Breaking News:

TERNYATA Ini Penyebab Garuda Merugi: Sewa Pesawat Lebih Mahal dari Maskapai Lain

Kementerian BUMN menyebutkan, salah satu biang kerok ruginya Garuda Indonesia adalah kesepakatan harga pesawat dari perusahaan lessor.

Sehingga tak aneh jika sempat beredar di media sosial tentang perubahan call sign di pesawat Garuda Indonesia dari PK (Indonesia) menjadi VQ (Bermuda).

Ia mengungkapkan, saat ini memang sudah banyak pesawat Garuda Indonesia yang di grounded oleh para lessor dan tidak bisa lagi dipakai. Sehingga saat ini maskapai pelat merah tersebut beroperasi dengan jumlah pesawat yang minimum.

Baca juga: MENGUAK Informasi Rahasia Tempat Kasus Pertama Covid-19 Muncul: China Dinilai Tak Terbuka

Baca juga: KETIKA Pak Kades Mengayomi Istri Orang di Rumah: Ketahuan & Kabur Lewat Jendela

Baca juga: CEK Zodiak Kamis (10/6/2021): Gemini Ada Masalah Nih, Libra Diliputi Egoisme

 

"Jadi lessor ini punya hak buat grounded pesawat yang tidak di bayar kewajiban leasing-nya.

Saat ini sudah banyak pesawat yang di-grounded oleh lessor-lessor ini, sehingga saat ini Garuda beroperasi minimum dengan 50 pesawat," ungkapnya.

Kondisi kritis tersebut membuat Kementerian BUMN memutuskan mengambil tindakan drastis dengan melakukan restrukturisasi utang secara dalam.

Sebab jika tidak, Garuda Indonesia akan berhenti beroperasi karena arus kas (cash flow) yang sangat terbatas, bahkan minus setiap bulannya.

Berdasarkan data Kementerian BUMN, beban biaya Garuda Indonesia mencapai 150 juta dollar AS per bulan, namun pendapatan yang dimiliki hanya 50 juta dollar AS.

Artinya perusahaan merugi 100 juta dollar AS atau sekitar 1,43 triliun (kurs Rp 14.300 per dollar AS) setiap bulannya.

"Jadi sekarang kami sedang lakukan kajian-kajian, dan melibatkan para adviser bagaimana tindakan-tindakan yang bisa kami lakukan bersama kreditur dan lessor," kata Kartika.

Lessor nakal

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved