Breaking News:

Syiah Di Afghanistan Mulai Tak Tahan Dengan Aturan Aneh Taliban

Pernyataan itu disampaikan mantan Wakil Presiden Afghanistan Karim Khalili yang merupakan salah satu pemimpin komunitas Hazara.

BULENT KILIC / AFP
Zabihullah Mujahid (tengah), Kepala juru bicara Taliban, tiba untuk berpidato di konferensi pers di Kabul pada 21 September 2021. 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Pemerintahan Afghanistan di bawah Taliban masih tak stabil. Banyak peraturan yang ditentang rakyat Afghanistan karena dinilai berlebihan. 

Wanita hanya dianggap pabrik anak dan tidak boleh belajar menjadi aturan yang tak bisa diterima oleh siapaun di Afghanistan

Peraturan aneh yang dibuat oleh Taliban malah bayak yang lari dari ajaran Islam.

Minoritas Syiah di Afghanistan, komunitas Hazara, menyatakan akan melanjutkan konfrontasi bersenjata dengan Taliban jika kelompok itu mengingkari janji mereka dan tidak menahan diri dari tirani.

Pernyataan itu disampaikan mantan Wakil Presiden Afghanistan Karim Khalili yang merupakan salah satu pemimpin komunitas Hazara.

“Sejauh ini, kita telah melihat kabinet sementara (Taliban), yang sama sekali tidak inklusif,” ujar Khalili pada Rabu (22/9/2021) sebagaimana dilansir TASS.

Dia menambahkan, kelanjutan arah Afghanistan yang dipandu Taliban tidak dapat diterima oleh kekuatan (politik) dan kelompok etnik lainnya.

“Situasi ini pasti akan menjadi tak tertahankan bagi (etnik) Tajik dan (etnik) Uzbek, dan mereka, bersama dengan Hazara, akan kembali ke medan perang,” ancam Khalili.

Khalili berharap, dengan adanya tekanan dari komunitas global, Taliban tidak memaksakan kehendaknya kepada seluruh penduduk sehingga perang saudara dapat dihindari.

“Kami masih berjuang untuk itu dan berharap bahwa Taliban akan belajar dari (pengalaman) 1990-an dan akan siap untuk mendirikan pemerintahan yang inklusif dan menahan diri dari tirani,” lanjut Khalili.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved