Breaking News:

Berita Riau

Dugaan Korupsi Bappeda Siak, Yan Prana Bantah Potongan 10 Persen Idenya : Sudah Ada Sebelum Saya

Kasus Korupsi Bappeda Siak terus bergulir, mantan Ketua Bappeda Siak Yan Prana dihadirkan dalam sidang sebagai terdakwa di pengadilan Tipikor

Penulis: Rizky Armanda | Editor: CandraDani
Tribupekanbaru.com/Rizky Armanda
Yan Prana Jaya (baju putih) saat diperiksa sebagai terdakwa dalam persidangan, Rabu (30/6/2021) 

Saat hakim mempertanyakan apakah uang itu juga digunakan untuk kepentingan pribadi, Yan Prana pun langsung membantah.

Disebutkan Yan Prana, dirinya tahu akan menerima konsekuensi atas perbuatan melawan hukum tersebut.

"Saya tidak ada menggunakan untuk kepentingan pribadi. Saya tahu konsekuensi hukumnya. Untuk memperkaya orang lain saja sudah salah, tapi saya tak bisa tanggung jawab terhadap hal yang dilakukan orang lain," kata Yan Prana.

Hakim juga menyinggung terkait keterangan saksi Donna Fitria dan Ade Kusendang yang menyebut Yan Prana memerintahkan agar buku catatan pengeluaran yang dibuat supaya dimusnahkan. Yan Prana menyatakan tidak pernah melakukan hal itu.

"Saya tak pernah lakukan itu. Bagaimana saya perintahkan kalau saya sendiri tak pernah lihat buku itu. Saya juga tidak tahu kemana saja aliran dana itu," jelasnya.

Yan Prana juga mengungkapkan, setiap pemotongan tidak disampaikan ke dirinya. Ia pun tidak tahu kalau besarannya 10 persen.

Pemotongan itu diterangkannya, bahkan sudah ada sebelum dia menjabat Kepala Bappeda Siak.

Kerugian Negara Capai Rp 2,8 Miliar Lebih

Berdasarkan dakwaan JPU disebutkan, Yan Prana Jaya bersama-sama Donna Fitria (tersangka yang perkaranya diajukan dalam berkas perkara terpisah) dan Ade Kusendang, serta Erita, sekitar Januari 2013 hingga Desember 2017 melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain sebesar Rp2.896.349.844,37.

Berawal pada Januari 2013, saat terjadi pergantian bendahara pengeluaran dari Rio Arta kepada Donna, terdakwa Yan Prana mengarahkan untuk melakukan pemotongan biaya sebesar 10 persen dari setiap pelaksanaan kegiatan perjalanan dinas.

Donna Fitria sebagai bendahara pengeluaran, lantas melakukan pemotongan anggaran perjalanan dinas Bappeda Kabupaten Siak tahun anggaran 2013 sampai dengan Maret 2015 pada saat pencairan anggaran SPPD setiap pelaksanaan kegiatan.

Besaran pemotongan berdasarkan total penerimaan yang terdapat dalam Surat Pertanggungjawaban (SPJ) perjalanan dinas sebesar 10 persen. Uang yang diterima masing-masing pelaksana kegiatan, tidak sesuai dengan tanda terima biaya perjalanan dinas.

Pemotongan anggaran perjalanan dinas sebesar 10 persen tersebut dilakukan setiap pencairan. Uang dikumpulkan dan disimpan Donna selaku bendahara pengeluaran di brangkas bendahara, Kantor Bappeda Kabupaten Siak.

Donna, mencatat dan menyerahkan kepada terdakwa Yan Prana secara bertahap sesuai dengan permintaannya. Akibat perbuatan terdakwa Yan Prana, negara dirugikan Rp2.895.349.844,37.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved