Video yang Menggemparkan Dunia, Ternyata Begini Virus Corona Mengganas dalam Sel Otak
Terlihat jelas. Beginilah virus corona mendominasi di sel otak hingga membuat seseorang meninggal dunia. Dala, video ini terlihat jelas
TRIBUNPEKANBARU.COM- Sudah membunuh sekira 4,4 juta orang di seuruh dunia, tidak ada yang pernah tahu bagaimana cara virus corona begitu ganas menginfeksi sel otak.
Setelah bertahun-tahun virus ini menginveksi, barulah kini bisa dilihat dengan jelas perilaku virus corona ketika berada di sel otak.
Dengan cepat virus itu memndominasi hingga membuat tak ada lagi kehoidupan sel di dalam otak.
Gambaran bagaimana mengerikannya virus corona bisa terlihat dalam sebuah video.
Baca juga: UPDATE Asal Usul Corona: China Kembali Talk Terbuka, Joe Biden Geram
Baca juga: Diberi Waktu 90 Hari Mencari Tahu Asal-usul Virus Corona, Laporan Intelijen AS Malah bikin Bingung
Bahkan dengan jelas gerakan virus corona yang secara perlahan masuk hingga mendominasi.
Hanya dalam waktu yang singkat saja virus corona sudah menjadi yang paling dominan dalam otak.
Video virus corona yang menggerogoti se otak tersebut menggemparkan dunia.
Seperti apa videonya, cek linknya di dalam artikel ini
Lebih kurang 1,5 tahun telah menyebar ke seluruh dunia, SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan penyakit Covid-19 telah bermutasi menjadi 11 varian.
Karena keganasannya, virus corona baru ini setidaknya sudah menyebabkan kematian pada sekitar 4,4 juta jiwa dari seluruh belahan dunia.
Seperti dikutip dari kompas.com, untuk membantu orang awam memahami bagaimana ganasnya virus SARS-CoV-2, ahli virologi dari Institut Pasteur di Paris, Sophie-Marie Aicher dan Delphine Planas merekam perilaku virus tersebut saat menginfeksi sel otak kelelawar.
Keganasan virus SARS-CoV-2 disajikan dalam video mikroskopik berdurasi 23 detik.
Cek videonya di sini
Berkat video ini, Aicher dan Planas juga berhasil memenangkan penghargaan terhormat "honorable mention" dalam kompetisi video mikroskopis yang disponsori oleh perusahaan kamera asal Jepang, Nikon.
Meski hasil videonya cukup singkat, sebenarnya Aicher dan Planas merekam perilaku virus SARS-CoV-2 selaman 48 jam, dengan gambar direkam setiap 10 menit.
Dari video ini, dapat terlihat serangkaian sel otak kelelawar berupa gumpalan abu-abu, yang diselingi dengan titik berwarna merah berukuran kecil dalam jumlahnya sedikit.
Baca juga: Corona Mengintai, Warga Riau Tetap Kunjungi Mal Saat PPKM Level 4 Pekanbaru Diterapkan, Kenapa?
Titik merah itu merupakan bentuk sel otak kelelawar yang sudah mati dan terinfeksi virus SARS-CoV-2. Dalam video, titik merah itu lama kelamaan terlihat semakin banyak dan ukurannya membesar.
Ini karena virus terus menginfeksi sel otak kelelawar. Lalu setelah sel mati dan terinfeksi virus SARS-CoV-2, mereka akan bergabung dengan sel tetangga yang juga sudah mati dan terinfeksi.
Menjelang akhir video, sel otak yang sudah terinfeksi virus SARS-CoV-2 itu meledak, menandakan kematian mereka.
Aicher yang juga menekuni bidang zoonosis, penyakit infeksi yang ditularkan dari hewan ke manusia, mengatakan pola infeksi yang terjadi pada kelelawar ini serupa dengan yang terjadi pada manusia.
Perbedaan utamanya, kata Aicher, pada akhirnya kelelawar yang terinfeksi SARS-CoV-2 tidak sakit. Sementara manusia bisa sakit bahkan meninggal dunia.
Aicher menjelaskan, pada manusia virus corona baru mampu menghindari sistem deteksi kekebalan tubuh manusia. Dengan cara memaksa sel inang untuk menyatu dengan sel tetangga yang sudah terinfeksi.
Proses ini dikenal sebagai syncytia, yang memungkinkan virus corona tetap tidak terdeteksi saat bereplikasi.
“Setiap kali virus harus keluar dari sel, itu berisiko untuk terdeteksi oleh sistem kekebalan, sehingga jika dapat langsung berpindah dari satu sel ke sel lainnya, ia dapat bekerja lebih cepat,” kata Aicher.
Ia berharap video ini akan membantu orang awam mengetahui dan memahami bagaimana virus yang sudah menewaskan jutaan orang ini bekerja.
Baca juga: Meski Sudah 2 Kali Vaksin, WHO Sebut 2 Golongan Ini Masih Bisa Terpapar Corona, Siapa Saja?
“Sangat penting untuk membantu orang memahami bahwa ini adalah virus yang sangat canggih dan pintar, yang beradaptasi dengan baik untuk membuat manusia sakit,” kata Aicher, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari The New York Times, Senin (30/8/2021).
(Tribunpekanbaru.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/virua-corona-menginveksi-sel-otak.jpg)