Breaking News:

Video Berita

VIDEO: Sebulan Beroperasi, Gudang Pembekuan Ikan di Kampar Tutup Dihantam Covid-19

Sudah setahun lebih, industri yang dibangun oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan dari APBN 2018 senilai Rp. 17.249.381.000 ini berhenti beroperasi.

Penulis: Fernando Sihombing | Editor: David Tobing

TRIBUNPEKANBARU.COM, BANGKINANG - Integrated Cold Storage (ICS) atau Gudang Pembekuan terintegrasi di Desa Koto Perambahan Kecamatan Kampa tutup. Padahal baru beroperasi sekitar sebulan pada awal 2020 lalu.

Sudah setahun lebih, industri yang dibangun oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan dari APBN 2018 senilai Rp. 17.249.381.000 ini berhenti beroperasi. Sampai Juli 2021 ini belum juga beroperasi.

Kepala Bidang Budidaya Dinas Perikanan Kampar, Dwi Agusrianto mengungkapkan, ICS yang dikelola oleh PT. Mina Delta Perkasa Sidoarjo ini setop beroperasi setelah pandemi Covid-19 melanda Indonesia pada Maret 2020.

"Sebulan sudah jalan. Terus pandemi. Terpaksa harus tutup," ungkap Dwi kepada tribunpekanbaru.com, Senin (26/7/2021). Ia menyebutkan dua faktor ICS ditutup berdasarkan analisa ekonomi perusahaan.

Pertama, kala itu perusahaan mengambil sikap untuk tidak mempekerjakan karyawan untuk menghindari kluster penularan Covid-19. Karyawan yang berjumlah 30-an orang tidak diinapkan karena ICS belum dilengkapi mess.

Karyawan pulang setelah jam kerja. Sehingga karyawan dikontrol tertular Covid-19, meski protokol kesehatan bisa saja diterapkan secara ketat.

Faktor kedua, permintaan pasar berhenti karena pandemi. Di awal dulu, market hasil produksi ICS ke bisnis-bisnis kuliner. Baik restoran maupun hotel. Perusahaan tidak mungkin berproduksi, sementara permintaan pasar berhenti.

"Agustus ini (2021) sudah ada rencana mau operasi lagi. Eh, ada PPKM. Jadi belum tau kapan mulai lagi," kata Dwi. Ia mengatakan, ancang-ancang untuk kembali beroperasi sudah diambil dengan memastikan permintaan pasar.

Menurut Dwi, ICS sudah sempat memproduksi sekitar 10 ton fillet Ikan Patin. Untuk permulaan, kata dia, sudah lumayan untuk memenuhi kebutuhan lokal.

ICS memang diproyeksi memproduksi komoditi ekspor. Sebab ICS dengan kapasitas 100 ton yang terbagi dua unit pembekuan (50 ton per unit), dapat menghasilkan 30 ton fillet sehari. Sehingga sangat potensial menutupi kebutuhan ekspor.

Petani budidaya Patin yang terikat kerjasama penyediaan bahan baku tampaknya harus gigit jari. Padahal, menurut Dwi, ICS diharapkan menjadi kekuatan untuk mendongrak perekonomian pembudidaya. (tribunpekanbaru.com / ndo)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved