Breaking News:

Husni Merza, Anak Pesantren yang Tak Pernah Berpikir Masuk Gelanggang Politik dan Jadi Wabup Siak

Husni Merza, BBA, MM tidak pernah menyangka bakal meramaikan gelanggang politik praktis sebelumnya.

Penulis: Mayonal Putra | Editor: Ariestia
tribunpekanbaru.com
Wakil Bupati Siak Husni Merza 

TRIBUNPEKANBARU.COM, SIAK - Husni Merza, BBA, MM tidak pernah menyangka bakal meramaikan gelanggang politik praktis sebelumnya.

Nyatanya, Senin (21/6/2021) ini ia dilantik menjadi wakil bupati Siak periode 2021-2026 mendampingi Drs H Alfedri MSi sebagai bupatinya.

Dalam bincang santai dengan Tribun Pekanbaru, Husni bertutur pelantikan tersebut dirasakannya sangat sakral. Di usia 47 tahun, tanpa terafiliasi ke partai politik manapun sebelumnya, jabatan wakil bupati ternyata tiba pada dirinya.

“Saya seakan tidak percaya bahwa hari pelantikan menjadi wakil bupati ini akan tiba pada untuk saya. Makanya saya tidak mengganggap ini biasa-biasa saja, ini adalah sakral, lompatan paling tinggi terjadi dalam hidup saya,” kata pria yang akrab disapa Bang Husni itu.

Husni Merza memang anak tokoh masyarakat, yakni ayahnya H Ibnu Khaldun (alm) dan ibunya Darlina Malik (alm). Dia anak kedua dari 5 bersaudara, bertempat tinggal tidak jauh dari masjid bersejarah Syahabuddin, di jalan Sultan Ismail Nomor 2 Kelurahan Kampung Dalam, Kecamatan Siak, Siak Sri Indrapura.

Husni merupakan putra asli Melayu Siak. Ia lahir di Siak 30 November 1974. Sejak kecil, Husni telah menunjukkan sikap yang baik di dalam keluarganya. Ayahnya berkeinginan Husni kecil harus dididik di lembaga pendidikan agama, agar kelak menjadi anak yang berakhlakul karimah. Setamat SDN 002 Kampung Dalam Siak, sekitar 1987 silam, orang tuanya mengirimnya ke Ngabar, Jawa Timur. Perjalanan darat dari Siak-Jawa Timur kala itu harus ditempuh selama 3 hari 3 malam, sebab jika naik pesawat tiketnya terlalu mahal.

Pada umur 12 tahun ia sudah meninggalkan kampung tercintanya Siak. Ia ikut dengan abang sepupunya, Muhammad Amin ke Jogyakarta dengan naik turun bus untuk sampai ke Ngabar. Ayahnya percaya jika Husni sudah bisa jaga diri dan tidak akan menyusahkan abangnya selama dalam perjalan. Karena itu ayahnya tidak perlu ikut mengantarnya.

Pada usia yang sangat kanak-kanak, ia telah berpisah kota dengan orang tuanya, berpisah dengan teman sepermainannya, dengan istana Siak dan masjid Syahbuddin yang berdiri kokoh, serta berpisah dengan ikan-ikan yang saban petang ditangkapnya di belat-belat nelayan di Sungai Siak. Betapa ini menyedihkan bagi anak yang belum cukup umur untuk melakukan sebuah perjalanan spiritual -intelektual ke tanah Jawa. Namun Husni mematuhi perintah ayahnya, merantau ke tanah Jawa untuk mencari ilmu.

Perjalanan Siak-Jogyakarta tidak ditempuh Husni dan abangnya dengan armada 1 bus saja. Ia pindah -pindah bus sampai di Bakauheni, Lampung. Menyebrangi selat Sunda dengan kapal penyebrangan tidaklah sebagai penumpang bus. Sesampainya di Merak, barulah menumpang bus lain lagi menuju Jogyakarta. Dari sana, ia menuju pondok pesantren Wali Songo Ngabar, Jawa Timur.

Di pondok pesantren inilah Husni menghabiskan masa remajanya. Ia bergaul dengan santri -santri yang datang dari berbagai provinsi di Indonesia. Husni cepat beradaptasi sehingga pendidikan yang ditempuhnya di pondok pesantren itu berjalan dengan mulus.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved