Breaking News:

Ramadhan 1442 H

Bolehkah Puasa Ramadan Saat Bangun Kesiangan dan Telat Mandi Junub? Ini Hukumnya

Hukum menjalankan puasa karena belum mandi junub karena bangun kesiangan diperbolehkan oleh agama.

Editor: Sesri
Gambar oleh PublicDomainPictures dari Pixabay
Hukum Menjalankan Ibadah Puasa Ramadan, Bangun Kesiangan Telat Mandi Junub 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Bangun kesiangan dalam keadaan junub dan belum mandi wajib, bagaimana hukumnya menjalankan ibadah puasa?

Sidang isbat penentuan 1 Ramadhan 1442 H akan digelar Kementerian Agama mulai Senin (12/4/2021) sore ini.

Sementara itu PP Muhammadiyah sudah mengumumkan jika 1 Ramadhan 1442 H bertepatan dengan 12 April 2021.

Hukum menjalankan puasa karena belum mandi junub karena bangun kesiangan diperbolehkan oleh agama.

Hal itu dikuatkan dengan hadist.

Berikut ulasan beberapa masalah yang diperbolehkan untuk berpuasa dirangkum Tribunjogja.com dari catatan Panduan Ibadah jabar.kemenag.go.id :

Orang yang bangun kesiangan dalam keadaan junub. Diperbolehkan baginya untuk berpuasa berdasarkan hadits ‘Aisyah dan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhuma riwaya t Al-Bukhary dan Muslim :

“Sesungguhnya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam kadang-kadang dijumpai oleh waktu subuh sedang beliau dalam keadaan junub dari istrinya, kemudian beliau mandi dan berpuasa.”

Tidak ada perbedaan apakah dia junub sebab mimpi atau sebab berhubungan badan dengan pasangan :

Demikian pula wanita yang haid atau nifas yang telah suci sebelum terbit fajar akan tetapi dia belum sempat mandi takut kesiangan dia juga boleh berpuasa menurut pendapat yang paling kuat dikalangan para ‘ulama berdasarkan hadits di atas.

Juga diperbolehkan untuk bersiwak bahkan hal tersebut merupakan sunnah, apakah menggunakan kayu siwak atau dengan sikat gigi.

Dan juga dibolehkan menyikat gigi dengan pasta gigi, te tapi dengan menjaga jangan sampaimenelan sesua u ke dalam kerongkongannya dan juga jangan mempergunakan pasta gigi yang mempunyai pengaruh kuat ke dalam perut dan tidak bisa diatasi.

Dua point di a tas berdasarkan keumuman hadits-hadits yang menunjukkan akan disunnahkannya bersiwak seperti hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu riwaya t Al-Bukhary dan Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

“Andaikata tidak akan memberatkan ummatku niscaya akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap hendak sholat.”

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved