Breaking News:

Hak Paten Pembuatan Vaksin Covid-19 Dibebaskan, Amerika Serikat Ingatkan China Jangan Curi Teknologi

Amerika Serikat ingatkan China untuk tidak memanfaatkan pembebasan hak paten atas Vaksin Covid-19 demi kepentingan farmasi mereka.

Luis ACOSTA / AFP
Foto diambil pada 4 Maret 2021 botol vaksin Pfizer-BioNTech melawan Covid-19 terlihat saat orang tua diinokulasi di tengah pandemi virus corona baru, di sekolah Belisario Porras lingkungan San Francisco di Panama City. Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) pada 10 Mei 2021 mengesahkan penggunaan vaksin Pfizer-BioNTech Covid-19 pada anak-anak berusia 12 hingga 15 tahun. 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Amerika Serikat ingatkan China untuk tidak memanfaatkan pembebasan hak paten atas Vaksin Covid-19 demi kepentingan farmasi mereka.

Pemerintahan Joe Biden khawatir pembebasan paten vaksin Covid-19 dimanfaatkan China untuk mencuri teknologi negeri Paman Sam tersebut.

Amerika Serikat kini sedang memeriksa cara untuk memastikan bahwa pengabaian paten vaksin COVID-19 untuk membantu negara-negara miskin tidak akan menyerahkan teknologi biofarmasi AS yang sensitif ke China dan Rusia.

Sikap ini muncul menanggapi serangkaian kekhawatiran, kata pejabat AS dan industri.

Dilansir dari Reuters, Selasa (11/5/2021), Presiden Joe Biden pada Rabu lalu mendukung AS memasuki negosiasi di Organisasi Perdagangan Dunia untuk pengabaian hak kekayaan intelektual sebagai cara untuk meningkatkan pasokan vaksin dengan mengizinkan negara-negara miskin untuk membuat sendiri.

Sejauh ini, vaksin telah banyak didistribusikan ke negara-negara kaya, yang memperoleh kontrak untuk mereka awal tahun ini.

Tingkat infeksi COVID-19 di negara-negara kaya telah turun karena tingkat vaksinasi meningkat tahun ini, tetapi infeksi masih meningkat di 36 negara , dengan kasus harian di India meroket hingga hampir 400.000 per hari.

Perusahaan farmasi Barat, banyak di antaranya telah menerima dukungan pemerintah untuk mengembangkan vaksin, sangat menentang pengalihan kekayaan intelektual untuk membuatnya.

Mereka mengatakan negara-negara yang lebih miskin akan lambat dalam menyiapkan kapasitas manufaktur dan bersaing untuk mendapatkan pasokan yang langka, sehingga berdampak pada produksi.

Albert Bourla, CEO Pfizer Inc, mengatakan pada hari Jumat bahwa pengesampingan yang diusulkan akan mengganggu kemajuan yang dibuat sejauh ini dalam meningkatkan pasokan vaksin.

Halaman
123
Penulis: Firmauli Sihaloho
Editor: Ilham Yafiz
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved