Breaking News:

Terkuak Identitas Pria Mengamuk Acungkan Parang di Senama Nenek Kampar, Ada Hubungan Sama Ketua KNES

Terungkap identitas pria yang mengamuk, acungkan parang di pertemuan Desa Senama Nenek, Kampar. Ada hubungan darah dengan Ketua KNES.

Penulis: Fernando Sihombing | Editor: Ariestia
Tribunnews.com
Ilustrasi - Terungkap identitas pria yang mengamuk, acungkan parang di pertemuan Desa Senama Nenek, Kampar. Ada hubungan darah dengan Ketua KNES. 

TRIBUNPEKANBARU.COM, BANGKINANG - Terungkap identitas pria yang mengamuk, marah-marah sambil mengacungkan parang di pertemuan Desa Senama Nenek Kecamatan Tapung Hulu, Kampar

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari beberapa sumber, pria itu bernama Tarwis.

Ia adalah keponakan kandung dari Alwi Arifin, Ketua Koperasi Nenek Eno Senama Nenek (KNES).

Namun motif pria tersebut marah-marah belum diketahui.

Koperasi yang mengelola Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) eks lahan konflik penguasaan PT. Perkebunan Nusantara 5, pemberian Presiden.

Humas KNES, M. Arif membenarkan nama pria itu adalah Tarwis.

Ia juga tidak menampik Tarwis adalah keponakan Alwi Arifin.

Tetapi ia menegaskan, kericuhan itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan persoalan di KNES. 

Seperti diketahui KNES sedang jadi sorotan beberapa hari belakangan ini.

Pemilik Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) menduduki lahan mereka sejak Selasa (6/7) lalu selama beberapa hari. 

Mereka kecewa dengan Koperasi Nenek Eno Senama Nenek (KNES) sebagai pengelola TORA sebanyak 1.385 persil yang dinilai tidak transparan dalam pembagian hasil kebun.

Mereka hanya menerima hasil panen Kelapa Sawit dan Karet rata-rata Rp. 1 juta per bulan.

"Nggak ada hubungannya (pria mengamuk dengan parang) dengan KNES," tegas Arif kepada tribunpekanbaru.com, Kamis (15/7/2021) sore.

Mantan Anggota DPRD Kampar ini mengaku tidak tahu pasti pemicu emosi Tarwis sehingga emosi  dengan membawa parang. Tetapi ia membenarkan kericuhan itu terjadi di Senama Nenek.   

Berdasarkan undangan yang beredar dari Pemerintah Desa Senama Nenek, acara tersebut adalah musyawarah Suku Piliang. Arif adalah masyarakat adat atau Anak Kemenakan Suku Piliang. 

Arif mengaku tidak tahu musyawarah tersebut ternyata diselenggarakan Pemerintah Desa Senama Nenek. Tetapi setahu dia, undangan musyawarah yang diteken Kepala Desa Senama Nenek Abdoel Rakhman Chan itu untuk mempersatukan warga Suku Piliang yang belakangan terbelah. (tribunpekanbaru.com/fernando sihombing)

Berita Kampar lainnya
 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved