Breaking News:

Inna lillahi, Salah Satu Jaksa Yang Tuntut Rizieq Shihab 6 Tahun Penjara Meninggal

Nanang merupakan salah satu JPU yang menuntut Rizieq Shihab dan menantunya, Hanif Alatas dalam kasus hasil tes swab di RS Ummi Bogor.

Capture Instagram Kejaksaan RI
Salah satu JPU yang tuntut Rizieq Shihab meninggal dunia 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Kabar duka datang dari Kejaksaan RI, seorang jaksa terhebatnya meninggal dunia. 

Salah satu Adhyaksa terhebat yang meninggal dunia itu adalah Nanang Gunaryanto.

Almarhum merupakan Kasubdit Penuntutan TPUL Pidana Umum Kejaksaan Agung.

Nanang Gunaryanto meninggal dunia di RS Bethesda Yogyakarta pada pukul 06.00 WIB, Jumat (16/7/2021).

Kabar Nanang meninggal dunia dipublikasikan oleh akun Instagram resmi Kejaksaan Agung RI.

" Jaksa Agung RI beserta jajaran menghaturkan Turut berdukacita atas meninggalnya Adhyaksa hebat Nanang Gunaryanto. SH. MH. (Kasubdit Penuntutan TPUL Pidum Kejagung)," tulis Instagram @kejaksaan.ri, Jumat (16/7).

Nanang merupakan salah satu JPU yang menuntut Rizieq Shihab dan menantunya, Hanif Alatas dalam kasus hasil tes swab di RS Ummi Bogor.

Dalam kasus tersebut Rizieq Shihab dituntut 6 tahun penjara oleh JPU. 

Namun, Rizieq Shihab divonis selama 4 tahun penjara.

Dalam perkara hasil tes swab di RS Ummi Bogor, Kejaksaan RI menugaskan Nanang Gunaryanto, Muhammad Syarifuddin, Deddy Sunanda, Tedhy Widodo, Hangrengga Berlian dan M.H Hafiz Kurniawan.

Dikutip dari CNN, pengacara Rizieq, Ichwan Tuankotta membenarkan jika Nanang merupakan salah satu Jaksa penuntut umum yang menuntut kliennya di kasus RS Ummi.

"Benar. Beliau meninggal dunia," kata Ichwan.

Dilansir dari Kompas.com, Terdakwa Rizieq Shihab menilai tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) terkait kasus tes usap di RS Ummi Bogor tidak masuk akal.

Hal itu diutarakan Rizieq saat membacakan pleidoi atau nota pembelaan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur, Kamis (10/6/2021). Rizieq percaya, kasus tes usap di RS Ummi yang menjeratnya merupakan kasus politik, dibungkus dan dikemas dengan kasus hukum.

"Apalagi setelah saya mendengar dan mambaca tuntutan JPU yang menjatuhkan saya dengan tuntutan penjara enam tahun. Tuntutan tersebut tidak masuk diakal dan berada jauh di luar nalar, bahkan terlalu sadis dan tidak bermoral," kata Rizieq.

Rizieq menilai, kasus tes usap di RS Ummi yang menjeratnya adalah kasus pelanggaran protokol kesehatan (prokes), bukan kasus kejahatan.

"Sehingga cukup diterapkan sanksi administrasi, bukan sanksi hukum pidana penjara," kata mantan pemimpin Front Pembela Islam (FPI) itu.

(*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved