Senin, 27 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Peneliti Korsel Ungkap Campuran Vaksin AstraZeneca & Pfizer Efektif Membentuk Antibodi Lebih Banyak

Korea Selatan mengungkap hasil penelitian penggunaan campuran vaksin AstraZeneca pertama (AZN.L) dan kemudian suntikan COVID-19 Pfizer (PFE.N).

Penulis: Firmauli Sihaloho | Editor: Ilham Yafiz
JOE KLAMAR / AFP
Petugas Medis memperlihatkan Vaksin AstraZeneca. 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Korea Selatan mengungkap hasil penelitian penggunaan campuran vaksin AstraZeneca pertama (AZN.L) dan kemudian suntikan COVID-19 Pfizer (PFE.N).

Hasil penelitian penggunaan campuran kedua vaksin ini ternyata meningkatkan antibodi penawar sebanyak enam kali dibandingkan dengan dua dosis AstraZeneca.

Dilansir dari Reuters, Senin (26/7/2021), penelitian ini melibatkan 499 pekerja medis.

100 orang menerima dosis campuran, 200 menerima dua dosis suntikan Pfizer/BioNTech, dan sisanya mendapatkan dua suntikan AstraZeneca.

Semua menunjukkan antibodi penetralisir yang mencegah virus memasuki sel dan bereplikasi, dan hasil dari campuran vaksin menunjukkan jumlah antibodi penetralisir yang serupa ditemukan dari kelompok yang menerima dua suntikan Pfizer.

Sebuah penelitian di Inggris bulan lalu menunjukkan hasil yang serupa.

Suntikan AstraZeneca yang diikuti oleh Pfizer menghasilkan respons sel T terbaik, dan respons antibodi yang lebih tinggi daripada Pfizer yang diikuti oleh AstraZeneca.

Data tersebut memberikan dukungan lebih lanjut untuk keputusan beberapa negara untuk menawarkan alternatif ke AstraZeneca sebagai suntikan kedua setelah vaksin itu dikaitkan dengan kejadian pembekuan darah yang langka.

Studi Korea Selatan juga menganalisis aktivitas penetralan terhadap varian utama yang menjadi perhatian, kata Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDCA).

Tak satu pun dari kelompok menunjukkan aktivitas penetralan berkurang terhadap varian Alpha, pertama kali diidentifikasi di Inggris, tetapi titer netralisasi menurun 2,5-6 kali lipat terhadap Beta, Gamma dan Delta.

Masing-masing varian itu pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan, Brasil dan India.

( Tribunpekanbaru.com )

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved