Breaking News:

Pembelajaran Tatap Muka Tidak Boleh Ada Pemaksaan, Gubri Syamsuar Ingatkan Kepala Sekolah 

Pembelajaran tatap muka sudah dimulai di Riau, namun Gubri Syamsuar mengingatkan kepala sekolah tidak boleh ada pemaksaan.

Penulis: Syaiful Misgio | Editor: Ariestia
Tribun Pekanbaru/Syaiful Misgiono
Pembelajaran tatap muka sudah dimulai di Riau, namun Gubri Syamsuar mengingatkan kepala sekolah tidak boleh ada pemaksaan. FOTO: Gubri Syamsuar saat meninjau pelaksanaan belajar tatap muka terbatas di sejumlah sekolah di Pekanbaru beberapa waktu lalu. 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Pembelajaran tatap muka sudah dimulai di Riau, namun  Gubri Syamsuar mengingatkan kepala sekolah tidak boleh ada pemaksaan.

Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas di sekolah di Provinsi Riau sudah mulai dilaksanakan.

Kebijakan PTM terbatas ini diterapkan menyusul turunnya angka Covid-19 dan turunya level PPKM di Riau ke level III.

Agar tidak terjadi penularan dan kluster baru di sekolah, Gubernur Riau, Syamsuar, Jumat (10/9/2021) mengingatkan kepada seluruh kepala sekolah yang ada di Kabupaten Kota, untuk tetap mematuhi aturan surat keputusan 4 Menteri terkait pelaksanaan PTM terbatas yang sudah mulai dilaksanakan 8 September kemarin.

Sejauh ini belum ada laporan termuan kasus Covid-19 di lingkungan sekolah. Sementara, Riau masih berada di level PPKM level 3.

Kegiatan pembelajaran di seluruh sekolah diwajibkan menjalankan aturan mematuhi protokol kesehatan Covid-19.

“Jadi artinya, kita memang harus waspada, bahwa sekolah tatap muka ini belum bisa maksimal tapi masih terbatas, sehingga kita lihat perkembangannya tidak ada yang positif,” katanya.

Gubri Syamsuar menegaskan, meski sekolah tatap muka terbatas sudah diizinkan untuk dijalankan.

Namun pihak sekolah tidak boleh memaksakan kehendaknya jika ternyata ada orang tua yang keberatan anaknya belajar tatap muka di sekolah.

Gubri Syamsuar mengingatkan kepada kepala sekolah agar tidak memaksa orangtua agar anaknya masuk sekolah langsung tatap muka.

Jika orang tua memilih memutuskan anaknya belajar secara daring, pihak sekolah harus melayani.

Sebab hal tersebut sudah ada aturannya. Sehingga pihak sekolah tidak boleh melakukan pemaksaan.

Siswa boleh tidak datang masuk sekolah dengan alasan sakit atau yang bisa menyebabkan penularan kasus Covid-19.

Namun, siswa tersebut harus mengikuti sekolah dari rumah, dengan sistem daring.

“Menurut aturannya dari Kementerian Pendidikan, memang bagi anak yang mau sekolah belajar tatap muka, itu harus ada pernyataan orangtuanya. Kalau ada orangtunya keberatan anaknya tidak sekolah tatap muka, tidak masalah boleh sekolah dirumah dan sekolah wajib untuk melayaninya dengan baik. Tidak boleh ada pemaksaan," kata Gubri. (Tribunpekanbaru.com/Syaiful Misgiono)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved