Breaking News:

Begini Pengakuan Kades yang Bentak Kapolsek, Sempat Pertanyakan Hal ini ke Satgas Covid-19

Ketegangan sempat terjadi saat satgas Covid-19 melakukan pemburana acara hajatan. Namun Kades tidak terima yang kemudian berujung pertikaian

Editor: Budi Rahmat
foto: satgas covid
ilustrasi foto tak terkait berita) Sejumlah petugas membubarkan pesta nikah di Desa Sukorame, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek, Minggu (7/2/2021). 

TRIBUNPEKANBARU.COM- Beginilah pengakuan kepala desa atau Kades Sukajeruk bernama Sapuri terkait heboh-heboh dengan Satgas Covid-19.

Kehebohan terjadi karena satgas covid-19 hendak membubuarkan acara hajatan perkawinan perkawinan.

Kades Sapuri disebut terlibat ketegangan dengan Kapolsek Masalembu Iptu Sujarwo.

Pada kesempatan tersebut, Sapuri justru mempertanyakan keberadaan satgas Covid-19 ketika masyarakat membutuhkan.

Namun Satgas Covid-19 baru datang saat membubarkan acara-acar warga.

Baca juga: Video Viral, Orkes Dangdut Hajatan di Masa PPKM Dibubarkan Aparat, Penyelengga Didenda Rp 8 Juta

Baca juga: Kades Mengamuk dan Balikkan Meja Saat Hajatan Warga yang Dihadirinya Ditertibkan Trantib

Kenyataan itulah yang dinilai Sapuri yang tidak bisa diterima.

Sementara acara hajatan yang hendak dibubarkan tersebut sama sekali tidak melanggar protokol kesehatan.

Berikut pernyataan Sapuri seperti dikutip dari Kompas.com

Kepala Desa Sukajeruk, Kecamatan Masalembu, Sapuri mempertanyakan peran Satgas Covid-19 di Kecamatan Masalembu selama ini.

Sapuri menyebut, Satgas Covid-19 tidak pernah ada ketika dibutuhkan masyarakat, namun ada ketika masyarakat punya hajatan, seperti hajatan perkawinan yang dilaksanakan warga Desa Sukajeruk pada Jumat (6/8/2021) kemarin.

"Ke mana Satgas saat ada pasien Covid-19 meninggal? Saya harus memandikan sendiri, menguburkan sendiri bersama warga. Kalau mau mati karena corona, saya mungkin sudah mati. Kecuali saya ditembak, mungkin sekarang saya bisa mati," ujar Sapuri, ketika dihubungi melalui telepon seluler, Senin (9/8/2021).

Ketegangan yang terjadi antara Sapuri dengan Kapolsek Masalembu Iptu Sujarwo pada Kamis (5/8/2031) kemarin, karena Kapolsek minta surat izin hajatan perkawinan.

Sapuri tidak bisa menunjukkan surat izin itu, karena izin secara lisan dirinya sudah dianggap melebihi selembar kertas surat izin.

"Kapolsek seperti mencari-cari masalah terus. Saya tegaskan bahwa saya ini surat izinnya. Apa kurang jelas kalau saya sudah mewakili surat izin," imbuh Sapuri.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved