, Dr Mary Josephine, menyebutkan bahwa telemedicine dan terapi kombinasi secara individual bisa dilakukan.

“Terapi diabetes dilakukan secara individual. Penanganan seperti ini menjadi salah satu sarana untuk pengobatan diabetes yang memberikan hasil lebih efektif dan optimal,” tuturnya dalam kesempatan yang sama.

Selain itu, Sanofi Indonesia juga bekerjasama dengan PERKENI memberikan informasi pada tenaga medis dan masyarakat untuk manajemen diabetes, khususnya di tengah pandemi Covid-19.

Kata Doni Monardo

Di Indonesia, Covid-19 menjadi momok bagi para penderita diabetes.

Pada suatu kesempatan, Ketua Satgas Penanganan Covid-19 RI Dini Monardo pernah mengungkapkan bahwa komorbid (penyakit penyerta) diabetes adalah yang paling banyak terjadi di Indonesia.

Berdasarkan data hingga September 2020, persentase Komorbid diabetes di Indonesia mencapai 92 persen.

Provinsi yang pasien Covid-19 paling banyak mengidap komorbid diabetes, adalah Jawa Timur.

Adapun, penyakit penyerta kedua yang paling banyak diidap oleh pasien Covid-19 adalah hipertensi.

Selain itu, ada pula gangguan jantung, paru-paru, gangguan pernapasan, ginjal, asma dan kanker.

Bagi pasien yang memiliki berbagai penyakit penyerta itu, lanjut Doni, Covid-19 ibarat malaikat pencabut nyawa.

Apalagi apabila pasien memiliki komorbid disertai berusia lanjut.

Risiko mereka sangat tinggi.

Berbeda bagi pasien yang dalam usia produktif dan tak memiliki penyakit bawaan, risiko terhadap mereka relatif rendah.

"Jadi kalau kita melihat, Covid-19 ini sangat mengancam bagi mereka yang punya risiko tinggi (lansia dan komorbid). Tapi bagi masyarakat yang tak punya resiko tinggi aman-aman saja dan kita sudah buktikan ada ratusan ribu orang yang sekarang sudah pulih," ucap Doni seperti dilangsir kompas.com.

(kontan.co.id/kompas.com/Dedy Qurniawan)

Artikel ini telah tayang di bangkapos.com dengan judul Kenapa Diabetes Jadi Komorbid Covid-19 yang Berbahaya Bagi Pasien Positif?, https://bangka.tribunnews.com/2021/04/01/kenapa-diabetes-jadi-komorbid-covid-19-yang-berbahaya-bagi-pasien-positif?page=all.

Editor: Dedy Qurniawan

Editor: Ilham Yafiz
Sumber: Bangka Pos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved