Video Berita
Video: Pria Mengamuk Bawa Parang pada Pertemuan Adat di Senama Nenek
Video amatir itu berisi seorang pria mengamuk sambil membawa parang di ruang terbuka di acara pertemuan adat
Penulis: Fernando Sihombing | Editor: aidil wardi
TRIBUNPEKANBARU.COM, BAGKINANG - Sebuah video menghebohkan jagat maya di Kampar.
Video amatir itu berisi seorang pria mengamuk sambil membawa parang di ruang terbuka.
Video itu diunggah oleh akun Facebook "Datuok Sdm" dengan mengunggah ulang video yang diunggah oleh akun "Nuri Ri".
Di awal video itu tampak seoang wanita paruh baya marah-marah.
Tak lama kemudian, seorang pria yang membawa parang itu berjalan tergesa-gesa mengarah ke tenda. Di bawah tenda itu tampak beberapa orang.
Pria itu mengayunkan parang ke tiang tenda. Lalu, menabrak susunan bangku. Tampak seorang anak panik ketakutan sambil berusaha menghindar saat pria bertopi krem itu mendekat kepadanya.
Lalu pria itu mendekati beberapa orang. Seorang pria berpeci sempat mencoba menenangkan pria itu, tetapi diacuhkan.
Ia kembali mengacungkan parang di tangan kanannya ke atas.
Tak sampai di situ, pria itu masih terus memberingas. Ia sempat menjauh dari tendah, lalu berbalik lagi dan mengejar orang lain dengan gerakan mengancamkan parangnya.
Seorang wanita berpakaian putih berusaha melerai. Pria itu kemudian menjauh lagi dari tenda. Ia menjauhi gedung dan berjalan ke areal parkiran samping gedung. Terdengar wanita berteriak histeris.
Berdasarkan informasi yang dihimpun tribunpekanbaru.com, kericuhan dalam video itu terjadi di Desa Senama Nenek Kecamatan Tapung Hulu, Selasa (13/7/2021). Di tempat itu ada pertemuan Persukuan Piliang Kenegerian Senama Nenek.
Mulyadi, seorang warga yang berada di lokasi, saat kericuhan itu banyak orang di sana.
Ia sendiri tidak tahu penyebab pria itu mengamuk.
Ia hadir di tempat itu atas undangan Pemerintah Desa Senama Nenek karena dirinya adalah masyarakat adat atau anak kemenakan Persukuan Piliang.
Senama Nenek sedang jadi sorotan beberapa hari belakangan ini. Sebelumnya, pemilik Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) menduduki lahan mereka sejak Selasa (6/7) lalu selama beberapa hari.
Mereka kecewa dengan Koperasi Nenek Eno Senama Nenek (KNES) sebagai pengelola TORA sebanyak 1.385 persil yang dinilai tidak transparan dalam pembagian hasil kebun. Mereka hanya menerima hasil panen Kelapa Sawit dan Karet rata-rata Rp. 1 juta per bulan. (tribunpekanbaru.com / ndo)