Breaking News:

Berlinang Air Mata Terima Santunan Kematian Penghulu Kampung, Syarifah Ungkap Rencana

Syarifah Aini (52) dihadirkan pada upacara peringatan HUT Siak ke 22, Selasa (12/10/2021) di halaman upacara kantor Bupati Siak.

Penulis: Mayonal Putra | Editor: Ariestia
Tribun Pekanbaru/Mayonal Putra
Seorang ahli waris penghulu kampung dan 2 ahli waris tenaga honorer Pemkab Siak berfoto bersama dengan Kepala BPJS Ketenagakerjaan Siak Yori Pratama (kanan) usai menerima santunan kematian, Selasa (12/10/2021) usai upacara HUT Siak ke 22, di halaman kantor Bupati Siak. 

TRIBUNPEKANBARU.COM, SIAK - Syarifah Aini (52) dihadirkan pada upacara peringatan HUT Siak ke 22, Selasa (12/10/2021) di halaman upacara kantor Bupati Siak.

Ia merupakan istri Bahari Johari, Penghulu Tulang Timur, kecamatan Tualang yang meninggal dunia akibat kecelakaan, 17 Agustus 2021 kemarin.

Bersama Syarifah, berdiri Rusnita, istri dari Syarifuddin tenaga honor di kecamatan Siak, yang meninggal karena sakit. Kemudian terlihat pula Sri Wahyuni Hertati, istri Uan Gunawan, honorer di Dinas Pertanian yang juga belum lama ini meninggal dunia. Ketiga perempuan itu merupakan ibu rumah tangga yang ditinggal mati oleh suaminya saat mengabdi untuk kabupaten Siak. Ketiganya menjadi ahli waris suaminya yang menerima santunan sosial pada HUT Siak ke 22 tersebut.

Sesaat usai upacara, ketiga perempuan ini berbaris di lapangan itu. Secara bergantian mereka menerima uang santunan kematian. Ketiganya pun terharu, terkenang almarhum suami masing-masing.

“Saya tidak ada pekerjaan, selama ini memang berharap ke bapak, yang telah menjadi tulang punggung keluarga,” kata Syarifah dengan nada nyaris menangis kepada Tribunpekanbaru.com.

Ia menceritakan, suaminya Bahari Johari merupakan penghulu Kampung Tualang Timur. Pada 17 Agustus lalu, mengalami kecelakaan hebat di jalan raya. Akibatnya, Bahari Johari meninggal dunia setelah mengalami perawatan beberapa hari di rumah sakit.

“Tinggallah saya dan anak-anak sebanyak 5 orang. Di antaranya masih ada yang sekolah,” kata Syarifah.

Satu-satunya peninggalan sang suami adalah lahan kebun sawit sekitar 1/2 Ha. Lahan sawit tersebut sudah tidak terawat pula karena tidak ada uang. Santunan Jaminan Kematian (JKM) yang diterimanya dari BPJS Ketenagakerjaan pagi itu akan dimanfaatkan untuk merawat kebun sawit yang tidaklah seberapa banyak itu.

“Di samping kebun sawit itu ada tanah kosong kami sebidang kecil, jika cukup uang santunan ini akan kami tambah dengan tanaman sawit, sebagai bekal kami dari peninggalan bapak, untuk bertahan hidup,”
kata Syarifah dengan mata berkaca.

Ahli waris Bahari Johari ini menerima 3 jenis santunan, yakni JKM sebesar Rp 42 juta, Jaminan Hari Tua (JHT) sebanyak Rp 2,7 juta dan Jaminan Pensiun (JP) Rp 1,4 juta. Total santunan yang diterimanya mencapai Rp 46,1 juta.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved