Breaking News:

Awas Ledakah PHK Masal Bisa Terjadi Karena Perpanjangan PPKM Darurat, Presiden KPSI Ungkap Fakta Ini

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat berpotensi menyebabkan ledakan PHK masal pada buruh di sejumlah daerah

Editor: Ilham Yafiz
Dokumentasi Tribun Jateng/Hermawan Handaka
Ilustrasi Buruh. 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat berpotensi menyebabkan ledakan PHK masal pada buruh di sejumlah daerah.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal mengungkapkan hal itu.

Ia mengatakan PPKM Darurat yang diperpanjang hingga 25 Juli 2021 berpotensi menyebabkan terjadinya ledakan PHK terhadap ratusan ribu buruh di industri manufaktur atau fabrikasi.

Hal ini disebabkan, proses produksi di pabrik tidak bisa dilakukan dengan WFH atau bekerja dari rumah.

Tetapi hanya bisa diliburkan dan pemberlakuan jam kerja bergilir apabila banyak buruh isoman.

“Paling tidak, dalam satu minggu ke depan akan banyak buruh yang dirumahkan dengan dipotong gaji, tergantung seberapa banyak buruh yang terpapar Covid 19,” ujar Said Iqbal, kepada wartawan, Kamis (22/7/2021).

Said Iqbal
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal (Tribunnews)

Karena itu dalam menerapkan kebijakan perpanjangan PPKM Darurat ini, Said Iqbal meminta pemerintah harus memperhatikan data dan fakta yang terjadi di pabrik.

Karena menurutnya proses kerja di pabrik berbeda dengan pekerja yang bekerja di perkantoran, jasa, atau perdagangan yang bisa melakukan WFH. Sementara di pabrik, yang bisa dilakukan adalah kerja bergilir dengan sistem kerja sehari libur sehari kerja.

Baca juga: PPKM Darurat Diperpanjang, Pengusaha Ancang-ancang Kurangi Karyawan

Faktanya, lanjut pria yang juga menjadi Ketua Majelis Nasional Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) ini, mayoritas pabrik atau industri manufaktur masih bekerja 100%.

Hal ini terjadi di sektor elektronik dan komponen, otomotif dan komponen, tekstil garmen sepatu, farmasi, bank, logistik, percetakan, industri semen, energi, kimia, hingga pertambangan.

“Pabrik-pabrik tersebut menyebar di Jabodetabek, Karawang, Purwakarta, Subang, Bandung, Semarang, Kendal, Jepara, Cilegon, Serang, Surabaya, Mojokerto, Pasuruan, Gresik, Batam, Karimun, Medan, Aceh, Makasar, Banjarmasin, Papua, Maluku, dan lain sebagainya,” tegasnya.

Dia juga mengungkap tingkat penderita Covid-19 klaster pabrik di atas 10%, dimana mengakibatkan puluhan ribu buruh melakukan isoman tanpa vitamin dan obat. Ketika banyak yang isoman, akhirnya pabrik diliburkan.

Apabila pabriknya banyak libur dan buruh isoman terlalu lama, maka target produksi turun.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved