Breaking News:

Presiden Prancis Dihantui Kudeta Oleh Para Jendral yang Ketakutan Dengan Ekstremis Muslim

Para pensiunan perwira tersebut mengklaim bahwa Perancis "hancur oleh kelompok ekstremis Muslim.

Reuters/Aljazeera.com
Presiden Perancis Emmanuel Macron 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Presiden Perancis Emmanuel Macron dibayang-bayangi oleh Kudeta Militer yang dilakukan para pensiunan jendral.

Dua puluh pensiunan jenderal, serta beberapa tentara yang masih bertugas, menandatangani surat yang memperingatkan bahwa kegagalan untuk tindakan melawan "kelompok pinggir kota", akan berakibat fatal.

Kelompok yang dimaksud adalah populasi imigran yang tinggal di pinggiran kota-kota Perancis, yang dikhawatirkan para jenderal ditumpangi ekstremis muslim dan memicu perang saudara. 

Perancis sangat mengutuk surat para jenderal, yang dipublikasikan pada saat peringatan 60 tahun kudeta militer yang gagal oleh para jenderal, yang menentang Perancis memberikan kemerdekaan kepada Aljazair.

Macron pun mengancam akan memberikan hukuman kepada para jenderal yang menandatangani surat "hasutan" kudeta militer. 

Menteri Pertahanan Florence Parly mengatakan aksi para pensiunan jendral tersebut merupakan hal yang tak terduga.

"Ini tindakan yang tidak terduga," kata Parly pada Senin (26/4/2021) seperti yang dilansir dari Daily Mail pada Selasa (27/4/2021). 

Menurutnya, anggota militer yang bertugas telah melanggar undang-undang yang mengharuskan netral secara politis.

"Akan ada konsekuensi," kata Parly, menambahkan bahwa dia telah menginstruksikan kepala staf angkatan darat untuk mendisiplinkan mereka.

Surat terbuka dipublikasikan di Valeurs Actuelles, majalah sayap kanan, yang mengklaim bahwa kudeta militer mungkin diperlukan untuk menghentikan "perang saudara" di Perancis.

Meski mendapat kecaman dari pemerintah dan partai sayap kiri, Marine Le Pen mendukung surat yang ditandatangani oleh 80 perwira, serta 20 jenderal tersebut.

"Saya mengundang Anda untuk bergabung dengan kami untuk mengambil bagian dalam pertempuran yang akan datang, yang merupakan pertempuran Perancis," ujar Marine Le Pen, politikus sayap kanan Perancis menanggapi surat itu.

Le Pen, rival Macron dalam pemilu lalu, dikritik secara luas oleh lawan-lawannya di kiri dan kanan karena tawarannya kepada para tentara di balik "seruan untuk menghasut", menurut harian sayap kiri, Liberation.

Tokoh utama yang menandatangani surat "hasutan" tersebut adalah Christian Piquemal (80 tahun) yang memimpin Legiun Asing Perancis sebelum kehilangan hak istimewa sebagai pensiunan perwira, setelah ditangkap saat mengambil bagian dalam demonstrasi anti-Islam pada 2016.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved