Senin, 1 Juni 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Junta Militer Buat Myanmar Bak Suriah, Masjid Ditembaki Dan Pria Digantung Di Masjid

Seorang pemuda yang beristirahat di Masjid Maha Aungmyay, Mandalay tewas ketika tentara melepaskan tembakan ke arah masjid tersebut.

Tayang:
AFP via Capture Aljazeera
Protes penolakan kudeta militer di Myanmar 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Situasi Myanmar saat ini nyaris sama dengan negara Suriah. Banyak warga tak bersalah di negara berjuluk negeri Pagoda Emas itu tewas.

Selalu ada penangkapan dan telusan senajata api yang disusul mayat-mayat bergelimpangan.

Situasi mencekam setelah junta militer berkuasa.

Di salah satu jalan di tengah kota Yangon, Myanmar, tempat banyak warga Muslim bermukim, Ramadhan kali ini menyisakan trauma mendalam.

Pada pekan pertama Ramadhan lalu, banyak warga yang melayat seorang pemuda yang ditemukan tergantung di masjid dengan kondisi dipakaikan baju perempuan.

Tidak ada keterangan resmi apa yang terjadi. Nmun di media sosial, warga banyak membicarakan apa yang terjadi adalah aksi militer.

Daw Zi, bukan nama sebenarnya, termasuk di antara yang melayat pemuda yang sering menjaga masjid itu.

"Sangat menyedihkan dan sangat sulit kondisi di sini. Pemuda itu sendiri di masjid saat ditangkap dan meninggal," kata Daw Zi, perempuan berusia 35 tahun.

Warga Muslim yang tinggal di seputar tempat tinggalnya itu termasuk orang Myanmar sendiri, orang Rohingya, dan Muslim dari Asia selatan.

"Kami takut ke masjid pada malam hari. Tak ada yang berani. Kami pulang ke rumah sebelum maghrib dan melakukan tarawih di rumah. Kami buka puasa juga di rumah. Tak aman shalat di masjid," tambah perempuan keturunan Rohingya ini kepada wartawan BBC News Indonesia, Endang Nurdin.

Kabar yang terjadi di Mandalay pada hari pertama Ramadhan juga terdengar oleh mereka di Yangon.

Seorang pemuda yang beristirahat di Masjid Maha Aungmyay, Mandalay tewas ketika tentara melepaskan tembakan ke arah masjid tersebut.

Media ini mengutip para saksi mata yang mengatakan tentara langsung melepaskan tembakan dan Ko Htet, pemuda itu, ditembak di dada dan meninggal di tempat.

"Kami sama sekali tak aman. Mereka seolah memberi kami kebebasan semu yang dapat diambil kapan saja." kata Daw Ma Aye, perempuan berusia pertengahan 20-an, yang tinggal di Yangon.

"Akan selalu ada penahanan tak terduga-duga tanpa alasan apapun. Jadi sama sekali tak aman untuk salat di masjid," imbunya kepada BBC News Indonesia.

Ketakutan menjadi sasaran Selain Daw Zi, dan Daw Ma Aye, anak muda Muslim lain, U Jee, bukan nama sebenarnya, juga merasa waswas dan selalu berwaspada, takut menjadi incaran.

"Tidak, kami tak bisa shalat tarawih karena jam malam. Namun militer juga secara rutin dan acak memeriksa masjid. Mereka dapat menahan orang yang berkunjung ke masjid dan membuat orang takut pergi ke masjid, karena itu sejumlah masjid tutup," cerita U Jee.

"Selama siang hari, sebelum buka puasa, orang-orang di tengah kota mencoba menjual makanan di tengah situasi penuh risiko dan bahaya. Mereka perlu menjual sesuatu untuk menyambung hidup," sambung U Jee.

"Setelah jam 19.00 malam, semuanya tutup, orang-orang di dalam rumah dan berdiam. Sepanjang malam, banyak polisi dan tentara yang berpatroli di seputar tengah kota," tambahnya.

Daw Zi, Daw Ma, dan U Jee termasuk anak-anak muda yang ikut serta dalam protes besar yang pecah setelah militer melancarkan kudeta pada 1 Februari lalu.

Dari ketiga mereka, hanya Daw Zi yang orang Rohingya. Cecep Yadi, seorang warga Indonesia yang berteman baik dengan ketiganya saat tinggal di Yangon, mengatakan kondisi saat ini benar-benar traumatis buat semua.

"Ramadhan tahun lalu sangat damai. Aktifitas seperti biasa. Tempat belanja, pasar, restoran buka seperti biasa. Warga Muslim juga berpuasa dengan lancar dan damai," kata Cecep.

Namun dalam dua bulan terakhir, anak-anak muda Myanmar, tak terkecuali termasuk yang Muslim berada dalam kondisi kekhawatiran.

"Mereka benar-benar trauma dan sedih, melihat orang meninggal setiap hari, di depan mata. Meninggal karena disiksa, dibunuh oleh polisi dan tentara," kata Cecep yang meninggalkan Myanmar akhir Maret.

"Saya sendiri sangat trauma dua bulan di zona perang, menyaksikan apa yang terjadi dan dengan perjuangan keluar dari Myanmar. Kesedihan dan trauma terberat yang pernah saya alami," tambah Cecep.

Ia mengatakan, upaya untuk keluar dari negara itu cukup berat dengan surat dari KBRI dan penjagaan tentara di polisi sampai ke bandara.

Protes besar yang diikuti ribuan orang di banyak kota di Myanmar sepanjang Maret lalu dibalas militer dengan kekerasan dan menyebabkan paling tidak 700 orang meninggal, termasuk puluhan anak-anak, sementara banyak lainnya ditahan.

(*)

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved