Breaking News:

Sakit Hatinya Militer Myanmar, Dokter yang Pro Anti Kudeta Ditangkap saat Merawat Pasien Covid-19

Seolah-olah tak peduli nyawa warganya, militer Myanmar tangkap sejumlah dokter yang bantu pasien Covid-19. Alasan mereka dokter pro anti kudeta

Editor: Budi Rahmat
Net
Ilustrasi 

TRIBUNPEKANBARU.COM- Tak peduli pandemi Covid-19 dan kekhawatiran warga yang meninggal dunia, militer Myanmar malah menangkap sejumlah dokter.

Dokter-dokter ini ditangkap karena membantu pasien covid-19 secara mandiri.

Penangkapan tersebut juga dilatar belakangi karena para dokter memihak perlawanan kudeta yang dilakukan militer Myanmar

Aparat marah dengan dukungan para dokter untuk protes anti-junta, militer.

Karena itu Myanmar telah menangkap beberapa dokter yang merawat pasien Covid-19 secara mandiri.

Baca juga: Di Tengah Kudeta Militer, Rusia Tetap Berkomitmen Menjual Senjata ke Junta Militer Myanmar

Baca juga: Covid-19 Renggut Nyawa Penasihat Senior Aung San Suu Kyi,Terinfeksi di Penjara Myanmar, Mati Tragis

Hal itu diungkapkan oleh rekan-rekan sesama dokter dan media, sementara sistem kesehatan berjuang untuk mengatasi gelombang rekor infeksi.

Sejak militer menggulingkan pemerintah terpilih yang dipimpin oleh Aung San Suu Kyi pada Februari, gejolak dan protes berikutnya telah mengacaukan penangangan pandemi Covid-19.

Para aktivis mengatakan sejumlah dokter telah ditangkap karena peran penting mereka dalam gerakan pembangkangan sipil.

Myanmar mencatat lebih dari 6.000 kasus baru infeksi Covid-19 pada Kamis (22/7/2021) setelah melaporkan 286 kematian sehari sebelumnya. Kedua angka itu merupakan rekor tertinggi.

Para petugas medis dan layanan pemakaman mengatakan jumlah kematian sebenarnya jauh lebih tinggi. Krematorium bahkan tidak mampu mengimbangi kebutuhan.

Baca juga: UPDATE Kekejaman Junta Militer Myanmar: Tembak Mati 25 Warga, 888 Orang Telah Dibunuh

Baca juga: UPDATE Kekejaman Junta Militer Myanmar: Tembak Mati 25 Warga, 888 Orang Telah Dibunuh

Untuk membantu orang-orang yang menolak pergi ke rumah sakit pemerintah karena menentang militer, atau karena rumah sakit tidak memadai untuk merawat mereka, beberapa dokter yang berpartisipasi dalam kampanye anti-junta telah menawarkan konsultasi medis gratis melalui telepon dan mengunjungi orang sakit di rumah dalam beberapa kasus.

Namun, menurut laporan para dokter dan media dalam beberapa minggu terakhir, sembilan dokter relawan yang memberikan pengobatan jarak jauh dan layanan lainnya telah ditahan oleh militer di dua kota terbesar Myanmar, Yangon dan Mandalay.

Sumber Kompas.com

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved