Breaking News:

Petugas Penanganan Covid-19 di Riau Mulai Jenuh Tracing Pasien Lewat Telepon, Ada Apa?

Petugas medis di Puskesmas dan fasilitas kesehatan milik pemerintah lainnya mulai jenuh dengan pekerjaan mereka melakukan tracing pasien lewat telepon

Penulis: Nasuha Nasution
Editor: Ariestia
Manjunath Kiran / AFP
FOTO ILUSTRASI - Petugas medis baik di Puskesmas maupun di fasilitas kesehatan milik pemerintah lainnya mulai jenuh dengan pekerjaan mereka melakukan tracing pasien lewat telepon. 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Petugas medis baik di Puskesmas maupun di fasilitas kesehatan milik pemerintah lainnya mulai jenuh dengan pekerjaan mereka melakukan tracing pasien lewat telepon.

Meskipun pimpinan mereka selalu berkoar petugas kesehatan harus melakukan upaya testing, tracing dan treatment kepada terkonfirmasi positif Covid-19.

Nyatanya di lapangan, itu tidak berjalan dengan baik.

Apalagi sampai saat ini insentif yang dijanjikan pemerintah kepada mereka masih menunggak beberapa bulan, ini tentunya berdampak kepada kinerja mereka.

Dalam beberapa kasus dan pengakuan pasien yang sempat terkonfirmasi positif Covid-19, petugas tidak lagi melakukan tracing ke lokasi.

Bahkan masyarakat yang terkonfirmasi positif seperti dicueki petugas.

Seperti yang dialami seorang warga yang sempat terkonfirmasi positif beberapa waktu lalu, Iyaf yang tinggal di Pekanbaru.

Ia mengaku terkejut saat dilakukan tracing oleh petugas melalui sambungan telepon.

"Anehnya kok polisi yang melakukan tracing, dan itupun hanya bertanya lewat sambungan telepon, petugas kesehatan dari puskesmas satu pun tidak ada turun melakukan tracing," ujar Iyaf bercerita.

Iyaf terkonfirmasi positif setelah merasa ada gejala dan melakukan swab secara mandiri di sebuah RS Swasta di Pekanbaru, setelah mendapatkan hasil positif, Iyaf langsung melakukan isolasi mandiri di rumahnya.

"Seharusnya kan rumah saya didatangi petugas dan melakukan tracing kepada siapa saja kontak, langsung di swab, ini dengan inisiatif kami sendiri saja melakukan swab, petugas dari puskesmas tidak ada turun," ujar Iyaf.

Iyaf mengaku sedikit kesal, karena selama menjalani isolasi secara mandiri di rumahnya, bahkan hingga 18 hari lamanya tidak pernah ditanyakan kondisinya oleh petugas.

Bahkan ingin mengecek kembali apakah sudah negatif atau tidak, dilakukannya dengan cara usaha sendiri.

"Saya datang ke Puskesmas dan bilang kalau saya sebelumnya sempat positif, dan baru bisa ikut swab, hasilnya pun tidak pernah diberitahu setelah uji swab itu, ini sudah 8 hari setelah swab,"ujarnya.

Karena ada rasa khawatir, Iyaf berusaha berbagai cara agar mengetahui hasil swabnya, apakah sudah negatif.

Ia pun melakukan komunikasi dengan puskesmas tempat dirinya swab sebelumnya.

"Kebetulan ada yang membantu dan saya dapat penjelasan, kalau namanya sudah hilang dari papan pengumuman berarti sudah negatif, sementara saya terus menunggu informasi itu," ujar Iyaf.

Tidak itu saja, Iyaf juga mempertanyakan penyemprotan disinfektan yang harusnya dilakukan di rumah pasien terkonfirmasi positif Covid-19.

"Sampai sekarang tidak ada pakai semprot rumah saya, dan apa petugasnya sudah lelah juga, kita nggak tahu," ujar Iyaf.

Padahal jika dilakukan tracing, banyak titik yang harus dilakukan tracing, termasuk tempat bekerja Iyaf sehari-hari, harus dilakukan tracing.

Begitu juga yang dialami seorang warga Pekanbaru, Ikhwan, kepada Tribunpekanbaru.com juga bercerita tidak ada petugas yang melakukan pengecekan mereka ke rumah saat positif covid.

"Jadi yang punya inisiatif itu kami, karena kondisi sudah makin parah kami berangkat ke Rumah Sakit untuk isolasi di sana, treatment dan tracingnya nggak ada,"ujar Ikhwan.

Bahkan apa yang selama ini digaungkan Gubernur dan Satgas menurut Ikhwan tidak berjalan pada tataran eksekusi di lapangan.

"Gimana mau turun kasus Covid, petugasnya tidak ada yang serius, pak Gubernur selalu berkoar bersama Satgas, tapi kenyataannya beda di lapangan,"ujar Ikhwan.

Persoalan belum cairnya insentif tenaga kesehatan covid menjadi permasalahan serius yang disampaikan Dirut dari masing-masing RSUD Kabupaten dan Kota di Riau saat hearing bersama DPRD pakan lalu.

Kemudian diakui juga bahwa hampir semua Rumah Sakit kekurangan tenaga perawat dan dokter untuk penanganan covid di Riau. (Tribunpekanbaru.com/Nasuha Nasution)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved