Breaking News:

Anggota DPRD Riau Sebut Kasus Covid-19 di Riau Tidak akan Berakhir, Ini Solusinya

Ketua Fraksi Golkar DPRD Riau Parisman Ihwan mengatakan Kasus Covid-19 di Riau tidak akan berakhir, jika bupati dan walikota tidak bersama-sama

Penulis: Nasuha Nasution | Editor: Nolpitos Hendri
Tribun Pekanbaru / Nasuha Nasution
Anggota DPRD Riau Sebut Kasus Covid-19 di Riau Tidak akan Berakhir, Ini Solusinya. Foto: Parisman Ihwan 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Ketua Fraksi Golkar DPRD Riau Parisman Ihwan mengatakan Kasus Covid-19 di Riau tidak akan berakhir, jika bupati dan walikota tidak bersama-sama melakukan pencegahan.

Pemprov Riau dan Satgas Covid-19 tugasnya hanya fasilitasi dalam penanganan Covid-19 di Riau, sedangkan aksi yang harus dilakukan berada di tingkat Kabupaten dan Kota.

"Soal Covid-19 di Riau , provinsi itu tugasnya sebagai fasilitasi, yang punya wilayah dan punya warga itu ada di Kabupaten dan Kota, jadi harus bergerak di tingkat Kabupaten dan Kota,"ujar Parisman Ihwan kepada tribunpekanbaru.com Jumat (28/5/2021).

Menurut Parisman Ihwan, kalau tidak semua bersama-sama dari tingkat paling bawah mulai dari lurah camat dan walikota Bupati, politisi Golkar ini tidak yakin covid cepat berakhir.

"Ini akan terjadi terus dan tidak akan selesai, kalau memang tidak ada action bergerak dari semua tingkatan. Kepala daerah ikut bertanggungjawab bersama provinsi dalam pencegahan,"ujarnya.

Iwan Fatah juga menyayangkan di Pekanbaru masih ramai warga yang keluyuran di kedai-kedai kopi bahkan membuat kerumunan, harusnya lanjut Iwan Fatah dengan kondisi saat ini harus ditertibkan.

"Saya tinggal di Pekanbaru dan kondisinya memang tidak ada berubah dari sebelumnya, bagaimana kita bisa keluar dari Pandemi Covid-19 ini, padahal pak Presiden minta dua Minggu ini harus turun kasus di Riau,"ujarnya.

Maka yang terpenting saat ini menurut Iwan Fatah, adalah aksi yang dilakukan dari semua jenjang mulai dari tingkat Lurah bahkan RT dan RW harus ikut bergerak, camat dan tentunya Walikota.

"Jangan seperti selama ini hanya Satgas di Provinsi dan Polda terus yang bergerak, tapi hingga ke jajaran paling bawah harus bergerak semuanya,"jelas Iwan Fatah.

Kalau soal anggaran menurut Iwan Fatah tidak ada masalah lagi, apalagi selama ini APBD Riau banyak yang dialihkan ke penanganan Covid. 

"Persoalannya di Riau masalah minimnya Testing dan tracing yang masih kurang, jadi itu yang harus digencarkan semuanya hingga tingkat paling bawah,"jelas Iwan Fatah.

Masyarakat Pekanbaru Bisa Ikut Vaksinasi Covid-19 di Bus keliling

Cuma modal Kartu Tanda Penduduk atau KTP , masyarakat Pekanbaru bisa ikut vaksinasi Covid-19 di bus keliling.

Satu persatu masyarakat Pekanbaru mendatangi halaman Masjid Al Falah, Jalan Sumatera, Kota Pekanbaru pada Jumat (28/5/2021) untuk mengikuti vaksinasi Covid-19 .

Satu bus keliling berwarna biru melayani masyarakat vaksinasi Covid-19 di halaman masjid tersebut.

Sejumlah petugas juga tampak membantu proses vaksinasi di dalam bus.

Satu orang penerima vaksin, Fitri mengaku tidak merasakan efek sampai usai disuntik vaksi.

Ia mengaku kondisinya normal pasca observasi selepas disuntik vaksin.

Wanita berkerudung ini menilai bahwa keberadaan bus ini memudahkan masyarakat untuk memperoleh vaksin.

Ia menyebut proses pendataannya tidak sulit

"Dengan bua kelilibg lebih mudah, prosnya saat datang, kasi KTP langsung bisa disuntik," ujarnya usai disuntik vaksin.

Wanita itu nantinya bakal mendapat vaksin kedua di Rumah Sakit Daerah (RSD) Madani.

Penerima vaksin lainnya, Dwi Wibowo juga merasakan kemudahan dengan adanya bus vaksin keliling.

"Selepas jumatan tadi, saya tanya bagaimana cara vaksin, ternyata bisa," ungkapnya.

Pria tersebut mengaku selama ini belum dapat informasi seputar lokasi vaksinasi.

Ia pun langsung percaya diri untuk divaksin usai mendapat informasi dari pengurus masjid.

"Adanya bus ini, kita jadi terbantu. Apalagi masyarakat yang rumahnya jauh," papar pria yang sehari-hari bekerja sebagai advokat.

Dokter Penanggung Jawab Bus Vaksin Keliling, Siti Sarah mengaku bahwa minat masyarakat terbilang bagus.

Jumlah masyarakat yang sudah disuntik vaksin di bus tersebut terus bertambah hingga sore.

"Adanya bus vaksin keliling membuat masyarakat lebih terbantu, terutama bagi yang usia lanjut," jelasnya.

Satu bus menyediakan 10 vial vaksin covid-19.

Dosis yang tersedia cukup untuk seratus orang.

"Kalau nanti kurang bisa tambah dari rumah sakit," ujarnya.

Pasien Positif Covid-19 di Riau Membludak

Nasib Pasien Covid-19 di Riau , Positif Covid-19 membludak di enam kabupaten di Riau, sehingga tak tertampung di rumah sakit, apa sebab?

RS di 6 Kabupaten di Riau mulai kesulitan menampung pasien Covid-19 yang melonjak tajam, bahkan yang tak tertampung lagi terpaksa dikirim ke Pekanbaru.

Juru Bicara (Jubir) Penanganan Satgas Covid-19 Provinsi Riau, dr Indra Yovi mengungkapkan, melonjaknya angka kasus baru dan angka kematian akibat Covid-19 di Riau sudah diprediksi sejak Maret 2021 lalu.

"Kita perkirakan kasus di bulan Mei ini tembus 15 ribu kasus dalam sebulan.

Ini kasus tertinggi, karena di tahun 2020 lalu itu paling tinggi terjadi di bulan Oktober sebanyak 7 ribu kasus.

Kemudian kasus tertinggi juga terjadi di bulan April 2021 sebanyak 9 ribu kasus, bulan ini prediksi kita 15 ribu kasus," kata Indra Yovi saat menyampaikan keterangan persnya di hadapan media, Kamis (27/5/2021).

Yovi mengungkapkan, jika dalam sehari ada penambahan 1000 kasus, maka Riau akan kesulitan dalam menangani pasien Covid-19.

Jika hal ini terjadi, maka petugas kesehatan dan rumah sakit akan kewalahan menangani pasien Covid-19 di Riau.

"Hari ini saja, jumlah keterisian rumah sakit besar di Riau itu sudah 80 persen, kalau untuk ruang ICU sudah hampir 100 persen," ujarnya.

Dalam beberapa hari terakhir, rumah sakit besar di Kota Pekanbaru banyak mendapatkan kiriman pasien Covid-19 yang bergejala sedang hingga berat dari kabupaten kota.

"Ada dari Pelalawan, Siak, Inhu, Taluk Kuantan, Kampar dan Bengkalis," katanya.

Yovi mengungkapkan, enam kabupaten tersebut terpaksa harus merujuk pasien Covid-19 ke Kota Pekanbaru karena rumah sakit yang ada di daerah mereka sudah penuh.

Sehingga pasien terpaksa harus dikirim ke Pekanbaru untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit yang ada di Pekanbaru.

"Daerah yang saya sebutkan tadi (Pelalawan, Siak, Inhu, Taluk Kuantan, Kampar dan Bengkalis) itu rumah sakit nya sudah 100 persen terisi, sehingga mereka harus mengirim ke Pekanbaru," ujarnya.

Seperti diketahui, angka kasus harian Covid-19 di Riau, pada Rabu (26/5/2021) kemarin memecahkan rekor baru dan tertinggi se Indonesia dengan jumlah penambahan kasus baru sebanyak 739 kasus.

Total hingga saat ini kasus Covid di Riau sudah tembus 56.891 kasus.

Sedangkan untuk pasien meninggal dunia akibat Covid bertambah 27 orang dalam sehari.

Total 1.496 kasus di Riau yang meninggal dunia akibat Covid-19.

Kasus Covid-19 di Riau Tertinggi di Indonesia

Gawat! Kasus Covid-19 di Riau tertinggi di Indonesia karena hari ini capai 739 kasus dan sebanyak 27 meninggal dunia. 

Penambahan Kasus Covid-19 di Riau ini memecahkan rekor baru karena pada Rabu (26/5/2021) terdapat penambahan 739 kasus baru pasien terkonfirmasi Covid-19.

Jumlah Kasus Covid-19 di Riau merupakan angka terbanyak sepanjang Pandemi Covid-19 masuk ke Riau yang lebih setahun.

Tidak hanya memecahkan rekor baru di Riau, penambahan Kasus Covid-19 di Riau hari ini bahkan menempatkan Riau menduduki peringkat teratas se Indonesia untuk penambahan kasus baru pasien terkonfirmasi Covid-19.

Dibawah Riau ada Jawa Barat dengan penambahan kasus baru sebanyak 660 kasus.

Sedangkan diurutan ketiga DKI Jakarta dengan penambahan kasus baru sebanyak 617 kasus.

Dengan adanya penambahan 739 kasus baru, maka total Kasus Covid-19 di Riau hingga saat ini sebanyak 56.906 kasus.

Tidak hanya penambahan kasus baru yang mencatat rekor baru, angka kematian akibat Covid-19 di Riau juga memecahkan rekor baru sepanjang Pandemi Covid-19 melanda Riau. 

Rabu (26/5/2021) terdapat 27 pasien yang meninggal dunia akibat Covid-19 di Riau.

Dengan adanya penambahan tersebut, maka total pasien Covid-19 yang meninggal dunia di Riau mencapai 1.496 kasus. 

Sedangkan untuk pasien yang sembuh dari Covid-19 ada penambahan sebanyak 347 kasus.

Total pasien sembuh dari Covid-19 di Riau sebanyak 50.166 kasus.

Juru Bicara Satgas Covid-19 Riau, dr Indra Yovi daat dikonfirmasi terkait lonjakan kasus Covid-19 ini mengingatkan kepada pemerintah kabupaten kota untuk lebih serius lagi mengatasi penyebaran Covid-19 di wilayahnya masing-masing.

Sebab dengan adanya penambahan ini membuktikan pemerintah kabupaten kota belum maksimal dalam melakukan pencegahan.

"Ini cambuk bagi kita untuk lebih serius lagi dalam menangani Covid-19.

Keseriusan ini harus diperlihatkan oleh pemerintah kota dan kabupaten, kalau provinsi kan sifatnya memberikan arahan dan masukan serta teknis penanganan. Untuk pelaksanaanya kan itu kota dan kabupaten," kata Indra Yovi, Rabu (26/5/2021).

Yovi menegaskan, dengan tingginya lonjakan kasus Covid-19 di Riau, maka Pelaksanaan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) harus diperkuat. 

"Aturan PPKM itu dijalankan, aturanya kan jelas, tinggal pelaksanaanya saja, jangan hanya aturan itu sekedar aturan saja, tapi pelaksanaanya tidak ada, sanksi tidak ada, kan Perdanya ada, silahkan dijalankan, berikan sanksi bagi pelanggar protokol kesehatan," ujarnya.

Untuk menekan angka Covid-19 tidak ada cara lain, protokol kesehatan harus di jalankan.

Memamai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dan menjauhi kerumunan.

"Ditambah lagi dengan vaksinasi," katanya. 

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Mimi Yuliani Nazir, mengatakan, kenaikan kasus positif Covid-19 di Riau, didominasi dari klaster keluarga semakin bertambah pasca lebaran.

Untuk kaster keluarga, yang biasanya hanya 3 sampai 5 orang termomfirmasi, untuk saat ini mencapai 5 sampai 10 orang terpapar Covid-19 dalam satu keluarga.

“Pasca lebaran kasus positif Covid-19 naik dan hari ini memang kasus tertinggi di Riau, setelah sebelumnya berada dibawah 600 kasus," kata Mimi, seraya mengungkapkan, lonjakan penambahan kasus Covid-19 di Riau masih dari klaster keluarga. 

"Bayangkan saja satu keluarha itu yang terpapar 6 sampai 10 orang, bahkan ada yang satu keluarga yang kena 18 orang, setelah di tracing keluarganya,” imbuhnya. 

Mimi merincikan, untuk kota Pekanbaru saja ada sebanyak 25 klaster keluarga, kalau 10 orang saja satu keluarga sudah mencapai 250 orang. 

"Belum lagi di Bengkalis, Kampar, dan daerah lainnya yang kasusnya hampir sama klaster keluarga, apa tidak besar jadinya dan kasus tinggi,” ujar Mimi. 

Saat disinggung apakah klaster keluarga ini disebabkan karena adanya aktifitas warga yang saling mengunjungi keluarganya saat lebaran ini, Mimi tidak menjelaskan secara tegas.

Namun lonjakan yang terjadi saat ini memang sesuai dengan prediksi sebelumnya, kasus akan naik pasca lebaran. 

Sebab sebelum lebaran kasus positif di Riau juga tinggi, dan hanya turun beberapa hari saat lebaran.

Usai lebaran mulai naik lagi, setelah banyaknya orang yang masuk ke Riau, banyaknya masyarakat yang abai terhadap prokes, dan masih meningkatnya mobilisasi, pada saat puasa, baik buka puasa bersama, kumpul-kumpul termasuk ada yang lolos mudik.

“Inikan yang sekarang yang meningkat ini cerminan dari dua minggu lalu sebelum lebaran.

Di awal lebaran akhir puasa, kasus menurun, dan kita bisa lihat bersama saat bulan puasa banyak buka puasa bersama, mall buka, kegiatan yang mengumpulkan masa juga, mudik ada juga yang lolos, termasuk orang pendatang ke Riau, pastilah berkumpul lagi dengan keluarga.

Tanpa prokes dan abai tentu bisa saja terpapar, makanya banyak klaster keluarga,” kata Mimi.

Berita Terkait Kasus Covid-19 di Riau Lainnya

Baca juga berita Tribunpekanbaru.com berjudul " Anggota DPRD Riau Sebut Kasus Covid-19 di Riau Tidak akan Berakhir, Ini Solusinya  " Tribunpekanbaru.com di Babe dan Google News.

Artikel berjudul " Anggota DPRD Riau Sebut Kasus Covid-19 di Riau Tidak akan Berakhir, Ini Solusinya " ini ditulis wartawan Tribunpekanbaru.com / Nasuha Nasution .

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved