Breaking News:

Memaknai Hikmah Ramadhan di Tengah Pandemi Covid-19

Memasuki tahun kedua masa pandemi corona, meskipun sudah diberlakukan tatanan hdup baru, namun tidak berarti bahwa Covid-19 sudah menghilang

istimewa
Dr. Mia Amiati, SH, MH (Direktur Pengamanan Pembangunan Strategis pada JAM Intelijen Kejagung) 

Sejak tanggal 2 Februari seluruh WNI bersama 5 tim aju dari KBRI Beijing serta 42 tim evakuasi sedang menjalani observasi kesehatan selama 14 hari (masa inkubasi virus) di Pangkalan Udara TNI AU Raden Sadjad.

Namun apa daya, tanpa bisa dikompromi, penyebaran Covid-19 di bumi pertiwi melesat bgitu cepat sejak ditemukannya kasus pertama yang tejangkit positif Covid-19 di Indonesia dan diumumkan secara resmi oleh Pemerintah pada tanggal 2 Maret 2020.

Saat itu, Presiden Joko Widodo menghimbau kepada masyarakat untuk menjaga kebersihan tangan, meminimalisir interaksi dengan orang lain jika tidak diperlukan, dan meningkatkan kekebalan (imunitas) tubuh agar tidak terinfeksi virus Corona.

DKI Jakarta langsung menetapkan status waspada Corona. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengeluarkan Instruksi Gubernur (Ingub) Nomor 16 Tahun 2020 tentang Peningkatan Kewaspadaan terhadap Risiko Penularan Infeksi Virus Corona atau Corona Virus Disease (Covid-19).

Selain itu, Batam juga mengeluarkan status waspada usai pemerintah Singapura menemukan tiga orang pasien positif Corona yang pernah berkunjung ke Batam. Selanjutnya pada tanggal 13 Maret langsung terjadi lonjakan hingga 35 kasus baru dalam satu hari.

Sejak saat itu, kasus corona terus meningkat penyebarannya di Indonesia, sampai mencapai rekor tertinggi pada tanggal 16 Januari 2021 terkonfirmasi jumlah penduduk yang dinyatakan positif covid-19 dalam satu hari sejumlah 14.224 orang.

Presiden Joko Widodo meminta jajarannya untuk segera mengendalikan pandemi Covid-19 dengan menekan angka kematian dan mencegah meningkatnya angka penyebaran dengan berbagai kebijakan yang telah diterbitkan, termasuk pembatasan melaksanakan ibadah keagamaan di tempat ibadah sesuai dengan agamanya masing-masing.

Kaum Muslimin dianjurkan untuk beribadah di dalam rumah, begitu pula dengan penganut agama yang lain, dimana sebagian besar menggunakan sarana virtual beribadah melaksanakan kebaktian secara online, namun semuanya tidak mengurangi nilai dari rutinitas ritual beribadah sesuai dengan keyakinan agamanya masing-masing.

Di masa puncak pancemi Covid-19, Pemerintah menganjurkan kepada seluruh rakyatnya untuk tetap tinggal di rumah, melaksanakan aktivitas sehari-hari baik itu belajar maupun bekerja serta beribadah tetap dilaksanakan di rumah, tidak boleh ada orang yang berkerumun, semua harus saling menjaga jarak yang dikenal dengan istilah Physical distancing dan diingatkan terus untuk menjaga kesehatan dengan membiasakan hidup bersih dengan selalu mencuci tangan dengan menggunakan sabun yang dicuci oleh air yang mengalir. serta diwajibkan menggunakan masker.

Memasuki tahun kedua masa pandemi corona, meskipun sudah diberlakukan tatanan hdup baru, namun tidak berarti bahwa Covid-19 sudah menghilang dari bumi pertiwi, karena sampai saat ini, dari data yang ada, dari laman covid19.go.id, Jumat (16/4/3021), angka penambahan penyebaran Positif Covid-19 di Indoensia dalam satu hari (tanggal 16 April 2021) dapat dilihat sebagai berikut :

Jawa Barat: 998 kasus

DKI Jakarta: 979 kasus

Jawa Tengah: 669 kasus

Jawa Timur: 290 kasus

Riau: 235 kasus

DI Yogyakarta: 218 kasus

Bali: 211 kasus

Sumatera Barat: 168 kasus

Kalimantan Selatan: 153 kasus

Banten: 152 kasus

Bangka Belitung: 146 kasus

Nusa Tenggara Timur: 131 kasus

Kalimantan Timur: 127 kasus

Kalimantan Tengah: 116 kasus

Kalimantan Barat: 98 kasus

Nusa Tenggara Barat: 86 kasus

Sumatera Selatan: 77 kasus

Lampung: 67 kasus

Sumatera Utara: 66 kasus

Kepulauan Riau: 66 kasus

Bengkulu: 55 kasus

Jambi: 53 kasus

Sulawesi Selatan: 45 kasus

Papua: 44 kasus

Papua Barat: 28 kasus

Sulawesi Tengah: 26 kasus

Aceh: 22 kasus

Kalimantan Utara: 7 kasus

Gorontalo: 7 kasus

Sulawesi Utara: 6 kasus

Sulawesi Tenggara: 6 kasus

Maluku: 5 kasus

Sulawesi Barat: 4 kasus

Maluku Utara: 2 kasus

Mencermati berbagai upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah, bagaimana jika kita memandang musibah bencana nasional ini dari sudut pandang Islami

ISLAM adalah agama yang mengajarkan kelapangan. dimana seluruh ajaran agama, baik dalam bentuk perintah maupun larangan, tidak pernah dirancang untuk menyulitkan manusia. Al-Qur’an di dalam surat Al-Taghabun ayat ke 16 menegaskan :

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لِأَنْفُسِكُمْ ۗ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Maka bertakwallah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.

(QS. Al-Taghâbun/64: 16).

Dengan demikian, sebagai ummat Islam meghadapi Pandemi COVID-19 ini, sikap kita yang pertama adalah Tawakkal kepada Allah SWT

Setiap muslim hendaknya pasrah dan tawakkal kepada Allah. Ingatlah segala sesuatu atas kuasa Allah dan sudah menjadi takdir-Nya. Sebagaimana dicantumkan di dalam At-Taghabun ayat 11:

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taghabun: 11)

Dari Abul ‘Abbas ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ

“Ketahuilah apabila semua umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak bisa memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka pun berkumpul untuk menimpakan bahaya kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak dapat membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena-pena (pencatat takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran (catatan takdir) telah kering.” (HR. Tirmidzi, dan ia berkata bahwa hadits ini hasan shahih).

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah telah mencatat takdir setiap makhluk 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim, no. 2653)

Dalam hadits lainnya disebutkan,

إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ اكْتُبْ. فَقَالَ مَا أَكْتُبُ قَالَ اكْتُبِ الْقَدَرَ مَا كَانَ وَمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى الأَبَدِ

“Sesungguhnya awal yang Allah ciptakan (setelah ‘arsy, air dan angin) adalah qalam (pena), kemudian Allah berfirman, ‘Tulislah.’ Pena berkata, ‘Apa yang harus aku tulis.’ Allah berfirman, ‘Tulislah takdir berbagai kejadian dan yang terjadi selamanya.’” (HR. Tirmidzi, no. 2155. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Dengan meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT, maka kita dapat menyikapi musibah Pandemi COVID-19 ini dengan ikhklas, sehingga semua upaya Pemerintah untuk memutus mata ranti penyebaran COVID-19 bahkan menghilangkannya dari bumi Indonesia yang tercinta ini dapat kita dukung sepenuhnya.

Tidak perlu lagi ada perdebatan pada saat Pemerintah menegaskan untuk tetap beraktivitas di dalam rumah, baik belajar, bekerja maupun beribadah demi terwujudnya harapan kita semua untuk dapat mengakhiri bencana nasional ini.

Allah menciptakan manusia dan tahu persis kadarnya, termasuk kemampuannya menanggung beban dan kesulitan, sebagaimana digambarkjan di dalam Surat Al-Baqarah ayat 185, mengenai perintah puasa yang diikuti dengan penegasan, : “Allah menghendaki bagimu kemudahan, bukan kesulitan” (QS. Al-Baqarah : 185).

Ramadan tahun ini Kembali datang bersama hari-hari yang masih terdampak dari pandemi COVID-19. khususnya dalam menunaikan ibadah bagi kaum Muslimin, dimana biasanya pada bulan suci Ramadhan semua orang berlomba-lomba untuk beribadah dengan memakmurkan Mesjid, namun saat ini pelaksanaan ibadah Sholat Jumat pun dilaksanakan dengan Protokol Kesehatan yang sangat ketat, bahkan kita semua masih ingat pada Ramadhan tahun lalu, sholat Jumat ditiadakan karena kondisi gahar, kita ganti dengan shalat Dhuhur di rumah.

Tuntunannya jelas. sebagaimana diriwayatkan oleh HR. Bukhari di dalam salah satu hadistnya bahwa pada suatu hari Jumat, bertepatan dengan hujan deras, Ibn Abbas, menyuruh mu’adzin mengganti lafal adzan hayya 'ala shalah dengan As Shalaatu fir Rihaal (sholatlah di rumah masing-masing). Orang-orang saling melihat dengan wajah kaget. Ibny berkata, hal ini pernah dilakukan di masa orang yang lebih baik dibanding dirinya (merujuk pada masa Rasulullah SAW) dan ini terbukti." (HR Bukhari).

Ada sahabat yang protes. Jawaban Ibn Abbas pendek, “Ini dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku (maksudnya Nabi Muhammad SAW). Ibadah Jum’at wajib, tapi aku tidak mau menyulitkanmu menempuh jalan yang licin dan becek yang akan membahayakan keselamatan jiawa” (HR. Bukhari).

Selain meniadakan pelaksanaan ibadah sholat Jumat, kita juga juga masih mencatat dalam ingatan bahwa “Illat" kedaruratan wabah Covid-19 lebih besar daripada hujan. Pemerintah telah menetapkan protokol pencegahan penyebaran COVID-19 dengan jaga jarak fisik (physical distancing). Padahal, sejumlah ibadah, seperti shalat Jamat menuntut dilakukan berjamaah, yang artinya mengumpulkan banyak orang. Seluruh ulama di dunia, termasuk di Indonesia, telah mengeluarkan fatwa meniadakan Jumatan (ta’thîl al-jum’at).

Begitu pula dengan pelaksanaan berbagai kegiatan ibadah di bulan Suci Ramadhan tahun lalu yang biasanya diutamakan untuk memakmurkan Mesjid-mesjid, namun karena dampak dari COVID-19 ini, Pemerintah tetap menganjurkan aktivitas ibadah di bulan suci Ramadhan dilaksanakan di dalam rumah.

Dalam situasi saat ini, menghadapi Bulan Ramadhan yang penuh kemuliaan namun dampak dari COVID-19 masih beum sirna dan tetap harus kita waspadai, namun sangat disayangkan masih banyak masyarakat yang mengabaikan ketentuan Protokol Kesehatan, meskipun masjid maupun mushalla menggelar sholat berjamaah dengan berbagai ketentuan sesuai kebijakan Pemerintah, namun masyarakatnya sendiri yang cenderung mengabaikannya.

Untuk itu masih diperlukan upaya untuk memberikam pencerahan atas semua kebijakan yang telah ditetapkan Pemerintah dengan harapan semua masyarakat dapat memahaminya, demi pandemi Covid-19 menghilang dari bumi Indonesia yang kita cintai.

Kembali kepada aturan yang tetrtuang di dalam kitab suci Al-Qurat, surat An-Nisa ayat ke-59, Islam menyuruh umatnya untuk taat dan patuh selain kepada Allah dan Rasul Nya juga harus taat dan patuh kepada ulil amri, dimana menurut Ibn Katsîr dan Al-Jashâsh, ulil amri adalah Ulama dan Umara’.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya

Dari berbagai pemberitaan media, baik media cetak maupun media elektronik, dapat kita ketahui bahwa saat ini Ulama dan Umara’ memiliki suara yang sama.

Baik Ulama maupun Umara ’, Keduanya mendukung peraturan yang ditetapkan oleh Pemerintah, menghimbau pelaksanaan sholat terawih di rumah bersama keluarga dengan tetap memelihara physical distancing selain itu sesuai dengan protokol pencegahan penyebaran COVID-19, setiap orang dianjurkan untuk hidup sehat dengan memelihara kebersihan , antara lain harus sering mencuci tangan dengan menggunakan sabun yang dicuci di air yang mengalir , Hal ini sejalan dengan salah satu hadits yang menyatakan bahwa Kebersihan itu adalah sebagian dari Iman.

اَلنَّظَافَةُ مِنَ الْإِيْمَانِ

“Kebersihan sebagian dari iman.” (HR. Al-Tirmidzi)

Dapat kita maknai bahwa sesungguhnya Allah SWT itu Maha suci yang menyukai hal-hal yang suci, Dia Maha Bersih yang menyukai kebersihan, Dia Maha Mulia yang menyukai kemuliaan, Dia Maha Indah yang menyukai keindahan.

Bila kita cermati, anjuran pemerintah untuk menjaga kebersihan dengan membiasakan selalu mencuci tangan dengan menggunakan sabun yang dicuci di air yang mengalir, hal iini sejalan dengan gambaran bahwa kebersihan iru adalah sebagian dari Iman.

Ketentuan lain yang juga ditetapkan oleh Pemerintah adalah mewajibkan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk menggunakan masker. Jika dipandang dari sudut Islami, penggunaan masker ini dapat kita maknai agar kita selaku ummat Islam harus dapat menjaga mulut antara lain menjaga lisan kita yaitu jangan suka berkata tidak baik, jangan suka membicarakan orang lain dan jangan suka memfitnah.

Hal ini daoat kita lihat pelajari dari apa yang diriwayatkan di dalam hadist berikut :

Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya ia mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesungguhnya seseorang hamba itu niscayalah berbicara dengan suatu perkataan yang tidak ia fikirkan – baik atau buruknya, maka dengan sebab perkataannya itu ia dapat tergelincir ke neraka yang jaraknya lebih jauh daripada jarak antara sudut timur dan sudut barat.” (Muttafaq ‘alaih)”

Selain mencegah agar terhindar dari berbicara tidak baik, memaknai penggunaan masker dari sudut oandang Islami, diharapkan agar kita dapat tetap menjaga mukut kita untuk tidak memfitnah orang lain, Di dalam Al-Qur’an dan hadist sendiri ada banyak makna tentang fitnah, seperti fitnah bermaksud syrik dalam islam yang keluar dari jalan yang benar, sesat, pembunuhan dan kebinasaan, perselisihan dan peperangan, kemungkaran dan kemaksiatan. Termasuk adalah menyebar berita dusta atau bohong atau mengada-ngada yang saat ini dikenal dengan istilah HOAX yang kemudian merugikan orang lain juga termasuk dalam fitnah.

Fitnah merupakan suatu kebohongan besar yang sangat merugikan dan termasuk dalam dosa yang tak terampuni oleh Allah SWT. sebagaimana tersebut di dalam Firman Allah Surat Al Hujurat ayat 12 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Wahai orang yang beriman jauhilah kebanyakan dari prasangka, (sehingga kamu tidak menyangka sangkaan yang dilarang) karena sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah sebagian kamu menggunjing setengahnya yang lain. Apakah seseorang dari kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati? ( Jika demikian kondisi mengumpat) maka sudah tentu kamu jijik kepadanya. (Jadi patuhilah larangan-larangan tersebut) dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Q. S. Al-Hujurat : 12).

Terlepas dari sudut pandang Islami, ancaman yang ada di depan mata bagi Bangsa Indonesia akibat dari Pandemi Covid-19 ini adalah perlambatan ekonomi global karena sebagian besar negara telah menetapkan pembatasan ruang gerak barang dari luar negeri. Aktivitas ekspor-impor terhenti.

Devisa negara menurun. Bencana korona juga sudah pasti membuat neraca keuangan tidak hanya Indonesia, tetapi negara-negara di dunia, berada dalam kondisi tidak sehat. Hal ini disebabkan karena sebagian dana harus dialokasikan untuk menghadapi virus mematikan tersebut.

Neraca keuangan negara yang mengacu pada RAPBN perlu penyesuaian, dengan melakukan Refocusing Anggran pada masing-masing Kementrian dan Lembaga. Pada momen seperti saat ini, solidaritas seluruh elemen bangsa memang sangat dinanti. Covid-19 ibarat musuh yang harus dikalahkan secara bersama-sama.

Pemerintah harus bekerja sama dengan elemen organisasi masyarakat berkaitan dengan langkah-langkah yang harus diambil pemerintah untuk dilaksanakan secara bersama. Pemerintah perlu berperan sebagai komando yang setiap perintahnya harus diikuti semua elemen bangsa. Tanpa adanya kerja sama, sangat sulit untuk meredam persebaran virus ini.

Dalam konteks ketahanan nasional, daya tahan kita sebagai bangsa memang tengah diuji, dimulai dari ketangguhan masyarakat dalam menyiapkan kondisi fisik untuk bisa bertahan melawan virus yang rentan menyerang siapapun tanpa mengenal kelompok usia.

Konfigurasi kekuatan nasional, baik militer maupun nonmiliter, untuk antisipasi kemungkinan-kemungkinan ke depan, serta kepatuhan masyarakat untuk mentaati Protokol Kesehatan adalah mutlak dilakukan.

Solidaritas sesama warga negara ketika berada dalam bencana, menujukkan keluhuran budi Bangs,a Indonesia dalam kehidupan sehari-hari dengan berpedoman teguh kepada Pancasila sebagai way of life menunjukkan bahwa bangsa Indonesia memiliki citra sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur Pancasila yang dapat mendukung terwujudnya ketahanan nasional. Untuk itu, kebijakan nasional yang tepat dan terukur sangat dibutuhkan.

Dari semua apa yang telah diuraikan di atas, sebagai ummat yang beragama, Penulis menghimbau mari kita bersatu untuk melawan penyebaran COVID-19 i dengan mematuhi pertaturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah sesuai Protokol Pencegahan COVID-19.

Untuk menghadapi pandemi COVID-19 dibutuhkan kepatuhan dan kedisiplinan. Disiplin terhadap aturan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah demi keselamatan seluruh rakyat Indonesia dari keganasan penyebaran COVID-19. Untuk itu diharapkan seluruh rakyat Indonesia dapat mematuhi Protokol Kesehatan. (*)

Editor: Sesri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved