Breaking News:

Kabupaten Terluar di Indonesia Itu Punya Segudang Potensi

Selain kopi Liberika, hasil perkebunan unggulan lain dari Meranti ialah Sagu yang sudah menjadi kearifan lokal

Penulis: Firmauli Sihaloho | Editor: Firmauli Sihaloho
Istimewa
Festival Perang Air Kepulauan Meranti 

“Presiden RI Pertama yang Mengunjungi Kabupaten Kepulauan Meranti adalah Joko Widodo. Pada tahun 2014, Presiden Jokowi Terkesima dengan Hasil Sagu dan Berharap Industri ini  Menjadi Sumber Ketahanan Pangan Masa Depan.”

Berdiri pada tahun 2008, Kepulauan Meranti sah menjadi bagian dari Provinsi Riau. Berada di perairan Selat Malaka, Kepulauan Meranti memiliki cerita sejarah dan budaya sendiri. Bahkan berbeda dari Kabupaten lainnya di Bumi Lancang Kuning yang dikenal dengan bentangan perkebunan kelapa sawit.

Atas perbedaan itulah Kepulauan Meranti memiliki ciri khas yang kemudian menjadi penyangga roda perekonomian masyarakat. Dua ciri yang seharusnya menjadi perhatian untuk dikembangkan itu ialah Kopi Liberika dan Perkebunan Sagu. Dua hasil alam ini bahkan menjadi favorit masyarakat di negeri jiran Malaysia dan Singapura.

Pasalnya, Meranti masuk ke dalam kawasan Segitiga Pertumbuhan Ekonomi (Growth Triangle) Indonesia-Malaysia-Singapura (IMS-GT). Yang secara tidak langsung, Kabupaten ini menjadi daerah hinterland kawasan Free Trade Zone (FTZ).

Seorang Petani dan Pengusaha Kopi Liberika Meranti, Solehudin mengakui kopi liberika beberapa tahun belakangan ini mulai dikenal masyarakat Indonesia.

“Di Meranti ini, Desa Kedaburapat merupakan sentra utama penghasil kopi Liberika dengan luas lahan sekitar 775 hektar. Dimana, dalam satu batang pohon kopi liberika bisa menghasilkan lebih kurang sekitar 15–20 kg buah kopi. Jika sudah mulai berbuah, dalam kondisi ideal kopi liberika meranti bisa dipanen 20 hari sekali,” kata Dia kepada tribunpekanbaru.com beberapa waktu lalu.

Dari hasil panen itu, jelas Soleh melanjutkan, ada yang diolah sendiri menjadi bubuk namun banyak juga yang memesan dalam bentuk green bean.

Dan untuk setiap bulannya, dirinya selalu mengirim Kopi Liberika ke berbagai daerah di Indonesia hingga Malaysia.

Dari berbagai data yang dikumpulkan tribunpekanbaru.com, dengan luas lahan 775 hektar, petani di Meranti bisa memproduksi rata-rata 800 kg/tahun untuk setiap satu hektar lahan. Lalu, keuntungan dari hasil penjualan kopi per hektar tadi berkisar Rp 2.5 juta/bulan.

Disamping soal harga, kopi liberika ini juga memiliki hasil produksi lebih tinggi jika dibandingkan kopi robusta. Mengingat jenis ini bisa berbuah sepanjang tahun dengan panen sekali sebulan.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved