Breaking News:

Kepulauan Meranti

Pembangunan Jalan di Desa Tanjung Peranap Mangkrak, Baru Selesai Separuh Namun Dananya Telah Habis  

Semenisasi jalan di Dusun Bunga Tanjung sepanjang 150 meter itu dibangun memakai dana desa 2021 Rp 115 Juta lebih, namun hanya selesai separuhnya.

Penulis: Teddy Tarigan | Editor: CandraDani
Istimewa
Pekerjaan semenisasi jalan di Dusun Bunga Tanjung sepanjang 150 meter dengan anggaran sebesar Rp115.460.000 juta yang hanya terealisasi hampir 50 persen atau sepanjang 74,8 meter saja. 

TRIBUNPEKANBARU.COM, MERANTI - Diakhir masa jabatannya, Kepala Desa (Kades) Tanjung Peranap, Kecamatan Tebingtinggi Barat, Aswandi dianggap banyak meninggalkan masalah salah satunya adalah pembangunan jalan menuju pemakaman.

Pekerjaan semenisasi jalan yang berada di Dusun Bunga Tanjung sepanjang 150 meter itu dibangun menggunakan dana desa tahun 2021 dengan anggaran sebesar Rp115.460.000 juta.

Saat ini progres pembangunan jalan tersebut mangkrak  hanya terealisasi hampir 50 persen atau sepanjang 74,8 meter, sementara uang pekerjaan sudah dicairkan seratus persen.

Hal tersebut dibenarkan Plt Kepala Dinas Pemerintahan Masyarakat Desa (PMD) melalui Plt Kepala Bidang Pemerintahan Desa, Saputra Warisa saat dikonfirmasi mengenai hal tersebut Senin (12/7/2021) siang.

Dia mengatakan pihaknya sudah melakukan pengecekan bersama pihak kecamatan.

Diakuinya bahwa benar pekerjaan pembangunan semenisasi jalan tersebut mangkrak akibat ditelantarkan proses pekerjaannya oleh kepala desa.

"Kita sudah melakukan monitoring, minta kepada pihak kecamatan untuk memberikan peringatan kepada Aswandi untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Pekerjaannya belum selesai, namun uang pencairan diambil semuanya," kata Saputra Warisa. 

Dirinya menegaskan jika yang bersangkutan tidak memiliki itikad baik untuk menyelesaikannya, mereka akan minta untuk menahan uang purna bakti dari kades tersebut sebesar Rp20 juta dan beberapa bulan tunggakan gajinya.

Diakui Saputra, pihaknya memiliki sistem pencairan yang lemah, jika pada umumnya pencairan dana proyek dilakukan sesuai dengan progres pekerjaan. Hal tersebut tidak terjadi di tempatnya dimana pekerjaan proyek belum tuntas tapi dana sudah cair seratus persen.

"Kita tidak tahu juga jika pekerjaan ini belum selesai. Waktu itu kepala desa minta pencairan semuanya dengan alasan lokasinya jauh dari kabupaten ya kita realisasikan. Namun itulah kelemahan di kita, makanya kedepan kita mau garap sistem non tunai, dimana seharusnya dana cair sesuai dengan berapa kebutuhan," ungkapnya.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved